MERAHPUTIH.COM — “TAHUN ini merupakan penyelenggaraan ke-22 JF3. Dari momen ke-22 ini, pelaksanaan ke-50 terasa makin kelihatan,” kata Chairman of Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) Soegianto Nagaria dalam acara Media Preview JF3 2026 yang digelar di kawasan Kelapa Gading, Kamis (2/7). Optimisme itulah yang menjadi denyut nadi dalam penyelenggaraan JF3 ini. Puncak penyelenggaraan JF3 Fashion Festival 2026 akan berlangsung pada 23–29 Juli 2026 di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading.
Di tahun ke-22 ini, JF3 mengajak pelaku industri fesyen Indonesia untuk kembali melihat diri, melihat fondasi. Bagi desainer yang baru bergabung, kami dorong untuk membangun fondasi awal yang kuat agar bisa melesat di masa depan.
Soegianto Nagaria, Chairman of Jakarta Fashion and Food Festival (JF3)
Selama 22 kali penyelenggaraan, JF3 hadir bukan hanya sebagai ruang presentasi koleksi, tetapi sebagai platform yang menghubungkan desainer dengan pengetahuan, pasar, jejaring, dan peluang pengembangan yang lebih luas. Tahun ini, JF3 membawa tema Recrafted: Shaping the Future. Tema ini menjadi kelanjutan dari komitmen JF3 untuk melihat fesyen bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, melainkan juga sebagai ekosistem yang perlu terus dibentuk, diperkuat, dan diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan masa depan.
Tema tersebut sejalan dengan industri fesyen hari ini yang menuntut lebih daripada sekadar kemampuan menciptakan karya yang menarik. Desainer dan jenama perlu memiliki identitas yang kuat, kualitas eksekusi yang konsisten, pemahaman pasar yang matang, serta kemampuan untuk membangun bisnis yang berkelanjutan. Dalam konteks inilah, JF3 terus memperkuat perannya sebagai salah satu platform fesyen paling konsisten di Indonesia, dengan menghadirkan ruang yang mempertemukan kreativitas, kolaborasi, dan akses bagi desainer lokal maupun internasional.
Baca juga:
“Sebagai platform, dan ekosistem, JF3 masih berproses dan terus mempelajari banyak hal. Di sini kami membangun kolaborasi dan saling dukung,” kata Soegianto.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2004, JF3 terus berkembang menjadi ruang pertemuan bagi desainer, jenama, pelaku UMKM, perajin, institusi pendidikan, komunitas kreatif, media, buyer, serta mitra dari berbagai negara. Pendekatan ini menegaskan masa depan industri fashion tidak dapat dibangun satu pihak saja, tapi melalui ekosistem yang saling terhubung dan bergerak bersama. Tak berhenti hanya dengan kolaborasi dalam negeri, Soegianto menyebut hubungan internasional JF3 tahun ini juga makin kuat. “Di dalam negeri kita makin kuat, demikian juga hubungan kita dengan internasional. Hal ini menjadi modal untuk membawa nama fesyen Indonesia ke kancah global,” imbuhnya.
Senada, Advisor JF3 Thresia Mareta, yang juga hadir di acara yang sama, meyebut Indonesia memiliki kekuatan yang mumpuni dalam industri fesyen.
Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun, semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi.
Thresia Mareta, Advisor JF3
Menurutnya, talenta Indonesia seharusnya tak berhenti hanya di potensi, tapi berani melangkah maju dan berkembang. “Talenta kita bagus, cuma perlu membentuk standar untuk bisa ada di ranah global. Potensi ini perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat. Di JF3, kami ingin membuka ruang agar desainer tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang, bertukar, dan menemukan peluang untuk melangkah lebih jauh,” jelas Thresia.
Lebih jauh, Thresia menyebut Indonesia punya kekuatan untuk melangkah maju di industri fesyen global. Menurutnya, budaya Indonesia dan pekerjaan tangan Indonesia merupakan kekuatan besar yang dipunyai. “Ini yang perlu kita eksplorasi dan angkat untuk membawa nama Indonesia ke industri fesyen internasional. Sangat unik dan dikenal orang,” kata Thresia saat menjawab Merahputih.com
Melalui ajang ini, menurut Soegianto, JF3 menghubungkan proses kreatif dengan akses pasar yang nyata, dari runway langsung ke konsumen. “Industri fesyen yang kuat tidak tumbuh dari satu event, tetapi dari ekosistem yang dibangun secara konsisten. Kami percaya bahwa kreativitas yang didukung infrastruktur yang tepat akan menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar,” jelasnya.
Baca juga:
Future Loundry Tutup JF3 2025 dengan ‘Raga’, Gabungan Fashion Show dan Aksi Teatrikal
Membentuk Masa Depan dengan Optimisme
Sebagai representasi dari perkembangan industri fesyen Indonesia dalam percakapan regional dan global, JF3 Fashion Festival 2026 menghadirkan lebih dari 50 desainer dan jenama dari Indonesia, Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Eropa. Dari Indonesia, sejumlah nama yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan JF3 akan kembali tampil, antara lain Tities Sapoetra, Hartono Gan, AMOTSYAMSURIMUDA, Adrie Basuki, Sofie, HOWARD LAURENT, RAEGITAZORO, dan LAKON Indonesia.
JF3 juga menjadi ruang kehadiran talenta dan perspektif baru dalam industri fesyen Indonesia melalui desainer seperti Billy Tjong, YASA, The Theme, dan Super Sentimental Secret Theory. Kolaborasi bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC) akan dihadirkan melalui parade show yang menampilkan Rengganis, OPIE OVIE, dan XANDER.G. Sementara itu, kolaborasi dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menghadirkan ZAHIRA by Koyko, AGATHANDY, serta Haze Be Wear by Harry Hasibuan, yang kembali menjadi bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival 2026.
“Kehadiran para desainer ini merupakan cerminan dari langkah industri fesyen Indonesia menuju cita-cita di masa depan. Industri fesyen Indonesia bisa menjadi salah satu yang diperhitungkan dalam ekosistem fesyen internasional. Lewat platform seperti JF3 inilah, para pelaku industri fesyen Indonesia bisa benar-benar sehingga kita perlu membuat kehidupan lebih baik bagi pelaku sehingga semuanya ekosistem fesyen Indonesia berjalan,” kata Thresia saat berbincang dengan Merahputih.com.
Saat disinggung mengenai kondisi global yang tak menentu karena adanya perang, Soegianto optimistis semuanya akan berlalu. “Saya percaya perang tak akan bertahan selamanya,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pelaku di industri fesyen Indonesia untuk terus berkarya dan fokus berkreasi. “Jangan berhenti, berbuatlah sesuatu hal yang positif. Saat semuanya kembali normal, kita sudah siap maju,” imbuhnya.(dwi)
Baca juga:
Eksplorasi Unsual Bespoke dalam ‘Embodiment Malfunction’ di JF3, Tampilkan Karya dengan Tema Gothic