TERDENGAR sepele bagi orang dewasa. Namun, beberapa kalimat simpel yang sering ditemukan di dalam lingkungan para pelajar ini mampu berdampak pada kondisi mental mereka lho. Seperti kalimat ringan "Nilai UTS kamu harus dapet seratus ya!", "Lihat tuh anak tetangga bisa ranking 1, masa kamu nggak!", "main HP aja kerjaannya, belajar dong biar pinter!" yang biasa diungkapkan keluarga.
Tak hanya keluarga, teman seperjuangan dengan teganya bisa juga melontarkan kalimat "gua aja bisa, masa pelajaran gini doang aja lo gabisa!". Kalimat-kalimat tersebut benar-benar mengganggu mental pelajar.
Baca juga:
Kecemasan dalam usaha memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya tidak jarang mampu menimbulkan kecemasan (anxiety) yang mampu menjalar kepada gangguan stres bagi para pelajar. Berikut merupakan beberapa jenis stress yang biasanya dihadapi oleh para pelajar!
1. Sensitif berlebihan
Sering dikonotasikan sebagai perilaku "lebay" atau "baperan", memang seringkali remaja bertindak sangat sensitif yang bisa berujung ke emosi, membesar-besarkan masalah, hingga terlalu sering bertanya.
Dilansir dari healthline, terlalu sensitif atau yang disebut sebagai Highly Sensitive Person (HSP) bukan merupakan sebuah gangguan kesehatan mental, melainkan salah satu personalitas yang dikenal sebagai Sensory-Processing Sensitivity (SPS). Personalitas SPS ini mampu menjawab beberapa perilaku remaja yang sering bertanya dan dianggap suka membesar-besarkan masalah.
Dari situs Healthline, terdapat sebuah pengalaman yang dialami oleh orang yang memiliki personalitas SPS. Ketika duduk di bangku TK, guru sekolahnya mengajarkan untuk mengangkat tangan sebelum bertanya. Karena sering memperhatikan ekspresi wajah gurunya seperti menaikkan alis yang menandakan gurunya sedang kebingungan, ia akan selalu berkata "bolehkah aku bertanya?" sebelum melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya.
Baca juga:
Tidak Melulu Buruk, Stres Juga Punya Manfaat untuk Kesehatan Tubuh
Pertanyaan juga sering dilontarkan saat sang guru berbicara terlalu cepat ketika sedang tidak sabar, atau berbicara dengan nada agak tinggi ketika sedang marah, Pada awalnya, sang guru akan merespon dengan penuh empati.
Namun, ketika perilaku ini dilakukan berkali-kali, sang guru mengatakan "Apakah kamu tidak memperhatikan ketika diberikan instruksi pada hari pertama?". Semenjak itu, ia dicap sebagai orang yang sulit mendengarkan orang lain dan dicap sebagai orang yang caper oleh teman-teman sekelasnya.
2. Depresi
Dilansir dari bestcollege.com, depresi merupakan alasan nomor satu para pelajar keluar dari sekolah. Mulai dari masalah keluarga, perundungan di sekolah, maupun usaha untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Tidak jarang depresi mampu mengarah pada perilaku suicidal atau percobaan bunuh diri.
Depresi bisa dimulai dari memenuhi ekspektasi orang tua untuk mendapatkan nilai yang baik disekolahnya, sering dimarahi guru atau orang tua, dimusuhi teman-temannya, atau memiliki masalah internal yang harus segera ditangani oleh profesional.
3. Gangguan pola makan
Dalam lingkungan sekolah, bukan hal yang aneh jika seseorang sering diejek dari segi fisik. Ini bisa jadi merupakan sumber stres seseorang, yaitu dengan usaha untuk diet agar tidak diejek oleh teman sebayanya. Fenomena ini bisa membuat para remaja memiliki gangguan pola makan karena berusaha untuk selalu menguruskan diri tanpa memikirkan kesehatan terlebih dahulu. (shn)
Baca juga:
Milenial, Ini Dia Cara Ampuh Atasi Stres Akibat Permasalahan dalam Berteman