MerahPutih Politik- Dualisme kepemimpinan dan konflik internal Partai Golkar antara kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono yang berlarut-larut telah berdampak pada elektabilitas Golkar. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas partai berlambang pohon beringin hal itu.
Peneliti LSI, Adian Sopa mengatakan elektabilitas Golkar merosot jauh di bawah 10 persen. Jika Pemilihan Legistalif (Pileg) dilaksanakan hari ini (saat survei dilakukan), maka elektabilitas Golkar hanya sebesar 8,4 persen. Menurut dia, elektabilitas Golkar yang kini dibawah 10 persen tersebut merupakan terendah dalam sejarah perjalanan Partai Golkar. Padahal, jika melihat perolehan suara Golkar di tiga Pemilu terakhir pasca reformasi, elektabilitas Golkar selalu di atas 10 persen.
"Pada 2004, Golkar memperoleh suara 21.58 persen, 2009 14,45 persen dan Pemilu 2014 partai Golkar masih menjadi partai besar, pemenang kedua setelah PDIP dengan perolehan suara sebesar 14,75 persen," kata Adian saat melansir hasil surveinya bertajuk "Golkar Pasca Putusan Menkumham" di kantor LSI, Jakarta, Jumat (19/12).
Menurut Adian, Jika konflik ini terus berlanjut maka Golkar bisa saja menggali kuburnya sendiri. Elektabilitas partai ini akan semakin merosot karena citra buruk yang melekat akibat konflik elit. Bahkan, Golkar terancam hana menjadi partai kelas dua atau bahkan partai gurem.
"Tidak ada pilihan lain bagi Golkar selain melakukan islah dan membenahi kembali partai bersama-sama karena konflik ini merugikan kedua kubu Golkar," pungkasnya.
Seperti diketahui, Survei LSI dilakukan pada 16-17 Desember 2014 ini menggunakan metode multistage rondom sampling dengan 1200 responden dan margin of eror sebesar +/-2,9 persen. Survei ini juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD dan in depth interview.