Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fashion

Tren Parfum 2027 Diprediksi Bergeser ke Aroma Teh Asia dan Wewangian Clean

Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 34 menit lalu

MerahPutih.com - Tren parfum di Indonesia diprediksi mengalami pergeseran pada 2027. Setelah beberapa tahun diramaikan wewangian beraroma kuat dan menyengat, pencinta parfum kini diperkirakan akan lebih menyukai aroma yang ringan, bersih, dan menenangkan.

Owner jenama parfum lokal Moen, Stefani Moen, mengungkapkan bahwa tren wewangian tahun depan akan banyak dipengaruhi konsep clean scent serta elemen budaya Asia (Asian culture).

"Tren 2027, menurut aku sudah mengarah ke clean set dan Asian culture. Asian culture yang tadinya ke arah tren Korea, nantinya trennya akan beralih ke China. Aromanya akan mengarah ke tren budaya Asia, yang banyak diambil dari wangi teh-tehan," ungkap Stefani saat ditemui di perhelatan USS, JICC, Jakarta Pusat, Jumat (6/11).

Aroma Teh China hingga Kayu Hinoki Diprediksi Populer

Stefani menjelaskan, tren parfum 2027 akan banyak mengeksplorasi notes yang terinspirasi dari alam dan budaya Asia. Pada kategori woody atau aroma kayu, misalnya, wewangian hinoki diperkirakan akan mendapat tempat, termasuk perpaduan dengan sentuhan aroma jamur yang memberikan kesan earthy atau membumi.

Sementara itu, karakter aroma teh yang diprediksi berkembang bukan berasal dari jenis teh yang umum dijumpai di Indonesia, melainkan teh khas China.

"Untuk elemen teh, akan ada notes oolong, lapsang, dan pu'er," katanya.

Selain aroma teh dan kayu, kategori floral atau bunga juga diperkirakan diramaikan oleh karakter sakura dan osmanthus.

Baca juga:

Danilla Kolaborasi dengan USUAL PARFUMS, Hadirkan Parfum Candramawa Episode 01

Pencinta Parfum Mulai Mencari Aroma yang Lebih Ringan

Menurut Stefani, pergeseran selera tersebut tidak terlepas dari kejenuhan terhadap tren parfum beraroma kuat yang mendominasi tahun-tahun sebelumnya. Kini, pencinta wewangian dinilai mulai mencari aroma yang lebih nyaman digunakan dan tidak terasa berlebihan.

Memang akan (tren) ke relaxing, enggak intimidating, dan enggak capek di hidung. Tahun lalu kan sudah 'dar-der-dor' (aroma yang menyengat), kalau sekarang orang lebih mau mencari yang clean,

Owner Moen, Stefani Moen.

Ia juga menilai tren clean scent dan Asian culture relevan dengan karakter iklim Indonesia yang tropis. Selain itu, unsur budaya Asia dinilai dekat dengan keseharian masyarakat Tanah Air.

"Cocok banget tren clean set dan Asian culture ini dengan situasi iklim Indonesia. Karena kita masih sama-sama di Asia. Menggunakan yang clean set lebih cocok ketimbang pakai yang rempah-rempah (spices)," ujarnya.

Baca juga:

USS 2026 Hadirkan Lebih dari 300 Booth, Satukan Fashion, Musik, dan Pop Culture

Pasar Parfum Lokal Terus Berkembang

Di tengah perubahan selera tersebut, antusiasme masyarakat terhadap parfum, termasuk produk dari jenama lokal, juga terus meningkat. Moen menjadi salah satu jenama yang merasakan perkembangan pasar tersebut sejak memulai perjalanan bisnis pada 2023.

"Moen hadir di 2023. Sudah tiga tahun, puji Tuhan sudah berkembang luar biasa. Apalagi market parfum di Indonesia ini sangat pesat pada periode 2025 hingga 2026," tutur Stefani.

Memasuki 2027, Stefani mengaku antusias menghadapi perkembangan tren sekaligus permintaan baru dari para pencinta parfum yang semakin berani mengeksplorasi karakter wewangian.

"Saya senang masuk 2027. Akan ada assignment (permintaan/tantangan) dari teman-teman perfume enthusiast yang unik-unik dan bisa mereka terima," katanya dengan optimistis. (Tka)

Baca Artikel Asli