Apa sih Guna Sejarah? Dari Mengangkat Orang-Orang Kecil sampai Fondasi untuk Bangun Masa Depan

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Rabu, 08 Januari 2025
Apa sih Guna Sejarah? Dari Mengangkat Orang-Orang Kecil sampai Fondasi untuk Bangun Masa Depan

Belajar sejarah berguna supaya kita enggak mengulangi kesalahan orang dulu-dulu sekaligus juga bisa meneladani kebaikan-kebaikan para pendahulu. (Foto: Pexels/Pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Halo, Guys! Balik lagi bersama tim redaksi MP buat melanjutkan bahasan tentang ilmu sejarah yang diajarkan dalam kelas X SMA.

Kemarin-kemarin kita sudah bahas tentang apa itu sejarah, pengertian, dan istilah-istilah yang berkaitan dengan sejarah. Kali ini kita bakal bahas apa guna sejarah.

Pernah enggak kamu kepikiran atau bertanya-tanya, buat apa sih kita belajar sejarah? atau kenapa ya sejarah jadi pelajaran di sekolah? Padahal banyak orang bilang bahwa kita harus move-on dari masa lalu.

Apa dengan belajar sejarah itu artinya kita terjebak pada masa lalu dan suka mengenang masa lalu?

Seperti yang sudah kita bahas, enggak semua hal pada masa lalu itu sejarah. Ada hal-hal penting, ada pula yang enggak penting.

Baca juga:

Apa Itu Sejarah, Pengertian, dan Asal-Usulnya: Cerita Seru di Balik Masa Lalu Kita!

Pepatah Historia Magistra Vitae

Hal-hal penting itu biasanya yang bikin kita, bangsa kita, atau bangsa lain di dunia, berubah atau menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Lalu dampaknya terasa sampai sekarang. Nah, usaha buat memahami hal-hal itulah yang jadi bagian pelajaran sejarah.

Dan dari mempelajari sejarah, kita bisa jadi tahu hal-hal jelek apa yang sebaiknya kita hindari dan hal-hal bagus apa yang bisa kita lanjutkan.

Sampai-sampai ada pepatah terkenal yang diucapkan oleh Cicero, filsuf Romawi. Bunyinya, 'historia magistra vitae' atau 'sejarah adalah pedoman hidup'.

cicero filsuf romawi sejarah
Ada pepatah terkenal yang diucapkan oleh Cicero, filsuf Romawi, bunyinya, 'historia magistra vitae'. (Foto: wikimedia.org)

Maksud ucapan Cicero, belajar sejarah berguna supaya kita enggak mengulangi kesalahan orang dulu-dulu sekaligus juga bisa meneladani kebaikan-kebaikan para pendahulu.

"Sejarah yang bisa dijadikan pedoman hidup, terutama menyangkut pengalaman 'orang-orang besar' dalam sejarah," kata Edy Suparjan dalam Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa.

Orang-orang besar artinya mereka yang punya posisi bagus di masyarakat kayak raja, sultan, bangsawan, dan sebagainya. Contohnya Sultan Iskandar Muda dari Aceh, Sultan Hasanuddin dari Makassar, dan Sultan Agung dari Mataram.

Baca juga:

Pemakaman Giriloyo, Makam Gaib Sultan Agung dan Keluarga

Mengangkat Orang-Orang Kecil dan Dilupakan

Namun yang perlu diingat, sejarah itu bukan hanya kisah orang-orang besar. Orang-orang kecil pun bisa membuat sejarah.

Dalam sejarah Indonesia, petani Banten ikut berjasa melawan kolonialisme dan penindasan Belanda pada 1888.

Karena pentingnya nilai dan dampak perjuangan petani Banten, sejarawan Indonesia berrnama Sartono Kartodirdjo yang belajar di Universitas Amsterdam Belanda menjadikan peristiwa itu sebagai tema penulisan karya disertasinya atau tugas akhir untuk jenjang S3.

Karya Sartono lalu diterbitkan jadi buku yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.

Melalui karya Sartono ini, kita jadi tahu bahwa enggak selamanya hidup di perdesaan itu nyaman dan sentosa. Petani juga enggak bisa dibilang selamanya pasif menerima nasib. Mereka ternyata aktif memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Ada masanya juga hidup di perdesaan dan jadi petani harus menghadapi banyak masalah dan penindasan. Beda jauh kan dari bayangan kita tentang desa yang aman, tenang, damai, dan sentosa?

Selain orang-orang kecil, guna sejarah juga buat mengangkat peran orang-orang yang selama ini dilupakan. Misalnya kelompok disabilitas.

Di Amerika Serikat, ada film dokumenter yang berjudul Crip Camp: A Disability Revolution. Kisahnya tentang perjuangan kawan-kawan disabilitas untuk mencapai kehidupan yang setara dan lebih baik pada 1970-an.

Mereka semula berkumpul Camp Jened, sebuah perkemahan musim panas di New York. Di sinilah para remaja dengan disabilitas menemukan kebebasan dan persaudaraan yang enggak mereka rasakan di luar sana.

Camp Jened lalu menjadi tempat tumbuhnya inspirasi dan keberanian mereka untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Upaya mereka akhirnya berbuah manis, yaitu lahirnya Undang-Undang Penyandang Disabilitas Amerika (ADA) tahun 1990 yang mengubah cara pandang dan perlakuan orang Amerika terhadap kawan-kawan disabilitas.

Dari perjuangan kawan-kawan disabilitas itu, kita jadi paham sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah juga cerita tentang bagaimana kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik.

crip camp
Guna sejarah juga buat mengangkat peran orang-orang yang selama ini dilupakan seperti dapat ditonton dalam film Crip Camp (Foto: YouTube/Netflix)

Ini sama kayak di Inggris. Jaipreet Virdi, seorang sejarawan, bilang bahwa “Sejarah disabilitas seringkali tersembunyi di balik cerita-cerita tokoh besar, membuat kita lupa bahwa mereka juga bagian dari cerita bangsa ini.”

Begitu kata Virdi dalam artikelnya "How can we write the history of disability?" yang dimuat di buku What is History, Now.

Karena itulah, sejarah enggak pernah berhenti dipelajari.

"Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang di semua peradaban dan sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu," kata Kuntowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah.

Baca juga:

Film Pengkhianatan G30S/PKI, Film Sejarah Versi Orba

Guna Sejarah Menurut Kuntowijoyo

Nah, Kuntowijoyo pun membagi guna sejarah jadi dua, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.

Pertama, guna intrinsik. Maksudnya, guna sejarah yang sudah ada dalam dirinya sendiri.

Bayangkan, sejarah itu ibarat harta karun. Guna sejarah intrinsik adalah nilai yang ada dalam sejarah itu sendiri, semacam isi dari harta karun tersebut.

Jadi, tanpa perlu dipoles atau diubah, sejarah punya nilai karena dia menceritakan kisah-kisah yang membentuk siapa kita.

Menurut Kuntowijoyo, sejarah intrinsik mengajarkan kita untuk memahami identitas dan jati diri bangsa. Dengan menggali sejarah, kita bisa belajar tentang perjalanan panjang sebuah komunitas, mengapa kita seperti ini, dan nilai-nilai apa yang harus dijaga.

Kedua, guna ekstrinsik. Ini berarti guna sejarah di luar dirinya. Guna ekstrinsik itu ibarat bonus menggiurkan dari harta karun. Nilainya terletak pada dampak atau manfaat yang didapat saat kita menggunakan sejarah untuk tujuan tertentu.

Misalnya, saat kita gunakan sejarah untuk mendukung pembangunan karakter, kebijakan publik, atau pendidikan.

Bahkan menurut Kuntowijoyo, guna sejarah ekstrinsik itu membimbing kita jadi orang kreatif. Karena kita diajarin untuk melihat sebab-sebab perubahan atau terjadinya peristiwa dari berbagai hal (plurikausal). Enggak cuma satu sebab aja (monokausal).

kuntowijoyo
Kuntowijoyo pun membagi guna sejarah jadi dua, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. (Foto: Hendaru Tri Hanggoro)

"Sejarah harus berpikir plurikausal, yang menjadi penyebab itu banyak. Dengan demikian, ia akan melihat segala sesuatu mempunyai banyak segi," kata Kuntowijoyo.

Bagi Kuntowijoyo, sejarah bisa menjadi alat yang tepat untuk membangun fondasi demi kemajuan bangsa. Sejarah membantu kita belajar dari kesalahan masa lalu dan menginspirasi langkah menuju masa depan.

Setelah paham guna sejarah secara intrinsik dan ekstrinsik, kita bisa melihat sejarah itu ternyata enggak hanya sekedar cerita lama yang ada di buku doang.

Sejarah ternyata juga punya peran ganda yang sangat berharga, sebagai penjaga identitas dan juga sebagai alat perubahan.

Kuntowijoyo mengajarkan kita untuk melihat sejarah dengan cara yang lebih kaya dan kreatif. Sejarah enggak berhenti di buku, tetapi terus mengalir dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya lewat film dokumenter.

Dari bahasan ini kelihatan jelas bahwa belajar sejarah bukan berarti terjebak pada masa lalu. Guna sejarah pun bukan buat kita mengenang masa lalu.

Sejarah berguna untuk memahami mengapa sekarang kita jadi begini dan sampai di titik ini dan kelak menjadi bekal kita melangkah ke depan.

Sampai sini jadi paham kan apa guna sejarah?

Kalau belum paham, kamu bisa membacanya lagi pelan-pelan. Kalau kamu suka artikel ini dan jadi lebih paham, boleh dong di-share ke temanmu.

Habis ini, kita lanjut lagi ke bahasan seru lainnya! (dru)

#Sejarah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Olahraga
Tanjung Verde Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026, Debutan tak Terkalahkan Lolos ke 32 Besar
Tanjung Verde mencetak sejarah dengan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Mereka menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah mencapainya.
Soffi Amira - Sabtu, 27 Juni 2026
Tanjung Verde Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026, Debutan tak Terkalahkan Lolos ke 32 Besar
Fun
Keluarga Bos Bir Dunia Berebut Warisan Lanjut di Historis House of Guinness Musim ke-2
Netflix resmi mengumumkan kelanjutan serial drama historis House of Guinness ke musim kedua.
Wisnu Cipto - Sabtu, 13 Juni 2026
Keluarga Bos Bir Dunia Berebut Warisan Lanjut di Historis House of Guinness Musim ke-2
Olahraga
Piala Dunia 2026 Dibuka di Stadion Azteca, Saksi Kejayaan Pele dan Kontroversi 'Hand of God' Diego Maradona
Stadion Azteca akan membuka Piala Dunia 2026. Stadion tersebut menyimpan banyak momen bersejarah selama gelaran Piala Dunia.
Soffi Amira - Kamis, 11 Juni 2026
Piala Dunia 2026 Dibuka di Stadion Azteca, Saksi Kejayaan Pele dan Kontroversi 'Hand of God' Diego Maradona
Lifestyle
21 Mei Memperingati Hari Apa? Soeharto Mengundurkan Diri dari Jabatan Presiden RI
Tanggal 21 Mei memperingati Hari Reformasi Nasional, Hari Teh Internasional, hingga sejarah berdirinya FIFA. Simak daftar peristiwa pentingnya lengkap di sini
ImanK - Rabu, 20 Mei 2026
21 Mei Memperingati Hari Apa? Soeharto Mengundurkan Diri dari Jabatan Presiden RI
Lifestyle
12 Mei Memperingati Hari Apa? Ada Tragedi Trisakti hingga Gempa Sichuan 2008
12 Mei memperingati berbagai hari penting nasional dan internasional, mulai dari Tragedi Trisakti, Hari Perawat Internasional, hingga Hari Waisak. Simak sejarahnya
ImanK - Senin, 11 Mei 2026
12 Mei Memperingati Hari Apa? Ada Tragedi Trisakti hingga Gempa Sichuan 2008
Lifestyle
7 Mei Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Mengejutkan yang Jarang Diketahui
Tanggal 7 Mei memperingati apa? Simak 10 peristiwa penting, Hari Perjanjian Roem-Royen, Hari Kopi Nasional, hingga peringatan dunia yang jarang diketahui.
ImanK - Rabu, 06 Mei 2026
7 Mei Memperingati Hari Apa? Ini Fakta Mengejutkan yang Jarang Diketahui
Lifestyle
5 Mei Memperingati Hari Apa? Dari Kelahiran Karl Marx hingga Wafatnya Didi Kempot
5 Mei memperingati berbagai hari penting seperti Hari Bidan Internasional, Hari Kebersihan Tangan Sedunia, hingga Hari Lembaga Sosial Desa. Simak ulasannya
ImanK - Senin, 04 Mei 2026
5 Mei Memperingati Hari Apa? Dari Kelahiran Karl Marx hingga Wafatnya Didi Kempot
Lifestyle
4 Mei Memperingati Apa? Dari Star Wars Day hingga Hari Lahir Cesc Fabregas
Tanggal 4 Mei memperingati Hari Pemadam Kebakaran Internasional hingga Star Wars Day. Simak daftar lengkap peristiwa penting di Indonesia dan dunia.
ImanK - Minggu, 03 Mei 2026
4 Mei Memperingati Apa? Dari Star Wars Day hingga Hari Lahir Cesc Fabregas
Olahraga
Rekor Gol Penalti Tercepat dalam Sejarah Final Piala Dunia Masih Dipegang Johan Neeskens Saat Belanda vs Jerman Barat
Gol Neeskens tersebut tercatat sebagai gol tercepat yang pernah tercipta dalam sebuah laga final Piala Dunia pria hingga saat ini
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 04 April 2026
Rekor Gol Penalti Tercepat dalam Sejarah Final Piala Dunia Masih Dipegang Johan Neeskens Saat Belanda vs Jerman Barat
Fun
Jejak Kopi Tertua di Semarang, Warisan Rasa Sejak 1915
Bekas pabrik kopi legendaris Koffie Branderij Margo Redjo, yang berdiri sejak 1915, tetap hidup dan kini menjelma sebagai Dharma Boutique Roastery.
Wisnu Cipto - Minggu, 22 Maret 2026
Jejak Kopi Tertua di Semarang, Warisan Rasa Sejak 1915
Bagikan