Merahputih.com - Bayangkan empat ton garam ditebar langsung dari atas awan. Inilah manuver nyata yang baru saja dilakukan untuk 'mencuci' langit Jakarta dan sekitarnya dari kepungan polusi.
Hingga 25 Oktober 2026, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan terus dilakukan sebagai intervensi langsung terhadap kualitas udara ibu kota yang kerap bikin resah.
Lewat empat sorti penerbangan intensif, upaya penyemaian awan ini bukan sekadar coba-coba. Ini adalah kolaborasi teknis yang dirancang khusus agar polutan di udara bisa luruh terbawa air hujan.
Baca juga:
Efek Modifikasi Cuaca, Polusi Turun Drastis di Hari Pertama Jakarta Running Festival 2026
Di Balik Layar Penyemaian Awan Jabodetabek
Menciptakan hujan tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, membocorkan bahwa keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang lembap serta adanya massa udara konvektif.

Faktor alam inilah yang menjadi celah bagi tim cuaca untuk memicu potensi hujan secara maksimal di langit Jabodetabek.
Aksi puncaknya terjadi pada Jumat (23/10). Dengan basis posko komando di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, BMKG mengerahkan pesawat Cessna Caravan C208B bernomor registrasi PK-SNH.
Pesawat ini terbang mengudara di ketinggian 10.000 hingga 11.000 kaki (sekitar 3.000-an meter) untuk memburu awan-awan potensial. Rute penyemaiannya pun cukup strategis:
-
Penerbangan pertama: Langsung menargetkan kawasan Jakarta Selatan, Bekasi, Depok, dan Bogor.
-
Penerbangan kedua: Berfokus total untuk mengguyur wilayah Bogor.
Hasilnya? Pantauan citra radar BMKG dan laporan visual di lapangan pada sore hingga malam hari mencatat turunnya hujan di sejumlah titik vital, terutama di kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Apakah Hujan Cukup untuk Menghapus Polusi?
Sinergi antara BMKG dan BPBD DKI Jakarta yang berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Oktober 2026 ini memang menargetkan pencucian udara lewat hujan. Tapi, mari bicara realita.
Meski hujan sangat membantu, rintik air tidak lantas menyapu bersih seluruh partikel jahat di udara. BMKG dengan tegas menjelaskan bahwa efektivitas hujan dalam membilas polutan sangat bergantung pada seberapa deras intensitasnya dan apa saja karakteristik racun yang melayang di udara saat itu.
Baca juga:
Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Oktober 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat hingga Banjir Rob
Artinya, operasi modifikasi cuaca ini adalah alat bantu mitigasi darurat, sebuah jalan pintas sementara untuk melegakan paru-paru warga.
Untuk solusi jangka panjang, PR terbesarnya tetap ada pada kita semua: mengendalikan emisi gas buang dan membatasi sumber polusi dari akarnya agar kualitas udara bisa benar-benar pulih secara berkelanjutan. (Knu)