FILM Netflix 20th Century Girl sukses membuat para penonton mampu merasakan patah hati dan menangis tersedu-sedu. Film Korea Selatan ini bahkan masih menjadi buah bibir hingga saat ini. Film 20th Century Girl mengisahkan cinta pertama yang menyakitkan, tapi tetap menggetarkan hati. Na Bora (diperankan Kim Yoo-jung), gadis 17 tahun, jatuh cinta pada 1999. Kisah cintanya menjadi amat menyentuh.
Pada suatu hari di musim dingin, Na Bora menemukan sebuah rekaman video berisi kenangannya dari tahun 1999, ketika dia menjadi sosok dewi asmara untuk membantu sahabatnya, Yeon Doo (Noh Yoon-seo). Demi sang sahabat yang harus pergi jauh untuk operasi jantung, ia memata-matai sosok laki-laki yang disukai sahabatnya tersebut yakni, Baek Hyun-jin (Park Jung-woo). Sebuah kisah yang terdengar biasa saja. Namun, plot twist terjadi.
BACA JUGA:
Film dan Serial Netflix di Oktober 2022, Catat Tanggal Mainnya
Ternyata sosok yang dimata-matainya selama ini ialah orang yang keliru. Yoon-seo salah mengenali Poong Woon-ho (Byun Woo-seok), sahabat Hyun-jin, sebagai pria idamannya. Saat perasaan cinta Bora bersemi untuk Woon-ho, Yoon-seo kembali. Mengungkap bahwa orang yang ia sukai sebenarnya ialah Wooh-ho, bukan Hyun-jin. Kisah cinta Bora dan Woon-ho pun menjadi makin rumit.
Film karya sutradara Bang Woo-ri ini sempat menjadi trending di Twitter dan masuk Top 10 Movies Netflix Indonesia. Seperti dilansir Soompi Woo-ri mengungkapkan bahwa kisah 20th Century Girl awalnya dimulai sebagai film autobiografi.
“Saya belum menikah, sedangkan teman-temann saya sudah menikah dan membesarkan anak. Saya tidak dapat menyesuaikan diri dengan percakapan itu. Tapi suatu hari, teman saya mengatakan bahwa dia telah bertemu cinta pertamanya. Jadi kami mulai berbicara tentang masa lalu dan saya mengeluarkan buku harian pertukaran yang sudah lama saya simpan,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Woo-ri menjelaskan dalam buku tersebut, ia menceritakan bagaimana ia mengamati laki-laki yang disukai temannya. “Di sana ada cerita tentang bagaimana saya mengamati pria yang disukai teman saya. Memikirkannya sekarang, ini merupakan cerita yang memalukan. Namun, tapi aku membuat cerita ini dengan pemikiran bahwa itu hanya mungkin dalam periode kehidupan saat itu," ujarnya.
Ia mengungkapkan motivasi lainnya di balik film ini ialah ketertarikannya kepada film kisah cinta remaja. “Ketika saya masih muda, Cinema Paradiso yang membuat saya merasakan betapa indahnya film-film itu,” katanya.
Oleh sebab itu, ia ingin membuat sebuah film kisah cinta remaja dalam versinya sendiri. “Saya menikmati film anak muda, tetapi jika saya ingin menontonnya. Saya biasanya harus menonton film Jepang atau Taiwan. Gagasan cinta pertama serupa, tetapi budaya dan emosinya tidak sama, jadi saya ingin menonton kisah kami (sebagai orang Korea),” jelasnya.
Akhir yang tragis dari film tersebut membuat banyak penggemar turut merasakan patah hati. Ending itu dipilih karena Woo-ri berpendapat umumnya cinta pertama tidak akan berakhir bahagia. “Cinta pertama itu sentimental karena (biasanya) tidak berhasil. Namun, saya juga berpikir itu karena masa muda yang kamu habiskan bersama mereka tidak akan pernah kembali,” imbuhnya.
Untuk proyek di masa depan, Woo-ri mengatakan ia mungkin akan membuat film yang serupa dengan cerita yang hangat, yang karakternya utamanya memiliki kisah serupa dialami banyak orang.(nab)
BACA JUGA:
Tayang 16 Desember, 'Avatar: The Way of Water' akan Berdurasi Lebih dari 3 Jam