Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Owner PT RAI Jerry Hermawan Lo Dorong Hilirisasi Kelapa demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Yusuf Abdillah - 1 jam, 35 menit lalu

MerahPutih.com - Founder JHL Group sekaligus Owner PT Royal Agro Industri, Jerry Hermawan Lo, terus mendorong optimalisasi potensi kelapa Indonesia melalui hilirisasi atau pengolahan bahan mentah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Cita-cita besarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kelapa Indonesia.

Menurut dia, kelapa memiliki potensi ekonomi yang besar karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, industri, hingga pertanian.

Jerry menilai, potensi kelapa Indonesia tidak seharusnya berhenti pada penjualan dalam bentuk utuh. Melalui pengolahan yang tepat, satu butir kelapa dapat menghasilkan beragam produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan peluang pasar lebih luas.

Baca juga:

Aksi Nyata JHL Group Sapu Bersih Sampah Sungai Cisadane Jelang World Cleanup Day 2026

Dengan begitu, manfaat hilirisasi tidak hanya dinikmati industri pengolahan, tapi juga harus dirasakan petani sebagai pemasok bahan baku.

Kelapa itu semua bagiannya bisa dimanfaatkan,

ujar Jerry saat berkunjung ke booth Royal Agro Industri (RAI) dan Roemah Koffie di Trade Expo Indonesia, Sabtu (17/10).

Saat ini, melalui PT Royal Agro Industri, Jerry telah memiliki beberapa pabrik pengolahan kelapa. Pertama, PT Dewa Agricoco Industri (DAI) di Halmahera, Maluku Utara. Kedua, PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, Sulawesi Utara. Ketiga, PT Samuda Coco Indonesia di Sampit, Kalimantan Tengah.

Karena permintaan hasil pengolahan kelapa di dunia terus meningkat, saat ini kami sedang membangun satu pabrik lagi di Riau. Yakni, PT Garuda Coco Industri,

kata Jerry.

Nilai Ekonomi Kelapa

Ia menjelaskan, melalui pabrik-pabrik yang dinaungi PT RAI, kelapa bisa diolah menjadi berbagai hal. Daging kelapa dapat diolah menjadi santan, minyak kelapa, dan kelapa parut kering atau desiccated coconut. Sementara itu, air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, termasuk nata de coco.

Tidak hanya bagian yang dikonsumsi, sabut kelapa juga memiliki nilai ekonomi. Seratnya dapat diolah menjadi cocofiber yang digunakan untuk berbagai kebutuhan, sedangkan material sabut yang telah diproses dapat dimanfaatkan sebagai cocopeat, media tanam yang banyak digunakan dalam kegiatan hortikultura.

Baca juga:

Roemah Koffie Bawa Aroma Kopi Nusantara ke Trade Expo Indonesia 2026

Adapun tempurung kelapa dapat diolah menjadi arang untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai bahan baku produk berbasis karbon. Beragam pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa kelapa memiliki peluang pengembangan yang melampaui perdagangan komoditas mentah.

Dengan adanya industri pengolahan, kelapa memiliki peluang untuk masuk ke rantai produksi yang lebih panjang. Proses tersebut dapat menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, pengembangan produk, hingga pemasaran ke konsumen dan industri yang membutuhkan.

Libatkan Petani Lokal

Jerry mencontohkan, petani yang menjual kelapa utuh dengan harga sekitar Rp3.000 per butir berpotensi memperoleh manfaat ekonomi lebih besar apabila komoditas tersebut terserap dalam rantai industri pengolahan yang memberikan nilai tambah.

“Ini pentingnya melibatkan petani lokal dalam pengembangan hilirisasi industri kelapa,” tutur Jerry, yang juga dikenal sebagai pengusaha nasional.

Menurut dia, pengembangan industri berbasis hasil pertanian perlu berjalan seiring dengan upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat yang menghasilkan bahan bakunya.

Kemitraan yang berkelanjutan antara petani dan industri menjadi salah satu aspek penting agar manfaat ekonomi dari hilirisasi dapat dirasakan secara lebih luas.

Regenerasi Petani

Baca juga:

Beasiswa Kelapa JHL Foundation Targetkan 2.000 Mahasiswa Jadi Petani Modern Hingga Akhir 2026

Selain pengolahan, Jerry menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan perkebunan kelapa di tengah tantangan regenerasi petani. Ia menilai, potensi komoditas kelapa akan sulit dimaksimalkan apabila tidak diimbangi ketersediaan petani yang mampu menjaga pasokan bahan baku dalam jangka panjang.

Baginya, hilirisasi dan regenerasi petani merupakan dua hal yang saling berkaitan. Industri membutuhkan pasokan kelapa yang berkelanjutan, sementara petani membutuhkan kepastian pasar dan peluang ekonomi yang layak agar usaha perkebunan tetap menarik bagi generasi berikutnya.

Karena itu, pengembangan industri pengolahan kelapa perlu disertai upaya memperkuat posisi petani dalam rantai pasok.

Dengan tidak hanya menjual bahan mentah, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan lebih banyak produk turunan kelapa dan memperluas manfaat ekonominya dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, CEO PT RAI, Johanna (Anna), kepada wartawan mengatakan hilirisasi industri kelapa yang dilakukan PT Royal Agro Industri (RAI) memasuki babak baru. PT RAI berupaya meningkatkan jumlah produksinya dengan membeli alat produksi pengolahan kelapa dari Beyond, Tiongkok.

Dengan pembelian alat baru yang sangat canggih dan modern, perusahaan milik Jerry Hermawan Lo ini akan menambah jalur di pabriknya. Tentu tujuannya untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Anna menerangkan, alat-alat yang dibeli dari Beyond, Tiongkok itu akan ditempatkan di pabrik Manado, Sampit dan Riau. Karena pabrik Manado dan Sampit sudah berjalan, maka alat baru ini difungsikan untuk menambah jalur produksi. Untuk pabrik di Riau, maka alat ini akan diseting dari awal produksi.

Tahun depan (2027), semua alat baru sudah bisa digunakan untuk produksi,

tambah Anna.

Dengan alat baru ini, PT RAI akan bisa memproduksi olahan kelapa berupa 'desiccated coconut low fat', 'desiccated coconut high fat'. PT RAI juga memproduksi berbagai hasil olahan seperti, santan, arang, cocofiber, cocopeat, crude coconut oil dan lainnya.

Lebih lanjut Anna menjelaskan, nantinya kapasitas pabrik di Riau mampu mengolah 1 juta butir kelapa per hari. Sedangkan pabrik di Manado bisa mengolah 500 ribu butir kelapa per hari. Pabrik di Sampit mengolah 350 ribu per hari. Sedangkan di Maluku mampu mengolah 250 ribu per hari.

"Artinya, PT RAI memiliki kapasitas untuk mengolah 2 juta lebih butir kelapa per hari," kata dia. (Knu)

Baca Artikel Asli