MerahPutih.com – Selandia Baru mencatat kasus pertama flu burung H5N1 pada seekor burung laut liar di Pantai Petone, Wellington, Rabu (15/7).
Temuan ini menandai masuknya virus mematikan itu ke negara yang sebelumnya dianggap aman berkat isolasi geografisnya.
Baca juga:
Jerman Dilanda Wabah Flu Burung H5N1, 500 Ribu Unggas Dimusnahkan
Kepala Petugas Veteriner Kementerian Industri Primer Selandia Baru, Mary van Andel, mengatakan temuan ini berpotensi memicu menjadi pandemi berskala masif hanya dalam hitungan bulan ke depan
Virus ini bisa menular ke manusia, meski kasusnya jarang,
Kepala Petugas Veteriner Kementerian Industri Primer, Mary van Andel
Langkah Antisipasi Negara Kemungkinan Besar Gagal
Menurut dia, upaya pemberantasan yang dilakukan saat ini kemungkinan tidak akan berhasil jika virus menetap di populasi satwa liar.
Padahal Selandia Baru sendiri sebetulnya telah mempersiapkan diri sejak virus menyebar ke Australia dan berbagai negara lain.
Dilansir Antara, Departemen Konservasi telah memulai vaksinasi terhadap 300 ekor burung indukan dari lima spesies paling terancam punah, termasuk kakapo dan takahe.
Baca juga:
Burung Migrasi di Semenanjung Fleurieu Positif Virus H5, Australia Waspada Penuh
Ancaman Endemik di Satwa Liar
Profesor Dianne Brunton dari Universitas Auckland menegaskan isolasi geografis Selandia Baru tidak cukup untuk menghalangi masuknya virus.
Meski belum ada bukti kematian massal satwa liar maupun penularan antarburung, para ahli memperingatkan H5N1 kemungkinan akan menetap seiring waktu.
Isolasi Selandia Baru tidak akan mampu menghalangi masuknya virus burung mematikan ini,
Profesor Universitas Auckland Dianne Brunton
Ancaman Krisis Ekologi Berskala Besar
Kasus temuan infeksi flu burung ini menimbulkan kekhawatiran besar karena Selandia Baru memiliki banyak spesies endemik yang rentan.
Baca juga:
6 Paus Pilot Mati Terdampar di Pantai Terpencil Selandia Baru, 15 Ekor masih Berusaha Diselamatkan
Ahli virologi Universitas Otago Profesor Jemma Geoghegan menegaskan pengujian cepat, pengurutan genom, dan pemantauan ketat terhadap burung liar kini menjadi sangat krusial.
Jika H5N1 menetap, dampaknya bukan hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga ekosistem dan konservasi satwa liar.
Epidemiolog Universitas Massey, Nigel French, memperingatkan populasi burung kecil dan langka seperti camar peri (fairy tern) bisa punah jika virus menyebar. (*)

