Maarten Paes dan Senyum Sang Nenek
Rabu, 09 Oktober 2024 -
Merahputih.com - Kiper Timnas Indonesia, Maarten Vincent Paes memiliki garis keturunan dari nenek yang lahir di Pare, Kediri, Jawa Timur pada 20 Maret 1940. Sang nenek banyak mengajarkan Maarten Paes tentang budaya Indonesia sebelum kiper FC Dallas itu resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) akhir April lalu.
Maarten bercerita bahwa neneknya meninggal pada awal tahun ini karena kondisi kesehatannya yang menurun drastis saat ia mulai dihubungi PSSI pada akhir tahun lalu. Dan ketika kabar tawaran menjadi WNI datang, itu membuat neneknya tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
“Itu salah satu kenangan terakhir kami bersama. Kabar bahwa saya akan bermain untuk Indonesia membuat dia tersenyum terakhir kali,” kata kiper kelahiran Nijmegen itu dikutip Antara, Rabu (9/10).
Baca juga:
Tiba di Bahrain Hari ini, Maarten Paes Langsung Diperiksa Dokter
Maarten mengaku sang nenek adalah orang yang sangat spesial dalam hidupnya. "Kakek dan nenek saya adalah orang tua baptis saya," jelas Maarten.
“Nenek saya selalu mengajari saya tentang budaya Indonesia. Saya tahu selama beberapa tahun saya memenuhi syarat untuk bermain di tim nasional Indonesia,” tambahnya.
Kiper 26 tahun itu lalu menceritakan kesedihannya setelah neneknya tak bisa melihatnya mengenakan seragam Merah Putih.
“Pada akhirnya, itu adalah keputusan yang mudah. Dia meninggal awal tahun ini sehingga dia tidak bisa melihat debut saya,” lanjutnya.
Baca juga:
Maarten Paes Telat Gabung ke Timnas Indonesia Jelang Hadapi Bahrain
Kini, Maarten telah memiliki dua caps bersama tim Garuda dengan penampilan mengesankan, dengan banyak melakukan penyelamatan gemilang, satu di antaranya adalah menepis tendangan penalti melawan Arab Saudi.
Dua laga itu dilalui dengan tanpa adanya hambatan berarti. Ia hanya menyebut waktu terbang dari Amerika Serikat, negara tempat ia berkarier bersama FC Dallas, dan juga perbedaan waktu menjadi hambatan adaptasinya selama ini.
Namun, ia mengatakan dalam beberapa bulan ke depan semuanya akan berjalan mudah.
“Saya pikir tantangan terbesar bagi saya adalah waktu terbang dan beradaptasi dengan perbedaan waktu. Dalam dua hari, terkadang Anda harus langsung bermain. Itu tantangan besar. Tapi untungnya, saya sudah siap untuk itu," tutupnya.