MerahPutih.com - Aktris Maudy Ayunda belakangan menjadi perbincangan setelah konten YouTube miliknya berjudul Mindfulness in the Age of Bad News kembali ramai di media sosial.
Video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu membahas pengalaman Maudy dalam menghadapi derasnya berita buruk, baik yang berkaitan dengan situasi internasional maupun berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia.
Alih-alih mendapat respons positif, pembahasan tersebut justru menuai kritik dari sejumlah warganet. Maudy dinilai kurang peka karena ajakan untuk mengambil jarak sejenak dari berita buruk dianggap tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang mengalami dampak persoalan tersebut secara langsung.
Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas mengenai kesehatan mental, empati, privilese, serta bagaimana mindfulness seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah mendapat berbagai tanggapan, Maudy memberikan klarifikasi sekaligus mengakui ada perspektif penting yang belum cukup ia sampaikan dalam video tersebut.
Ia menyadari bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese, terutama bagi mereka yang kehidupannya, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya terdampak langsung oleh suatu persoalan.
Lantas, terlepas dari polemik tersebut, apa sebenarnya yang dimaksud dengan mindfulness?
Baca juga:
Memahami Mindfulness
Secara sederhana, mindfulness merupakan kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar pada saat ini, tanpa buru-buru menghakimi atau bereaksi.
Praktik ini mengajak seseorang untuk benar-benar hadir dalam momen yang sedang dijalani, alih-alih terus terjebak pada penyesalan masa lalu atau kecemasan mengenai sesuatu yang belum terjadi.
Mindfulness tidak selalu berarti duduk diam dalam waktu lama dengan mata terpejam. Kesadaran penuh juga dapat dilatih melalui berbagai aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika makan, misalnya, seseorang dapat mencoba memperhatikan rasa, tekstur, aroma, dan sensasi makanan tanpa sibuk melihat layar ponsel.
Begitu pula ketika berjalan. Seseorang dapat menyadari langkah kaki, pernapasan, suara di sekitar, hingga perubahan suasana di lingkungan.
Menciptakan Jeda di Tengah Arus Informasi
Dalam kehidupan yang dipenuhi notifikasi dan arus informasi tanpa henti, mindfulness sering digunakan sebagai cara untuk menciptakan jeda.
Seseorang tidak harus selalu memberikan perhatian kepada setiap informasi yang muncul di layar. Memilih kapan membaca berita, membatasi paparan media sosial, atau mengambil waktu untuk beristirahat dari gawai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi mental.
Namun, mindfulness bukan berarti mengabaikan persoalan yang terjadi di sekitar.
Justru, kesadaran terhadap kondisi diri dapat membantu seseorang memahami emosi sebelum memberikan respons. Dengan begitu, seseorang memiliki kesempatan untuk menentukan apakah harus bereaksi, mengambil tindakan, mencari informasi lebih lanjut, atau untuk sementara mengambil jarak agar tidak kewalahan.
Baca juga:
Mindfulness Activity Ampuh Bantu Kendalikan Kondisi Emosional
Mindfulness Bukan Berarti Apatis
Hal inilah yang kemudian menjadi penting dalam memahami perdebatan yang muncul dari konten Maudy.
Mengurangi paparan berita buruk dapat menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan mental bagi sebagian orang. Namun, pilihan tersebut tidak selalu tersedia bagi semua orang.
Bagi seseorang yang menjadi korban bencana, kehilangan pekerjaan, terdampak kebijakan, atau hidup di tengah persoalan sosial tertentu, berita buruk bukan sekadar informasi yang dapat dimatikan melalui layar.
Berita tersebut bisa menjadi bagian langsung dari kehidupan mereka.
Karena itu, mindfulness sebaiknya tidak dipahami sebagai ajakan untuk bersikap apatis. Mindfulness lebih dekat dengan upaya mengenali keadaan diri secara jujur, termasuk ketika merasa lelah, marah, takut, atau kewalahan.
Setelah mengenali kondisi tersebut, seseorang dapat menentukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi keadaan tanpa kehilangan kepedulian terhadap lingkungan.
Tetap Sadar Tanpa Kehilangan Kepedulian
Pada akhirnya, mindfulness bukan tentang menutup mata dari dunia yang sedang berisik.
Ia lebih merupakan kemampuan untuk menyadari kapan harus melihat, kapan harus mengambil tindakan, dan kapan perlu berhenti sejenak untuk mengatur kembali diri sendiri.
Di tengah derasnya informasi dan berbagai persoalan yang datang hampir bersamaan, kemampuan untuk tetap sadar sekaligus tetap peduli menjadi bagian penting dari menjaga keseimbangan. (Far)