MerahPutih.com - Kecepatan tinggi kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, membuat aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam operasional sehari-hari.
Untuk mencegah risiko kecelakaan, KCIC memanfaatkan teknologi tinggi Rail Flaw Detection Vehicle (RFD) guna melakukan pemeriksaan berkala terhadap kondisi rel kereta cepat yang melaju hingga 350 kilometer per jam tersebut.
Teknologi RFD digunakan untuk mendeteksi potensi cacat pada rel secara dini sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan perjalanan Whoosh.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, Jumat (22/5), pemeriksaan dan perawatan berkala menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan sekaligus keandalan operasional kereta cepat Whoosh.
Upaya (pemeriksaan dan perawatan) ini menjadi bagian dari komitmen KCIC dalam menjaga layanan Whoosh tetap aman, andal, dan tepat waktu bagi masyarakat,
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa.
Sejak mulai beroperasi pada 2023, Whoosh mencatatkan zero accident dan menjaga tingkat ketepatan waktu perjalanan di angka sekitar 99 persen.
Pemeriksaan menggunakan RFD dilakukan di jalur Whoosh sepanjang 142 kilometer, baik pada sisi kanan maupun kiri rel atau dua arah perjalanan.
Baca juga:
Penumpang Tahan Pintu Kereta Cepat Whoosh, KCIC: Berbahaya dan Langgar Aturan
Deteksi Sambungan hingga Potensi Kerusakan Rel
Pemeriksaan cacat rel meliputi pengecekan sambungan, penampang rel, hingga potensi kecacatan seperti goresan atau anomali lain pada rel.
Selain kondisi rel, pemeriksaan juga mencakup komponen pendukung di lintasan, termasuk kabel persinyalan yang berada di area jalur.
RFD dioperasikan setiap dua bulan sekali dengan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam. Dalam satu kali pemeriksaan pulang-pergi, proses kerja membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam.
Pemeriksaan dilakukan saat window time, yakni ketika seluruh perjalanan Whoosh selesai beroperasi sehingga tidak mengganggu layanan kepada penumpang.
Pengoperasian RFD kini sepenuhnya dilakukan oleh delapan personel Indonesia setelah melalui proses transfer knowledge dari tenaga profesional.
Tim tersebut terdiri atas pengemudi, petugas pemeriksaan, dan petugas analisis yang bertugas memastikan data hasil pemeriksaan dapat dibaca serta ditindaklanjuti secara tepat.
Data hasil pemeriksaan kemudian dianalisis untuk mengetahui potensi temuan pada rel maupun komponen pendukung lainnya di lintasan. Hasil analisis menjadi dasar bagi petugas perawatan jalur untuk melakukan tindak lanjut langsung sesuai kebutuhan.
Baca juga:
Ketinggalan Naik Kereta Cepat Whoosh? KCIC Izinkan Reschedule Tiket hingga 15 Menit
Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam
Selain untuk pemeriksaan rutin, RFD juga dapat digunakan untuk pengecekan jalur ketika terjadi kondisi tertentu yang berpotensi memengaruhi prasarana, seperti gempa bumi, badai, cuaca ekstrem, hingga bencana alam lainnya.
Dalam kondisi tersebut, RFD dapat segera dikerahkan guna memastikan kondisi lintasan tetap aman sebelum operasional perjalanan kembali berjalan normal.
Tak hanya mengandalkan RFD, KCIC juga memiliki rangkaian teknologi pemeriksaan lain melalui Comprehensive Inspection Train (CIT) yang mencakup pemeriksaan track geometry, sinyal, telekomunikasi, hingga Listrik Aliran Atas (LAA).
Seluruh sistem tersebut menjadi bagian dari perawatan berlapis untuk menjaga keandalan prasarana Whoosh.
Eva menambahkan, pemanfaatan teknologi modern dalam perawatan prasarana tidak hanya bertujuan menjaga kelancaran operasional, tetapi juga memperkuat budaya keselamatan di lingkungan KCIC. (Knu)