MerahPutih.com - Nintendo Switch 2 mungkin akan dijual lebih mahal pada 2026. Kecerdasan buatan mungkin menjadi penyebab dari kenaikan harga konsol tersebut.
Menurut laporan Bloomberg, Nintendo sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga Switch 2 di tengah melonjaknya biaya memori global.
Konsol yang diluncurkan pada 2025 dengan harga 449,99 dolar AS (Rp 7,5 juta) ini, mungkin tidak akan bertahan lama dengan harga tersebut.
Masalahnya bukan pada penjualan yang buruk. Nintendo Switch 2 dilaporkan telah terjual lebih dari 17 juta unit, yang melampau Switch pertama saat diluncurkan.
Baca juga:
PlayStation 6 Dikabarkan Pakai RAM 30GB, Harganya Terancam Naik
Penyebab Harga Nintendo Switch 2 Naik pada 2026
Raksasa teknologi seperti Meta, Microsoft, Alphabet, dan Amazon menggelontorkan ratusan miliar dolar ke pusat data AI. Mereka membeli akselerator Nvidia yang sarat dengan memori dalam jumlah besar. Setiap rak server AI baru dikatakan bisa mengonsumsi RAM sebanyak ribuan smartphone.
Permintaan tersebut telah mendorong harga memori ke dalam apa yang disebut analis sebagai "RAMmageddon." Bloomberg melaporkan, bahwa biaya satu jenis DRAM melonjak 75 persen dalam satu bulan.
Pemasok seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan memori bandwidth tinggi untuk chip AI, yang membuat produsen elektronik konsumen berebut kapasitas DRAM yang semakin menyusut.
Baca juga:
Fans Heboh, Rockstar Games Bocorkan Spesifikasi Minimal Main GTA 6
Nintendo tidak sendirian. Sony dilaporkan mempertimbangkan untuk menunda PlayStation 6 hingga 2028 atau 2029.
Microsoft juga telah menaikkan harga Xbox dan Sony menaikkan harga PS5 tahun lalu. Apple dan Tesla bahkan sudah memperingatkan investor tentang tekanan margin terkait dengan kekurangan memori.
Nintendo Belum Berencana Naikkan Harga Switch 2
Namun, ia tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan tersebut. Jika biaya memori tetap tinggi, maka Nintendo mungkin tidak punya pilihan selain melindungi margin.
Nintendo Switch 2 mungkin diluncurkan tepat sebelum krisis memori ini mencapai puncaknya. Jika laporan Bloomberg benar, maka era konsol yang lebih murah mungkin telah berakhir. (sof)