MERAHPUTIH.COM — BATIK membutuhkan inovasi desain dan diversifikasi produk untuk bertahan dan relevan. Pelestarian batik tak semata mempertahankan aspek tradisionalnya. Preservasi tradisi dan inovasi batik harus berjalan beriringan. Demikian disampaikan Desainer dan National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin
Lenny mengatakan batik perlu terus beradaptasi dengan perkembangan tren fesyen agar dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk fesyen Indonesia di pasar global.
“Pelestarian tradisi dan peningkatan daya saing harus berjalan beriringan melalui inovasi dan diversifikasi produk,” kata Lenny, dikutip ANTARA, Sabtu (3/10).
Menurut dia, salah satu peluang pengembangan batik terletak pada upaya menggeser persepsi bahwa batik hanya digunakan untuk acara formal maupun seragam instansi.
Adaptasi desain dapat membuat batik lebih relevan dengan kebutuhan konsumen muda yang menginginkan produk fesyen kasual, stylish, dan nyaman digunakan sehari-hari. Ia menilai penggunaan batik pada produk seperti outer, oversized shirt, crop top hingga streetwear dapat membuka ruang pasar yang lebih luas bagi produk berbasis batik.
Baca juga:
Ragamkultura Jakarta di IFW 2026, Batik Betawi hingga Marunda Curi Perhatian Penonton
Selain desain, peningkatan daya saing juga perlu dilakukan melalui eksplorasi motif dan warna tanpa menghilangkan filosofi dasar batik. Menurutnya, penggunaan warna yang mengikuti perkembangan tren, seperti pastel dan earth tone, dapat membuat produk batik lebih mudah diterima dalam industri fesyen global.
Dari sisi kualitas, pelaku industri juga perlu meningkatkan kenyamanan bahan dan standar pengerjaan agar produk batik dapat bersaing dengan produk fesyen internasional. “Standardisasi kualitas bisa dilakukan dengan meningkatkan kenyamanan bahan, misalnya menggunakan katun premium, sutra, atau linen dan kerapian jahitan agar sebanding dengan merek internasional,” ujarnya.
Lenny menambahkan kolaborasi antara desainer modern dan perajin tradisional juga diperlukan untuk menghasilkan koleksi ready-to-wear yang tetap memiliki nilai seni sekaligus sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, pengembangan batik tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk fesyen bernilai tambah yang memiliki ruang pasar lebih luas, termasuk di pasar global.(*)
Baca juga:
Peragaan Busana Hari Batik Nasional 1.717 Pelajar di KRL Pecahkan Rekor MURI