Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Perempuan Jadi Hantu untuk Berdaya, Cermin Sosial dalam Film Horor Tanah Air

Dwi Astarini - Selasa, 05 Mei 2026

MERAHPUTIH.COM - PEREMPUAN kerap muncul sebagai sosok hantu nan menyeramkan dalam film horor Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan kondisi sosial yang masih kental dengan budaya patriarki.

Saat tampil bersama konten kreator Adjie Santosoputra dalam siniar Pulih nan Selaras, sutradara Joko Anwar mengatakan representasi tersebut berangkat dari realitas masyarakat yang masih menempatkan perempuan dalam posisi tertekan.

"Reflection of our society, perempuan seperti sebagaiman progresif apa pun, masih dalam represi patriarki," kata dia dikutip Sabtu (2/5).

Dia menyebutkan, lewat film horor, ada ironi bahwa perempuan benar-benar bisa berkekuatan ketika dia sudah tidak ada di dunia. "Bagaimana perempuan dapat berdaya kadang-kadang hanya bisa dilakukan ketika mereka sudah menjadi hantu," kata Joko.

Memaksa Ibu Menjadi Hantu karya Annisa Winda Larasati dan Justito Adiprasetio menganalisis fenomena perempuan dalam perfilman horor Tanah Air. Dalam buku tersebut diungkap selama lima dekade 1970-2020 ada total 580 judul film horor. Sebanyak 351 film menempatkan perempuan sebagai hantunya. Hal itu merupakan representasi yang signifikan, karena 60 persen dari keseluruhan judul, perempuan menjadi hantu di film yang ada.

Baca juga:

Joko Anwar Bikin 'Ghost in The Cell' Versi Teater Musikal, ini nih Cara Ikutan Audisinya



Sesuatu yang kerap kita saksikan dalam layar lebar film horor, perempuan berwujud hantu tampil sebagai kuntilanak, perempuan tua, sundel bolong, Nyi Roro Kidul, suster, hingga nenek lampir. Kuntilanak menempati karakter populer. Ditemukan di 111 judul dari 580 judul film.

Seperti yang dimaksud Joko, perempuan di film horor menjadi berdaya ketika menjadi hantu merupakan satu praktik konvensi film horor. Konvensi merupakan proyeksi bagaimana penonton mendapatkan pengalaman ketika menyaksikan film. Misalnya yang diinginkan penonton yakni menjadi takut atau ditakut-takuti.

Agar mendapatkan pengalaman tersebut, berperankan satu konvensi lain tentang bagaimana ceritanya dibangun (plot). Untuk membangun plot naratif, film horor membutuhkan 'The Monster'. Ia hadir untuk menimbulkan rasa takut, kehancuran, dan ancaman serangan karea dia memiliki kekuatan yang tak wajar, melebihi kekuatan manusia pada umumnya.

Di sinilah perempuan kemudian dikonstruksikan sebagai 'The Monster' dalam film horor. Wujudnya bisa hantu kuntilanak atau setan bermata merah yang memangsa anak-anak.

Pada titik ini, jika konvensi ini terus diproduksi berulang-ulang oleh industri film, menjadi pertanyaan, siapa yang harus berubah, masyarakat yang menonton, atau industri yang terus memproduksi narasi yang sama?(Tka)

Baca juga:

'Pengabdi Setan 3' Siap Tayang 2027, Joko Anwar Bocorkan Teaser Misterius




Baca Artikel Asli