Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Faheem Younus, Dokter AS yang Rajin Ngetwit Soal COVID-19 Pakai Bahasa Indonesia

P Suryo R - Rabu, 07 Juli 2021

ORANG Indonesia telah menemukan sumber informasi terpercaya baru dalam segala hal tentang COVID-19. Dia adalah seorang dokter di Amerika Serikat yang tinggal lebih dari 16 ribu km dari dari kita.

Dr Faheem Younus, kepala penyakit menular di School of Medicine di University of Maryland, AS, telah menjadi selebtwit setelah menggunakan platform untuk berbagi saran terkait virus corona dan praktik terbaik untuk mengendalikan penyebaran penyakit dalam Bahasa Indonesia.

Baca Juga:

Ini Kata Psikolog Soal Fenomena 'Panic Buying' Saat PPKM

pandemi
Ada peningkatan dalam penggunaan bahasa Indonesia Younus dengan penerapan bahasa gaul lokal. (Foto: Twitter@FaheemYounus)

Dia juga menangani mitos seputar virus, beberapa di antaranya unik di media sosial dan grup obrolan Indonesia, seperti klaim bahwa kayu putih atau Bear Brand dapat membantu menyembuhkan penyakit.

Beberapa tweet-nya telah menjadi viral dalam beberapa minggu terakhir, memperkuat statusnya sebagai idola jagat Twitter Indonesia. Dia sekarang memiliki sekitar 385.000 pengikut di Twitter.

“Dr Faheem Younus kini menjadi dokter selebtwit di Indonesia. Terima kasih atas perhatiannya, Dr Faheem. Anda pakar dari luar kota dengan tas dokter yang kami butuhkan saat ini. Tuhan memberkati Anda,” Alissa Wahid, putri mantan presiden Abdurrahman Wahid, mentweet pada hari Minggu (5/7) dalam Bahasa Inggris.

Beban kasus dan jumlah kematian di Indonesia telah meningkat secara konsisten sejak 24 Juni. Bahkan pada Selasa (6/7) melaporkan 31.189 infeksi baru dan 728 kematian, dan menjadi angka penambahan harian tertinggi di dunia kemarin.

Younus mengatakan kepada This Week in Asia (7/7), tweet dalam Bahasa Indonesia adalah cara terbaik untuk menyampaikan pesannya kepada orang-orang Indonesia yang tidak berbahasa Inggris karena COVID-19 terus merusak negara ini.

“Saya menyadari bahwa kurang dari 25 persen orang Indonesia berbicara bahasa Inggris,” katanya dalam sebuah email, “Mengetahui seberapa cepat virus akan menyebar di negara terpadat keempat di dunia ini, saya harus menerobos penghalang itu dan mencapai orang biasa.”

Dokter pemenang penghargaan, yang juga berbicara bahasa Urdu, mengatakan dia menggunakan Google Terjemahan untuk tweet berbahasa Indonesia pertamanya pada 2 Juli.

“Saya tahu itu tidak sempurna. Tapi saya tidak bisa membiarkan kesempurnaan menjadi musuh kebaikan dalam situasi kritis ini. Sekarang beberapa orang Indonesia yang baik hati telah menawarkan untuk menerjemahkan tweet saya, bergerak maju,” kata Younus.

Salah satu tweet awalnya memicu kebingungan ketika dia menerjemahkan nutrisi peningkat kekebalan tubuh “zinc” menjadi seng, yang berarti “atap seng” dalam bahasa Indonesia.

Namun, pengguna media sosial Indonesia telah mencatat peningkatan baru-baru ini dalam penggunaan bahasanya, dengan penerapan bahasa gaul lokal yang diapresiasi oleh banyak orang. Younus mengatakan, telah menerima banyak tanggapan, “Tetapi saya kurang memperhatikan akun dan notifikasi saya dan tetap fokus pada masalah yang ada.”

Baca Juga:

Pinterest Larang Iklan Diet, Ada Apa?

Mematahkan Mitos COVID-19

pandemi
Dokter ini sebelumnya juga ngetweet dalam bahasa Spanyol dan Urdu untuk warga Amerika Selatan dan Pakistan. (Foto: umaryland.edu)


Beberapa mitos COVID-19 yang berhasil dipatahkan Younus antara lain pengobatan palsu seperti menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan gagang pintu dan ponsel, serta mengonsumsi jamu seperti jahe dan serai.

Dia juga menyebut obsesi orang Indonesia terhadap susu kaleng Bear Brand, dengan mengatakan bahwa “susu ini, atau vitamin, atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID-19”.

Younus, yang men-tweet bahwa susu Bear Brand dan obat anti-parasit Ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID-19 dan bahwa orang tidak boleh mengobati sendiri, mengatakan bahwa dia telah mengetahui jenis-jenis informasi yang salah yang beredar dari orang Indonesia setempat.

“Orang-orang tahu apa yang salah tetapi tidak semua orang memiliki pengetahuan, pengalaman, atau platform untuk membantah mitos itu,” kata dokter sebelumnya telah men-tweet dalam bahasa Spanyol dan Urdu ketika kasus COVID-19 meningkat di Amerika Selatan dan Pakistan.

“Selama pandemi ini saya mencoba mengikuti virus. Seperti polisi yang mengejar orang jahat, saya sudah berusaha membantu negara-negara yang sedang dilanda krisis COVID-19. Ada banyak akhir pekan di mana saya akan mengundang pertanyaan dari berbagai negara dan membantu mereka dalam tweet bahasa Inggris,” ujarnya.

Popularitas Younus yang meningkat di kalangan pengguna Twitter Indonesia juga menimbulkan pertanyaan apakah populasi daring negara itu lebih mendengarkan dokter asing daripada dokter lokal yang memberikan saran serupa.

pandemi
Younus memutuskan menggunakan Bahasa Indonesia untuk bisa mencapai orang biasa. (Foto: Twitter@FaheemYounus)

Ada beragam tanggapan ketika hal ini diangkat di Twitter, tetapi sebagian besar menunjukkan bahwa tweet Younus mudah dipahami dan bahwa dia tidak terkait dengan politisi Indonesia mana pun.

Gelombang kedua Indonesia, yang dipicu oleh penyebaran varian Delta yang lebih menular, telah meruntuhkan sistem perawatan kesehatan negara. Rumah sakit di seluruh pulau Jawa telah begitu kewalahan.

Pembatasan mobilitas yang lebih ketat telah diberlakukan di Jawa dan di pulau Bali dilakukan dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Namun, Younus mengatakan Indonesia juga harus mengubah perjuangannya melawan disinformasi dan mempercepat program vaksinasi untuk mengekang penyebaran penyakit ini.

“Indonesia memiliki alasan yang sama dengan hampir semua negara lain di mana virus ini menyerang massa. Penolakan, kepuasan diri, disinformasi, dan program vaksinasi yang lemah,” katanya.

“Yang harus segera dilakukan pemerintah adalah komunikasi. Mereka harus agresif melawan disinformasi dan mendidik massa. Mereka harus membangunkan bangsa akan ancaman nyata dari virus ini. Sayangnya, karena mereka tidak melakukannya, virus itu melakukannya,” demikian Younus. (aru)

Baca Juga:

Kenali Bahan Terbaik untuk Masker

Baca Artikel Asli