Ekspor Indonesia Tertekan Tarif Trump
Selasa, 03 Februari 2026 -
MerahPutih.com - Kombinasi hambatan perdagangan global dan tekanan biaya produksi di dalam negeri membuat capaian ekspor Indonesia pada 2025 tidak sesuai dengan target pemerintah.
Tantangan serupa bahkan berpotensi lebih berat pada 2026, seiring kebijakan perdagangan AS yang semakin ketat dan risiko inflasi produsen di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat serta pelemahan harga komoditas andalan menjadi faktor utama ekspor Indonesia pada 2025 tidak mencapai target pemerintah.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD 282,91 miliar, tumbuh 6,15 persen secara tahunan. Namun, capaian tersebut masih di bawah target pemerintah sebesar USD 294,45 miliar.
Baca juga:
Ratusan Kontainer Limbah B3 Masuk Batam, Puluhan Diputus Reekspor oleh Bea Cukai
Ia menilai meski ekspor meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sejumlah faktor eksternal dan domestik menahan laju pertumbuhan.
“Ekspor itu sifatnya lintas sektoral. Kekuatan ekspor kita dipengaruhi dari hulu, mulai dari daya saing pembelian bahan baku, tenaga kerja, hingga sinkronisasi kebijakan. Semua itu berujung pada daya saing ekspor,” kata Faisal.
Ia menjelaskan sebelum tarif resiprokal diberlakukan oleh Amerika Serikat, ekspor Indonesia sempat tumbuh cukup tinggi dan berpotensi tumbuh 7 persen.
Namun, tren melemah terjadi sejak Agustus 2025, diperburuk oleh penurunan harga komoditas utama seperti batu bara.
“Faktor eksternal dari perlakuan tarif oleh AS mempengaruhi ekspor kita. Walaupun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tapi tidak mencapai target,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, Faisal menyoroti tantangan domestik berupa potensi inflasi produsen yang meningkatkan biaya produksi, terutama dalam pembelian bahan baku.
"Kondisi ini berdampak pada harga produk, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor," katanya. (*)