PERTENGKARAN di antara dua kekasih wajar-wajar saja. Dalam setiap hubungan pasti ada konflik, namanya juga dua orang dengan karakter dan pemikiran yang berbeda. Hidup selalu begitu ada naik turunnya tak mungkin hanya datar saja.
Hanya saja sebuah pertengkaran yang sehat dan reda dengan pemahaman masing-masing. Kalau sebuah pertengkaran kemudian menjurus pada kekasaran atau keras, baru menjadi sebuah pertanyaan. Jangan jadikan pertengkaran sebagai kehancuran, namun jadikan sebagai sebuah penyelarasan.
Jadi bagaimana ukuran konflik kamu sehat atau tidak? Simak saja poin berikut ini.
1. Argumen yang sehat
Cobalah untuk berpikir saat pertengkaran kamu. Bagaimana kamu bertengkar. Jika kamu bertengkar secara damai seperti menghindari dari pertengkaran, kamu dalam keadaan baik. Cobalah berpikir untuk tidak menggunakan kritikan fisik ataupun menggunakan orang lain untuk menjadi tameng argumen kamu atau pasangan kamu.
2. Menyelesaikan pertengkaran
Apakah benar kamu sudah menyelesaikan pertengkaran? Coba pikir lagi sehabis bertengkar apa yang akan terjadi? Apakah kalian berdua diam, mungkin bisa makin bertengkar? Atau bahkan mengakhiri hubungan hanya karena pertengkaran kamu? Coba pikirkan baik-baik hal apa yang terjadi ketika kamu bertengkar dengannya.
Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kabur begitu saja, sama seperti hubungan percintaan. Putus hanya karena satu masalah dan bertengkar bukan cara terbaik. Penyesalan akan semakin lebih parah setelah kamu atau pasanganmu mengakhiri hubungan.
3. Ancaman?
Adakah ancaman dalam pertengkaran kamu? Atau kamu yang mengancam dia? Pada prinsipnya sama saja! Mengancam akan mempengaruhi kamu atau pasangan kamu secara fisik, emosional, dan psikis. Lebih baik kamu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, tanpa ada kekerasan yang terjadi seperti kekerasan verbal, dan bahkan fisik. (dnz)