Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Hidupkan Kembali Nyawa D'Lloyd dengan Konser

P Suryo R - Minggu, 06 Mei 2018

BERBICARA mengenai musisi legendaris Indonesia, tak lengkap rasanya jika tak menyebut nama D'Lloyd. Begitu legendarisnya grup yang satu ini hingga musisi Indonesia masih mengaransemen dan membawakan lagu D'Lloyd hingga sekarang.

D'Lloyd merupakan grup musik legendaris Indonesia yang populer pada era 70an. Grup yang terdiri dari Syamsuar Hasyim (vokalis), Bartje van Houten (gitaris), Andre Gultom (saksofon), Sangkan Panggabean (bass), Budiman Pulungan (keyboard), dan Chairoel Daud (drum) tak hanya membius penggemar di Indonesia tetapi juga mancanegara seperti Malaysia dan Singapura.

Eksistensisme mereka sebagai musisi top tanah air terus bertahan selama beberapa dekade. Namun, pamor mereka perlahan-lahan meredup seiring dengan kepergian satu persatu personel D'Lloyd. Personel D'Lloyd yang pertama berpulang ke pangkuan Tuhan adalah Andre Gultom. Ia meninggal pada 1976 karena penyakit kanker hati.

Ia disusul oleh rekannya, Sangkan Panggabean pada 1993, lalu Budiman Pulungan (wafat 30 November 2003), Sam (wafat 9 Juni 2012), dan Chaerul. Bartje menjadi personel terakhir D'Lloyd yang menghembuskan napas terakhir. Dirinya wafat pada 5 Mei 2017 silam. Seiring dengan kepergiannya, hilang pula ruh grup D'Lloyd. Bartje dianggap sebagai nyawa sekaligus pentolan grup ini.

dlloyd
D'Lloyd salah satu legenda musik Indonesia. (Foto: budiey.com)

Di balik kesuksesan D'Lloyd, ada campur tangan Bartje. Ia dikenal sebagai gitaris, penulis lagu, penata musik dan pendiri grup musik D'Lloyd. Pada 1969, dirinya mengajak Syamsuar Hasyim (Sam) untuk menjadi vokalis. Formasi tersebut terus berkembang hingga Sangkan Panggabean (Papang) bergabung sebagai pemain bass.

Sejumlah lagu hits mereka diciptakan oleh Bartje van Houten, di antaranya Hidup di Bui, Apa Salah dan Dosaku, Titik Noda dan Rintihan Hidup. Lagu-lagu yang diciptakan oleh Bartje tersebut merefleksikan pengalaman hidup yang ia alami. Tak hanya itu, beberapa lagu yang diciptakan juga menggambarkan situasi sosial dan politik Indonesia di tahun 70an.

Kini, tepat satu tahun kepergian Bartje van Houten. Tepat satu tahun kepergiannya, keluarga dan para sahabat menggelar rangkaian acara Mengenang Satu Tahun Kepergian Bartje van Houten. Acara dimulai dengan melakukan nyekar dan kebaktian di pemakamannya di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Selain dihadiri oleh keluarga dan sahabat, acara nyekar di makamnya pun dihadiri para penggemar Bartje. Mereka hadir untuk mengenang kembali hidup Bartje dan jasa-jasanya untuk industri musik Indonesia. "Saya bahagia katena para sahabat dan penggemar meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga Bartje van Houten untuk nyekar dan kebaktian. Ini merupakan salah satu dan rangkaian acara untuk mengenang satu tahun kepergian beliau," ucap istri Bartje, Titiek Bartje van Houten.

Untuk menghidupkan kembali nyawa D'Lloyd dan karya Bartje, acara Mengenang Satu Tahun Kepergian Bartje van Houten akan ditutup dengan pagelaran konser penghormatan tembang-tembang yang diciptakan Bartje. Konser tersebut bertajuk Satu Dalam Nada Cinta: Tribute to Bartje van Houten.

"Setelah satu tahun kepergian almarhum Bartje, keluarga masih merasakan cinta yang diberikan sahabat dan para penggemar kepada almarhum dan karyanya yang telah menghidupkan industri musik Indonesia selama empat dekade. Oleh karena itu, kami merasa momen ini tepat untuk menggelar konser penghormatan untuk mengenang sekaligus memperdengarkan kembali lagu-lagu yang diciptakan Bartje kepada penggemar dan generasi muda Indonesia agar karya Bartje terus hidup di antara kita," tutur Titiek.

Konser tersebut rencananya akan digelar pada Juli 2018. Acara tersebut akan diisi oleh musisi-musisi kenamaan Indonesia dari lintas generasi. Mereka akan memberikan penghormatan kepada almarhum dengan menyanyikan lagu-lagu hits yang diciptakan olehnya. (avia)

Baca Artikel Asli