Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pekerjakan Orang Luar Sukoharjo, Pabrik Obat Terlarang Raup Omzet Rp 3 Miliar per Hari

Dwi Astarini - 2 jam, 25 menit lalu

MERAHPUTIH.COM - POLDA Metro Jaya membongkar pabrik pembuatan obat-obatan terlarang di Jalan Indronoto, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pabrik yang mempekerjakan orang luar Sukoharjo itu bahkan beromzet Rp 3 miliar per hari.

Bayan Wirogunan yang juga menjabat Kepala Dusun (Kadus) 1 Wirogunan, Caka Dalma Putranto, mengatakan seluruh pekerja yang beraktivitas di dalam pabrik obat ilegal beromzet miliaran rupiah tersebut diketahui berasal dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

“Itu pabrik obat terlarang mempekerjakan orang Brebes semua bukan orang dari lokal Sukoharjo. Orang lokal tidak ada sama sekali,” ujar Caka, Minggu (25/10).

Ia mengatakan penyewa pabrik juga diketahui sebagai warga Brebes. Hal itu diketahuidari dokumen perjanjian sewa-menyewa yang diperoleh perangkat desa setelah penggerebekan. Gudang disewa seorang pria berinisial D.

Baca juga:

Polda Metro Bongkar Pabrik Obat Keras di Sukoharjo, Palsukan Izin Jadi Pabrik Botol dan Kardus



Sementara itu, pemilik asli bangunan gudang tersebut ialah M, warga Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. “Penyewa dan pekerja bangunan semua warga luar Sukoharjo. Kami tidak tahui ini semua jika tidak ada penggerebekan dari Polda Metro Jaya,” katanya.

Caka menjelaskan bangunan tersebut awalnya beroperasi sebagai pabrik tas atau garmen. Namun, pada 9 September 2026, terjadi alih fungsi bangunan setelah disewa D. “Aktivitas produksi obat ilegal kami perkirakan baru berjalan sekitar satu bulan,” katanya.

Guna mengelabui lingkungan sekitar dan pemilik gedung, kata dia, aktivitas pabrik didaftarkan secara tidak resmi dengan dalih produksi kardus dan botol. "Perizinan tidak lewat desa. Izinnya itu, saya inisiatif tanya RT ternyata untuk itu, untuk kardus dan botol. Dan pemilik gedung itu katanya untuk pabrik botol. Jadi pemilik dibohongi, sampai yang lingkungan turut dibohongi," kata Caka.

Meski tidak ada warga lokal yang dipekerjakan, lanjut dia, perubahan aktivitas di dalam bangunan sempat menimbulkan kecurigaan perangkat desa. Saat saat masih menjadi pabrik tas, aktivitas operasional bangunan cenderung terbuka. Namun, sejak dikuasai kelompok pekerja asal Brebes tersebut, area gudang diubah menjadi sangat tertutup.

"Saya sempat ikut mencurigai, kan sebelumnya pabrik tas enggak tertutup, tapi kok ini tertutup. Ini sampai tertutup banner biru, plastik-plastik, ternyata ada penggerebekan," tutupnya.(Ismail/Jawa Tengah)

Baca juga:

Pabrik Sabu 1,2 Ton Dibongkar di Pidie Aceh, 11 Orang Ditangkap




Baca Artikel Asli