Liburan Salju, Favorit Baru Millennials Asia Pasifik
Kamis, 18 Oktober 2018 -
DESTINASI wisata favorit kini enggak lagi jadi monopoli daerah tropis. Beberapa destinasi dingin bersalju justru kini makin diincar millennials. Tren berwisata ke daerah bersalju makin meningkat pesat dalam tiga tahun belakangan.
Pasar liburan bersalju mengalami pertumbuhan yang cepat di Asia Pasifik dalam tiga tahun terakhir. Diperkirakan, sekitar 238 juta pelancong melakukan liburan salju dalam rentang waktu itu, termasuk 138 juta pelancong dalam 12 bulan terakhir. Angka-angka tersebut berkorelasi dengan tingkat kemakmuran dan tumbuhnya keinginan untuk menjelajahi dunia dengan cara yang lebih eksperimental dan berbeda, baik dengan keluarga maupun teman.
Temuan tersebut terungkap dalam sebuah survei yang digelar Club Med dengan dukungan perusahaan penelitian pasar independen Insightzclub. Operator resor ski kelas premium terlengkap itu mengidentifikasi resor salju di 11 negara dengan bertanya kepada 5.500 responden dari Tiongkok hingga Australia.
Hasilnya, selain menemukan tren peningkatan wisata bersalju, laporan itu juga memetakan pasar wisatawan yang beragam, operator resor ski kelas premium terlengkap. Di Asia Pasifik, 200 juta orang telah melakukan liburan salju dalam tiga tahun terakhir. Olahraga ski dan snowboard menjadi aktivitas utama saat berliburan di kawasan bersalju. Meskipun demikian, wisatawan Asia Pasifik juga mempertimbangkan beragam aktivitas lainnya.
Dari keseluruhan pelancong liburan salju, wisatawan millenials menjadi pendorong pertumbuhan pasar Asia Pasifik. Dalam hal destinasi, Jepang dan Korea Selatan jadi yang paling populer. Swiss berada di urutan ketiga.
“Penelitian ini memberikan wawasan mengenai konsumen Asia Pasifik sekarang, yang menggemari liburan salju. Pasar berkembang sangat pesat seiring dengan kian tumbuhnya jumlah orang kaya di Asia," jelas CEO of Club Med, East and South Asia & Pacific Xavier Desaulles, dalam siaran pers yang diterima Merahputih.com.
Selain pertumbuhan jumlah orang kaya, Desaulles menyebut salah satu faktor bertumbuhnya liburan salju di Asia Pasifik ialah pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang dan Beijing. Tidak mengherankan jika Tiongkok jadi pasar penggemar liburan salju terbesar di dunia. Di bawahnya, ada India dan Jepang.
Sementara itu, pasar dengan sedikit atau tanpa salju, seperti Hong Kong, Singapura, dan Indonesia, menunjukkan pertumbuhan yang kuat meskipun dari basis yang lebih kecil. Hal itu disebabkan wisatawan negara tersebut mereka mencari liburan berbasis pengalaman yang lebih banyak serta udara yang segar.
Saat ini, liburan salju mejadi domain orang kaya. Sebesar 85% pelancong liburan salju Asia memiliki pendapatan rumah tangga sebesar US$ 4.000 atau lebih. Secara rata-rata, pelancong yang meminati liburan bersalju ialah millenials berusia 38-45 tahun.
Namun tidak seperti di Amerika Utara dan pasar Eropa yang amat mengutamakan ski dan snowboard, pelancong Asia Pasifik mencari pengalaman salju yang jauh lebih beragam, terkadang tanpa ski/snowboard sama sekali.
Mengingat makanan menjadi bagian utama dalam banyak budaya Asia, jadi tidak mengherankan jika daya tarik makan makanan lokal berada di atas daftar hal yang diincar pelancong Asia Pasifik. Selanjutnya, menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman, dan kegiatan menyenangkan lainnya di gunung, atraksi lokal, dan kontak dengan alam menjadi pertimbangan populer para pelancong liburan salju.
Secara rata-rata, 78% turis Asia-Pasifik tinggal lebih dari empat malam dan 50% dari mereka menghabiskan setidaknya US$ 300 per hari per orang. Di Asia Pasifik, hotel dan resor menjadi pilihan utama akomodasi, bahkan 90% populasi memilih kedua tempat itu. Para pelancong kelas atas dari Asia pun memprioritaskan kenyamanan saat berwisata salju.
Hal itulah yang membuat Club Med menjadi pemimpin pasar dalam hal liburan musim salju di Hong Kong, Singapura, dan Indonesia. Sebanyak 70 ribu pelancong mengunjungi resor pegunungan mereka di seluruh dunia.(*)