Setara Institute mengungkapkan, berdasarkan riset selama 10 tahun, terjadi peningkatan peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Yogyakarta.
"Telah terjadi 35 peristiwa pelanggaran dengan 53 bentuk tindakan di Provinsi Yogyakarta," kata Halili, peneliti Setara Institute, dalam konferemsi pers di Sleman, DI Yogyakarta, Senin (27/2).
Pada tahun 2007 terjadi 2 peristiwa dan 6 tindakan. Tahun 2008 terjadi 2 peristiwa dan 6 tindakan. Tahun 2009 dengan nol peristiwa dan tindakan. Tahun 2011 terjadi 3 peristiwa dan 5 tindakan.
"Lalu, mulai menguat di tahun 2012, dengan 7 peristiwa dan 10 tindakan. Tertinggi di tahun 2015 dan 2016. Masing-masing ada 8 dan 7 peristiwa dengan 8 dan 10 tindakan," papar Halili.
Dari 53 tindakan pelanggaran, 17 di antaranya dilakukan penyelenggara negara. Dua kategori utama pelanggarannya ialah tindakan aktif dan pembiaran. "Aktor (penyelenggara negara) terbesar adalah kepolisian," papar Halili.
Berita ini merupakan laporan dari Fredy Wansyah, kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk membaca berita lainnya terkait intoleransi baca di sini: Kota Yogyakarta Daerah Intoleran Tertinggi di DIY