Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pemerintah Klaim Kondisi Ekonomi Indonesia masih Kokoh di Tengah Gejolak Global

Dwi Astarini - 1 jam, 55 menit lalu

MERAHPUTIH.COM - MENTERI Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kondisi ekonomi Indonesia masih tangguh di tengah gejolak ekonomi global. Hal tersebut telah dilaporkannya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang membahas perekonomian di Istana Negara, Senin (19/10).

Ia mengatakan dinamika global masih perlu diwaspadai karena sejumlah kekuatan ekonomi utama dunia tengah menghadapi ketidakpastian.

Sebagai contoh, ia menyebutkan Amerika Serikat (AS) tengah mengalami inflasi tinggi. Inflasi September di AS mencapai 3,7 persen secara tahunan atau meningkat dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, perekonomian kawasan Eropa juga tengah menghadapi gejolak.

Risiko-risiko tersebut dinilai menjadi tantangan bagi Indonesia. Kendati demikian, Suahasil mengatakan perekonomian Indonesia masih kokoh, sebagaimana tecermin dari sejumlah indikator makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,5 persen. Sementara itu, inflasi pada September 2026 tetap terjaga di level 3,28 persen secara tahunan.

Baca juga:

Mensesneg Minta Masyarakat tak Mudah Terpengaruh Narasi Menyesatkan Terkait Kondisi Ekonomi



"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden kondisi ekonomi makro masih sangat resilient, kondisi transaksi di masyarakat juga masih sangat resilient. Jadi kita akan terus menjaga stabilitas di masa depan dan tetap mendorong pertumbuhan,” ujar Suahasil.

Lebih lanjut ia mengatakan pemerintah akan tetap menggunakan instrumen fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan dan melindungi masyarakat dari gejolak eksternal.

Suahasil menyebutkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap digunakan untuk membiayai program-program prioritas guna menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, pada saat yang sama, pemerintah juga memastikan belanja negara tetap dilaksanakan secara efisien dan tepat sasaran.

Pada kuartal IV 2026, Suahasil mengatakan belanja pemerintah diperkirakan mencapai sekitar Rp 1.300 triliun, meningkat dari Rp 1.200 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja tersebut akan diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat dan memperkuat perlindungan sosial, termasuk melalui kelanjutan program bantuan pangan.

"Dengan belanja pemerintah yang lebih tinggi, dorongan dari belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi juga akan ada efek positif. Ini yang kita cari sehingga APBN itu tidak hanya menumbuhkan ekonomi, tetapi juga melindungi masyarakat yang dilaksanakan dengan cara yang efisien sehingga tetap kredibel," jelas dia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan perekonomian Indonesia masih stabil. Hal ini tecermin dari inflasi inti pada September 2026 yang tercatat sebesar 2,84 persen secara tahunan. Inflasi inti mengukur pergerakan harga barang dan jasa di luar komponen pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah. Oleh karena itu, indikator ini kerap digunakan untuk mengukur keadaan permintaan domestik.

Namun, Destry mengatakan gejolak eksternal, terutama inflasi tinggi dan prospek bank sentral global yang masih mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi (higher for longer), menjadi tantangan bagi stabilitas rupiah.

Meski demikian, ia menegaskan BI akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar keuangan.

"Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging," tegasnya.(Asp)



Baca juga:

Dampak Ekonomi Global terhadap Indonesia pada 2026, Ini Tantangannya

Baca Artikel Asli