MerahPutih.com - UEFA memastikan untuk membuat sepak bola menjadi satu olahraga yang ramah bagi semua orang. Kini, UEFA tengah mengembangkan program untuk mencegah pelecehan di media sosial.
Pada program ini, UEFA akan memantau, melaporkan, serta memperbaiki kasus-kasus yang terjadi selama turnamen yang digelar, termasuk kategori remaja. Program tersebut sebelumnya sudah diluncurkan saat ajang Women’s Euro 2022 dan Women’s Euro 2025.
Sementara di Euro 2024, program ini aktif memantau 622 platform media sosial dan akun individu yang terlibat dalam turnamen tersebut. Akun yang dipantau juga termasuk pemain, pelatih, dan tim nasional yang ikut berpartisipasi.
Direktur Keberlanjutan Sosial dan Lingkungan UEFA, Michele Uva mengatakan, pihaknya akan melindungi serta mendukung pemain, pelatih, hingga wasit dari segala bentuk pelecehan.
Baca juga:
“Mereka harus bisa fokus pada performa mereka di lapangan, kemudian tidak terbebani oleh pelecehan yang tidak dapat diterima dan ditujukan kepada mereka secara online. Kami berterima kasih kepada mitra platform media sosial kami atas pendekatan proaktif mereka dan menantikan kolaborasi berkelanjutan dengan mereka," ujar Michele dikutip dari laman resmi UEFA, Senin (1/7).
Ribuan Postingan soal Euro 2024 di Media Sosial Sudah Ditinjau
Kemudian, 71% dari postingan yang dianggap "terlalu kasar" sudah ditindaklanjuti oleh pihak platform tersebut. Postingan yang dilaporkan juga segera dihapus setelah 75 menit. Lalu, tim yang paling terkena dampak sejauh ini adalah Belgia, Kroasia, Ukraina, dan Belanda.
Selanjutnya, ada sebanyak 74% postingan yang mengarah ke pemain individu, 15% ditujukan kepada pelatih, 7% menargetkan akun tim, dan 4% menargetkan wasit.
Berdasarkan pantauan melalui Facebook, Instagram, TikTok, dan Twitter pada fase grup, ditemukan jenis pelecehan yang dilakukan kepada pemain, pelatih, ofisial, serta akun lainnya.
Baca juga:
Musiala Saingi Mikautadze di Papan Top Skor Sementara Euro 2024
Setelah pertandingan, hasilnya akan dibagikan kepada Asosiasi Sepak Bola dari masing-masing timnas yang terlibat. Jadi, mereka dapat mengambil tindakan lebih lanjut untuk melaporkan konten yang dinilai tidak etis kepada otoritas penegak hukum Jerman. (*)