MerahPutih.com - Presiden RI Prabowo Subianto tampil dengan gaya penuh filosofi di panggung Eastern Economic Forum (EEF) Ke-11.
Dalam pidatonya, Prabowo mengaitkan pepatah kuno Rusia “Odin v pole ne voin”—yang berarti seseorang tidak bisa berjuang sendirian—dengan konsep gotong royong khas Indonesia.
Tidak akan ada kemenangan jika kita berjuang sendirian. Di Indonesia, kami menyebutnya gotong royong. Beban seberat apapun akan menjadi ringan ketika kita memikulnya bersama-sama,
Presiden Prabowo Subianto, di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Kamis (3/9).

Presiden Prabowo bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin bahas kemitraan RI-Rusia
Filosofi Lintas Bangsa
Prabowo menekankan meski berbeda bahasa, Indonesia dan Rusia punya warisan kebijaksanaan leluhur yang sama.
Kepala Negara juga mengajak Rusia untuk memperkuat kedekatan personal menjadi kerja sama yang lebih melembaga.
Kita memiliki bahasa yang berbeda, tetapi kita memiliki kebijaksanaan kuno yang sama dari para leluhur kita,
Presiden Prabowo Subianto
Visi Kerja Sama Indonesia–Rusia
Kepada Rusia, Prabowo menawarkan kerja sama di bidang perdagangan, konektivitas, sinkronisasi sistem pembayaran, hingga proyek industri disebut sebagai ruang kolaborasi yang harus diperluas. Namun, dia menegaskan tujuan kerja sama bukan sekadar angka dan tarif, melainkan kesejahteraan rakyat.
“Semua yang kita bahas hari ini ada untuk satu alasan, yaitu agar seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia dapat melihat anak-anak mereka dan percaya hari esok akan lebih baik dari hari ini,” tandasnya.
Baca juga:
Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi di Indonesia ke Perusahaan Rusia
Pidato Prabowo di EEF 2026 bukan hanya bicara ekonomi, tapi juga menyentuh nilai budaya. Dengan mengaitkan pepatah Rusia dan gotong royong Indonesia, dia membangun narasi bahwa kerja sama antarbangsa harus berlandaskan kebijaksanaan leluhur: bersatu untuk masa depan yang lebih baik.
Pidato Prabowo itu disampaikan di forum bergengsi yang juga dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang, Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, dan Wakil Presiden Myanmar U Nyo Saw. (*)