MerahPutih.com - Ketua Umum (Ketum) PSSI, Erick Thohir menegaskan sikap tanpa kompromi federasi dengan siap memberlakukan sanksi berat berupa pengurangan poin bagi klub-klub yang suporternya terlibat dalam aksi kerusuhan.
Ya, kita PSSI keras, tidak hanya tentu klubnya ditindaklanjuti, suporter, bahkan juga pengurangan poin yang memang harus dijalankan kalau memang kondisi ini tidak bisa dijaga keharmonisan,
Ketua Umum PSSI Erick Thohir kepada awak media.
Baca juga:
Insiden Persita vs Persija dan Insiden Bobotoh Muda Tewas
Dikutip Kamis (29/10), Erick menegaskan langkah tegas itu diambil guna memberikan efek jera yang nyata agar manajemen klub dan kelompok suporter dapat bekerja sama menjaga kondusivitas di dalam maupun luar stadion.
Penerapan sanksi potong poin itu tidak lepas dari kembali marak insiden yang melibatkan keselamatan penonton di laga BRI Super Leahue baru-baru ini.
Antara lain kerusuhan yang terjada dalam pertandingan antara Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Stadion Internasional Banten.
Dilansir Antara, insiden tewasnya bobotoh berusia 16 tahun usai laga Garudayaksa FC vs Persib di Stadion Pakansari Cibinong Bogor juga turut menjadi perhatian PSSI.
Baca juga:
Janji Perlindungan Nyawa Suporter dan Sanksi Tegas ke Klub
Kedua insiden itu menjadi alarm bahaya utama bagi keberlangsungan kompetisi. Sebagai langkah preventif, PSSI mendesak operator liga dan manajemen klub untuk memperketat instruksi pengamanan laga untuk menjamin keselamatan suporter tim kandang maupun tandang.
Terkait sanksinya, PSSI tengah menggodok aturan pengurangan poin (points deduction) bagi klub yang gagal mengendalikan aksi anarkis kelompok pendukungnya, serta memberlakukan larangan kehadiran suporter tim tamu (away fans) pada laga-laga berisiko tinggi.
Lebih jauh, Erick kembali menekankan keselamatan jiwa suporter merupakan prioritas tertinggi yang tidak boleh dikorbankan demi alasan apa pun.
Ketum PSSI menegaskan duka akibat Tragedi Kanjuruhan masa lalu harus menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh terulang kembali dalam sejarah sepak bola tanah air.
Kalau di dalam pertandingan sendiri kita sudah pernah mengalami peristiwa Kanjuruhan, saya rasa tidak bisa ditoleransi,
Ketum PSSI Erick Thohir
(*)