Merahputih.com - Prediksi IHSG hari ini menunjukkan tren pergerakan sideways karena mayoritas pelaku pasar memilih wait and see menantikan arah kebijakan The Fed.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tengah dibayangi ancaman dampak pelemahan rupiah, meskipun bursa domestik baru saja merespons positif aturan baru BEI terkait perpanjangan buyback saham.
Pada awal perdagangan, pergerakan IHSG sideways sudah terlihat jelas dengan koreksi tipis sebesar 15,13 poin (0,28%) ke level 5.357,97, sementara indeks andalan LQ45 ikut terseret turun 2,16 poin (0,10%) ke posisi 540,68.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Anjlok: Efek Domino The Fed dan Panasnya Timur Tengah
Lesunya laju bursa saham lokal sangat dipengaruhi oleh kehati-hatian investor dalam membaca sinyal pasar global, terutama jelang pertemuan krusial bank sentral Amerika Serikat.
Alhasil, uang yang beredar di pasar tertahan hingga ada kepastian lebih lanjut terkait suku bunga global dan kondisi makroekonomi dalam negeri.

Drama Suku Bunga The Fed dan Ancaman Pelemahan Rupiah
Fokus utama yang bikin pasar jalan di tempat pekan ini adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 26-27 Oktober 2026.
Banyak pihak berekspektasi The Fed bakal menahan suku bunga acuannya. Sayangnya, kepastian suku bunga hari ini belum cukup mengobati rasa haus investor akan proyeksi jangka panjang.
Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.280- 5.450,
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim.
Namun, para investor juga menantikan kejelasan mengenai arah suku bunga ke depannya. Oleh karena itu, jika The Fed memberikan sinyal akan adanya perubahan suku bunga, maka berpotensi akan menjadi katalis negatif.
Di ranah domestik, momok terbesar saat ini adalah nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global, harga minyak mentah yang meroket, dan kekhawatiran kaburnya modal asing (capital outflow).
Dampaknya tak main-main: inflasi barang impor bisa melonjak dan beban utang valas emiten makin membengkak. Situasi ini jelas mempersempit ruang gerak Bank Indonesia (BI).
"Jika rupiah masih cenderung melemah, BI berpotensi akan menaikkan BI Rate pada RDG November mendatang," tegas Ratna.
Gebrakan Otoritas: Aturan Baru BEI Sikat Manipulator Saham
Di tengah sentimen negatif global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (26/10) merilis sederet amunisi kebijakan baru untuk menjaga stabilitas pasar. Beberapa langkah strategis yang diambil meliputi:
-
Perpanjangan Buyback Saham: Emiten diizinkan melakukan pembelian kembali saham tanpa perlu repot menggelar RUPS hingga Juni 2027.
-
Perluasan Komite HSC: Komite High Shareholding Concentration diperbesar menjadi sembilan orang dengan menggandeng pihak independen, akademisi, dan investor asing agar pengawasan lebih objektif.
-
Sanksi Tegas Manipulasi Harga: BEI tak akan segan langsung merilis pengumuman dan investigasi bila terendus adanya aksi bandar atau manipulasi saham.
-
Efisiensi Suspensi & UMA: BEI akan mengurangi label Unusual Market Activity (UMA) dan suspensi saham secara umum, beralih fokus pada pembekuan langsung rekening efek milik oknum manipulator.
Kondisi Berbalik Arah: Rapor Hijau Bursa Global
Meski IHSG masih ragu-ragu melangkah, sentimen bursa global sebenarnya sedang mekar. Hal ini terlihat dari penutupan pasar pada Senin (26/10) kemarin yang kompak menghijau:
-
Wall Street (AS): S&P 500 naik 0,70%, Nasdaq Composite menguat 0,82%, dan Dow Jones terapresiasi 0,28%.
-
Eropa: Euro Stoxx 50 melesat 0,74%, FTSE 100 Inggris naik 0,72%, DAX Jerman tumbuh 0,91%, dan CAC 40 Prancis menguat 0,83%.
-
Asia (Selasa Pagi): Kospi Korea Selatan memimpin penguatan signifikan hingga 3,65% ke 5.669,17, disusul Nikkei Jepang yang melesat 1,80% ke 62.306,00. Namun, tren positif ini gagal menular ke bursa China dan sekitarnya, di mana Shanghai turun 0,19%, Hang Seng terkoreksi 0,11%, dan Straits Times melemah 0,31%.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Meroket ke 5.439! Aturan Saham HSC BEI dan Manuver Danantara Jadi Penyelamat
Para pelaku pasar kini dituntut lebih jeli meracik portofolio saham. Kombinasi antara wait and see terhadap The Fed dan antisipasi efek kebijakan baru BEI akan menjadi kunci utama dalam meraup cuan atau sekadar mengamankan modal di pasar yang serba dinamis ini.