Merahputih.com - Gawai pintar di genggaman jemari seketika melantunkan nada-nada satir penuh kemarahan. Melodi buatan algoritma komputer sukses merajai lini masa, membawa pesan kelam mengenai nasib Bumi Cendrawasih.
Fenomena lagu Pesta Para Babi Pembangunan ini memicu perdebatan panas netizen lintas platform digital, membedah realitas pahit balik gemerlap modernisasi.
Baca juga:
Dari Sumatra Hingga Papua, Indonesia Catat Temuan 10 Spesies Baru Anggrek Langka
Karya musik digital tersebut secara gamblang mengangkat isu kondisi Papua terkini. Bait demi bait lirik menggambarkan ancaman nyata akibat eksploitasi sumber daya alam serta masifnya proyek pembangunan infrastruktur.
Pesta Para Babi Pembangunan sendiri lahir dari sosok anonim yang menamakan dirinya Pari Kesit. Yang menarik, lagu ini bukan buatan dapur rekaman, melainkan kolaborasi kreatif manusia dan kecerdasan buatan (AI).
Yang penasaran denggan lagu Pesta Para Babi Pembangunan, berikut liriknya:\
Hutan dibelah atas nama masa depan
Selamat datang di Pesta Para Babi Pembangunan
Papua mennagis dibalik proposal korporasi
Negara bicara stabilitas sambil tanam kolonisasi
Bendera berkibar tinggi, tanag dijual rapi
Konstitusi cuma badut lusuh buat dekorasi
Baca juga:
Nobar Film Pesta Babi Bisa Lanjut, Tidak Ada Perintah Pembubaran
Dulu peluru, sekarang kontrak investasi
Dulu serdadu, kini pakai legalisasi
Sawit subur
Sagu dikubur
Tanah leluhur
Selain donatur jangan mengatur
Bioetanol, biodiesel, istilah elit feodal
Suku adat dianggap sebagai penghalang
Kekayaan alam Papua terancam hilang
Oleh kapitalisme terstruktur dan berseragam.
Kau lihat tentara bagi sembako
Lalu tepuk tangan nasionalis
Besok tanahmu digusur
Baru sadar siapa antagonis
Ini bukan negara gagal
Ini negara diperkosa modal
Undang-undang senjata birokrasi brutal
Suku adat dijual skala besar
Negara bicara damai sambil kirim ketakutan
Atas nama pembangunan mereka kubur kehidupan
Tanah Papua terancam punah dari peradaban
Apakah aku kamu akan tetap diam?
Baca juga:
Wakil Ketua DPD Yorrys Raweyai Desak Pemerintah Segera Tuntaskan Konflik Papua
Tanah dibakar atas nama pangan
Hutan dibelah atas nama masa depan
Selamat datang di Pesta Para Babi Pembangunan
Dulu penjajah datang pakai kapal
Sekarang negara pakai proposal
Dulu merampok dengan senapan
Sekarang negara pakai pasal perlindungan. (Far)