MerahPutih.com - Kapal induk pertama milik Indonesia, KRI Gajah Mada eks Giuseppe Garibaldi militer Italia kini tengah bersandar di Kolombo, Sri Lanka.
Kapal raksasa hibah dari Italia itu sedang bersiap melanjutkan pelayarannya menuju Jakarta dan dijadwalkan merapat pada 17 September 2026 sebagai bagian dari sejarah baru kedaulatan maritim nasional.
Dalam pelayarannya dari Kolombo menuju Jakarta, KRI Gajah Mada mengarungi lautan dengan mendapat pengawalan ketat dari dua kapal perang jenis Fregat TNI AL serta dukungan unsur udara dari Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal).
Baca juga:
Prabowo Siapkan KRI Gajah Mada, Bisa Tampung 10 Helikopter untuk Hadapi Karhutla
Aturan Main Pengawalan Operasi Laut Kapal Induk KRI Gajah Mada
Lantas, bagaimana sebenarnya standar operasional dan aturan main pengawalan kapal induk berukuran raksasa ini saat bertugas di perairan Indonesia kelak?
Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memberikan penjelasannya secara gamblang. Menurut dia, kapal induk KRI Gajah Mada tidak perlu dikawal kapal perang saat menjalankan operasi militer selain perang (OMSP) di Indonesia
Kalau untuk OMSP, operasi kemanusiaan, itu tidak perlu dikawal,
Kata KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, di Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Seskoal), Jakarta Selatan.

Arsip - KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali. (ANTARA/Walda Marison)
Fokus KRI Gajah Mada Misi Kemanusiaan: Raksasa Penyelamat Bencana di Lautan
Ali menjelaskan sejak awal proses akuisisi, TNI AL memang memproyeksikan penggunaan kapal induk KRI Gajah Mada untuk memprioritaskan Misi Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Menurut dia, fokus utamanya mencakup aksi penanggulangan bencana alam dan misi kemanusiaan di berbagai pelosok tanah air. Kapasitas muatan kapal eks Giuseppe Garibaldi yang sangat besar itu menjadi alasan utama.
Dengan ruang kargo dan helideck yang luas, TNI AL sanggup mengirimkan bantuan logistik skala masif, peralatan medis, hingga mendaratkan pasukan penyelamat dalam jumlah besar ke lokasi bencana dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, saat menjalankan misi OMSP di wilayah perairan Indonesia, KRI Gajah Mada dipastikan bisa bergerak mandiri tanpa harus didampingi gugus tugas kapal pengawal.
Baca juga:
Spesifikasi Kapal Induk Italia Giuseppe Garibaldi, Sejarah Namanya hingga jadi KRI Gajah Mada
Skenario Operasi Perang: Wajib Dikawal Gugus Tempur Fregat
Meski fungsi kemanusiaan menjadi porsi utama, KSAL menegaskan tidak menutup kemungkinan untuk mengerahkan KRI Gajah Mada dalam operasi militer tingkat tinggi. Baik untuk menjaga kedaulatan di dalam negeri maupun menjalankan misi diplomasi pertahanan di luar negeri.
Jika skenario berubah menjadi Operasi Militer untuk Perang (OMP), prosedur pengawalan otomatis berlaku ketat. Kapal induk tidak akan dibiarkan bergerak sendirian di area konflik.
Sesuai doktrin pertempuran laut modern, keberadaan kapal induk dalam situasi OMP akan selalu dilindungi formasi pengawal yang terdiri dari kapal-kapal Fregat dan armada tempur pendukung lainnya.
Kalau untuk kepentingan operasi militer untuk perang (OMP), kemungkinan besar pasti dikawal oleh fregat-fregat yang sudah kita miliki,
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali
(*)
Baca juga:
Jejak Pertempuran Kapal Induk KRI Gajah Mada di Bawah Militer Italia Sejak 1985