SEORANG musisi pop asal Malaysia yang kini menetap di New York, a kid named rufus, kembali dengan karya terbarunya berupa album perdana bertajuk whatever works melalui label Nettwerk.
Lagu-lagu dalam album perdana a kid named rufus ini menandakan langkah sekaligus kemajuan yang besar, baik secara sonik maupun lirik dan menjadi momentum Rufus memperkuat identitas artistik dan pribadinya saat memilih untuk menetap di Amerika Serikat.
Baca juga:
Teddy Adhitya Lepas Karya Pertamanya di 2023
Lihat postingan ini di Instagram
“Aku mulai menulis album ini pada musim panas setelah tahun pertama kuliah, dan aku ingin membicarakan seberapa besar kehidupanku telah berubah dan berapa banyak hal yang harus aku hadapi setelah lulus SMA, datang dari negara yang berbeda, di tengah puncak pandemi global,” ucap Rufus dalam keterangan resi yang diterima Merah Putih, Minggu (16/7).
Hambatan dalam perjalanan a kid named rufus tercermin dalam album perdananya yang terasa tulus dan terdengar serba catchy. Koleksi lagu-lagu pada album ini adalah perwujudan yang luar biasa dari gayanya yang terus menantang batasan yang ada.
Adapun lirik-lirik meditatif yang ia tulis menggambarkan hari-hari sulit memasuki masa dewasa. whatever works adalah kumpulan lagu yang penuh warna dan juga mencolok, membahas topik topik tentang queerness, identitas, rasa rindu akan rumah, kehidupan dewasa, cinta, hasrat, culture shock, dan banyak lagi.
Tetapi yang paling penting, album ini mencerminkan perjuangan dan pertumbuhan pribadi yang telah dilalui Rufus hingga saat ini.
“Membuat album ini adalah proses yang paling menakutkan namun paling memuaskan yang pernah aku jalani, dan aku sangat bangga dengan karya yang aku ciptakan. Aku tidak sabar untuk orang-orang mendengarkan album ini,” lanjut Rufus.
Baca juga:
Lihat postingan ini di Instagram
Single utama dari perilisan album ini berjudul running away from whatever you call paradise, adalah lagu yang menggabungkan berbagai macam elemen musik indie/pop-alternatif dengan storytelling yang menyentuh ranah introspeksi diri dan juga penemuan jati diri seseorang di masa perkuliahan.
“Mencoba menghadapi rasa anxiety yang kumiliki, jatuh cinta dan putus cinta, mengungkapkan diri sebagai queer, ketakutanku terhadap dunia, dan segala hal yang mungkin dipikirkan oleh seorang remaja yang tinggal sendiri untuk pertama kalinya,” pungkas Rufus. (far)
Baca juga: