Aplikasi Canva Dituduh Jadi Alat Propaganda Perang Rusia
Canva dituding menjadi alat propaganda perang Rusia (Foto: google play store)
KONFLIK Rusia - Ukraina membuat sejumlah perusahaan ternama menghentikan operasi bisnisnya di Rusia. Tapi, Canva belum sepenuhnya melakukan penghentian operasi di Rusia, ini kemudian menuai demo dari masyarakat.
Sedikit informasi, Canva merupakan software desain yang cukup populer. Bahkan valuasinya menembus angka USD 55 miliar. Pendiri Canva, Melanie Perkins pun menjadi salah satu orang terkaya di Australia.
Baca Juga:
Google 'Batasi' Layanan Play Store di Rusia
Sejumlah pendemo mendatangi kantor Canva yang bertempat di Sydney, Australia. Para pendemo itu menginginkan Canva sepenuhnya pergi dari Rusia.
Seperti yang dikutip dari laman dailymail, berbekal poster dan megafon, para pengunjuk rasa meneriakkan 'Canva hentikan pendanaan perang' atau 'mundur sepenuhnya dari Rusia'
Sebenarnya Canva sudah menghentikan layanannya di Rusia, tapi software mereka masih bisa digunakan. Cliff Obrecht, suami Melanie Perkins yang juga turut berperan mendirikan Canva, menjelaskan alasannya mengapa Canva masih beroperasi di Rusia. Dia bahkan mengecam konflik Rusia - Ukraina.
"Seperti miliaran orang di seluruh dunia, kami menentang perang di Ukraina dan mengutuk keras agresi Rusia yang ilegal," tulis pernyataannya seperti yang dikutip dari laman DailyMail.
Baca Juga:
Menurutnya, Canva masih bisa dipakai agar orang Rusia bisa membuat desain anti perang. "Template pro perdamaian kami telah dipakai lebih dari 275 ribu kali sejak awal perang," ujar Cliff.
Cliff berharap, bahwa Canva bisa menyediakan bagi warga Rusia platform untuk mengkomunikasikan perlawanan mereka terhadap perang, dan bergabung dengan panggilan untuk perdamaian.
Meski begitu, engineer software asal Ukraina Uvi Levitski, mengatakan bahwa ada sejumlah orang yang memakai Canva untuk mendukung perang Rusia.
"Tidak masuk akal untuk berasumsi bahwa dengan tidak adanya moderasi konten pribadi, jumlah materi pro-perang yang dibuat menggunakan Canva oleh pengguna di Rusia, akan lebih banyak dibanding materi anti-perang, ini menguntungkan mesin propaganda Kremin," kata Levitskii pada Guardian. (Ryn)
Baca Juga:
Setelah Samsung dan Apple, Giliran Microsoft yang Hentikan Bisnis di Rusia
Bagikan
Berita Terkait
Desain Samsung Galaxy A57 Terungkap di TENAA, Lebih Ramping dengan Kamera Baru
OPPO Find N6 Kantongi Sejumlah Sertifikasi, Peluncuran Global Makin Dekat
POCO X8 Pro Iron Man Edition Muncul di NBTC Thailand, Peluncuran Semakin Dekat
Samsung Galaxy S26 Disebut tak Lagi Punya Memori 128GB, Bocoran Retailer Ungkap Detailnya
OPPO Reno15 Series Resmi Meluncur, Hadirkan Pengalaman Kreatif Reno Land di M Bloc
Bocoran OPPO Find X10, Digadang-gadang Bakal Bawa Kamera Telefoto Periskop 200MP
Tampilan OPPO Find X9 Ultra Terungkap, Andalkan Kamera Super 200MP
Kamera OPPO Reno 15 Pro Max Jadi Andalan, Pakai Sensor 200 MP dan Ultra-wide 50 MP
Samsung Galaxy S26 Plus Muncul di Geekbench, Gunakan Chip Exynos 2600
Siri iOS 27: Si Chatbot Sakti Apple yang Bikin ChatGPT Kelihatan Jadul dan Kuno