Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Bukan Sekadar Hiasan, Ini Asal-usul Labu Berwajah Seram saat Halloween

Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 52 menit lalu

MerahPutih.com - Setiap menjelang Halloween pada 31 Oktober, labu berwarna oranye dengan ukiran wajah menyeramkan menjadi salah satu dekorasi yang paling mudah dikenali.

Bagian dalam labu biasanya dikeruk, kemudian kulitnya dibentuk menyerupai mata dan mulut. Lampu atau lilin diletakkan di dalamnya sehingga menghasilkan cahaya dengan suasana misterius.

Dekorasi tersebut dikenal sebagai jack-o'-lantern dan telah menjadi simbol populer Halloween. Hiasan ini bisa ditemukan di berbagai tempat, mulai dari rumah, pusat perbelanjaan, hingga pesta bertema horor.

Namun, penggunaan labu sebagai ikon Halloween ternyata memiliki sejarah panjang. Tradisi tersebut berawal dari kebiasaan masyarakat Eropa sebelum berkembang di Amerika Serikat.

Menariknya, labu bukanlah bahan pertama yang digunakan untuk membuat lentera berwajah menyeramkan. Masyarakat Irlandia dan Skotlandia pada masa lalu justru menggunakan lobak.

Baca juga:

Seram, Dekorasi Halloween Hiasi Pedestrian Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta

Berawal dari Tradisi Masyarakat Irlandia

Tradisi membuat lentera dari sayuran berakar pada kebiasaan masyarakat Irlandia dan wilayah Celtic lainnya di Eropa. Pada masa lalu, mereka menggunakan lobak, kentang, atau bit yang dilubangi dan diukir menyerupai wajah menyeramkan. Lilin kemudian diletakkan di bagian dalam untuk menghasilkan cahaya.

Kebiasaan tersebut berkaitan dengan festival Samhain, perayaan kuno masyarakat Celtic yang menandai berakhirnya musim panen dan datangnya musim dingin.

Menurut kepercayaan yang berkembang saat itu, batas antara dunia orang hidup dan dunia roh menjadi lebih tipis pada malam menjelang Samhain. Lentera dengan wajah menakutkan digunakan dalam tradisi untuk mengusir atau menjauhkan roh jahat.

Legenda Stingy Jack dan Asal-usul Istilah Jack-o'-Lantern

Popularitas lentera Halloween juga berkaitan dengan cerita rakyat Irlandia tentang seorang pria bernama Stingy Jack. Dalam salah satu versi legenda, Jack berkali-kali menipu iblis hingga akhirnya membuat kesepakatan agar iblis tidak mengambil jiwanya.

Ketika meninggal, Jack dikisahkan tidak diterima di surga maupun neraka. Ia pun harus mengembara dalam kegelapan dengan membawa bara api sebagai penerang. Bara tersebut diletakkan di dalam lobak yang telah dilubangi.

Tokoh Jack yang membawa lentera inilah yang kemudian dikenal sebagai Jack of the Lantern, lalu berkembang menjadi istilah jack-o'-lantern. Meski memiliki beragam versi dan berasal dari folklor, legenda tersebut menjadi salah satu penjelasan populer mengenai tradisi lentera Halloween.

Baca juga:

5 Ide Makeup Menarik untuk Halloween 2026, dari Glam Skull hingga Putri Duyung Berpesona Gelap

Mengapa Labu Menggantikan Lobak?

Labu mulai mengambil alih peran lobak ketika imigran Irlandia dan Skotlandia membawa tradisi Halloween ke Amerika Serikat pada abad ke-19. Di Amerika Utara, labu lebih mudah ditemukan dan memiliki ukuran lebih besar dibandingkan lobak yang biasa digunakan di Eropa.

Ukurannya yang besar, bentuknya yang bulat, serta bagian dalam yang relatif mudah dikeruk membuat labu lebih praktis untuk dijadikan lentera. Kulitnya juga dapat diukir menjadi berbagai bentuk, sementara warna oranyenya mudah dikenali sebagai bagian dari dekorasi musim gugur.

Seiring waktu, tradisi mengukir labu semakin populer di Amerika Serikat. Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perayaan Halloween dan menyebar ke berbagai negara melalui budaya populer, film, televisi, serta dekorasi musiman.

Makna Labu dalam Perayaan Halloween Modern

Saat ini, labu Halloween tidak selalu berkaitan dengan kepercayaan tentang roh atau dunia gaib. Bagi banyak orang, jack-o'-lantern telah berkembang menjadi simbol kreativitas, hiburan, dan kebersamaan.

Masyarakat mengukir labu dengan beragam ekspresi, mulai dari wajah menyeramkan dan senyum lebar hingga karakter lucu. Labu juga digunakan sebagai dekorasi rumah, pusat perbelanjaan, restoran, serta berbagai acara bertema Halloween.

Tradisi mengukir labu bahkan menjadi aktivitas keluarga dan komunitas. Dengan demikian, simbol yang dahulu berkaitan dengan cerita rakyat dan kepercayaan kuno kini turut menjadi bagian dari perayaan budaya yang lebih luas.

Baca juga:

5 Rekomendasi Film Horor Korea Selatan untuk Temani Halloween, Ada The Wailing hingga Exhuma!

Labu identik dengan Halloween karena perpaduan tradisi kuno, cerita rakyat Irlandia, dan perkembangan budaya di Amerika Serikat. Kebiasaan membuat lentera yang awalnya menggunakan lobak kemudian beralih ke labu karena bahan tersebut lebih mudah ditemukan dan diukir di Amerika Utara.

Dari legenda Stingy Jack hingga menjadi dekorasi populer di berbagai belahan dunia, labu berwajah menyeramkan kini menjadi salah satu simbol paling khas dari perayaan Halloween setiap 31 Oktober. (Far)

Baca Artikel Asli