Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, BMKG Ungkap Kondisi Terbaru Potensi Tsunami di Selat Sunda

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 09 Juli 2026

MerahPutih.com - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi sebanyak tiga kali pada Rabu (8/7) pagi. Erupsi terakhir tercatat menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi 100 meter.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pada pukul 08.42 WIB, disusul erupsi kedua pada pukul 09.35 WIB, dan erupsi ketiga pada pukul 09.54 WIB.

Kolom abu teramati mencapai sekitar 100 meter di atas puncak atau sekitar 257 meter di atas permukaan laut. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga).

PVMBG juga merekomendasikan masyarakat untuk tidak mendekati puncak Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.

Baca juga:

Gempa 5,5 Guncang Selat Sunda Saat Status Anak Krakatau Naik Siaga III, Ini Pemicunya!

BMKG terus memantau potensi tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan terhadap muka air laut selama fase erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk mengantisipasi potensi tsunami yang mungkin dipicu oleh aktivitas vulkanik tersebut.

"Sudah beberapa hari ini kita terus monitor," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, kepada wartawan, Kamis (9/7).

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, BMKG menyatakan belum menemukan aktivitas signifikan yang mengindikasikan dampak erupsi terhadap muka air laut.

Sampai saat ini belom ada aktivitas yang signifikan. Belum ada anomali kenaikan muka air laut akibat erupsi dari peralatan yang dimonitor BMKG,

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.

Abu vulkanik berpotensi mengganggu penerbangan dan pelayaran

Wijayanto menjelaskan, dampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih bersifat lokal. Namun, sebaran abu tetap berpotensi memengaruhi jarak pandang serta aktivitas transportasi udara dan laut.

Menurutnya, arah dan kecepatan angin menjadi faktor utama yang menentukan sebaran abu vulkanik. Kondisi tersebut dapat menurunkan jarak pandang, memengaruhi kualitas udara, hingga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran.

"BMKG terus memantau kondisi atmosfer untuk mengantisipasi potensi sebaran abu vulkanik," ucapnya.

Baca juga:

Peningkatan Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau, BPBD Wanti-wanti Nelayan Tidak Mendekat

Sebaran abu dominan mengarah ke Lampung

Wijayanto mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG, abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini dominan bergerak ke arah Provinsi Lampung.

"Angin lemah dominan ke arah Barat Laut atau ke Lampung. Asap juga tidak tinggi kemungkinan tidak sampai Lampung sudah jatuh di laut," imbuhnya. (Knu)

Baca Artikel Asli