Ekosistem Paduan Suara Mulai Terbangun
Kamis, 14 Juli 2022 -
PADUAN suara Indonesia perlahan mulai dikenal dunia lewat berbagai kompetisi internasional. Konduktor paduan suara dan orkestra Avip Priatna pun menilai bahwa ekosistem paduan suara di Indonesia sudah mulai terbangun, terutama dalam 20 tahun terakhir mulai memperlihatkan kemajuan yang didorong oleh minat anak muda.
"Kalau kita lihat di Eropa, pertunjukan musik itu banyak (didatangi) orang tua, tapi kalau di Indonesia itu anak-anak muda, apalagi untuk pertunjukan klasik. Kalau kita nonton konser musik klasik, itu anak-anak muda yang nonton. Menurut saya ekosistemnya sudah mulai terbangun," kata Avip, dilansir ANTARA, Sabtu (9/7).
Baca juga:
Avip dikenal sebagai konduktor yang membawa sejumlah grup paduan suara Indonesia ke kejuaraan dan pertunjukan internasional, seperti Parahyangan University Choir, Batavia Madrigal Singers, dan Jakarta Chamber Orchestra.
Ia memulai karier sebagai konduktor Parahyangan University Choir ketika masih berkuliah di Universitas Parahyangan, Bandung. Setelah lulus, ia memutuskan untuk fokus pada bidang musik dengan menempuh pendidikan di Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst di Vienna, Austria.
Avip mengatakan salah satu alasan dirinya mengambil jurusan musik karena melihat penyanyi-penyanyi di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, namun belum banyak yang bisa mengarahkan mereka.
"Saya merasa kalau enggak ada yang gerak, enggak ada yang sekolah, ini enggak ada yang melatih mereka, sayang. Akhirnya saya sekolah, dan betul rupanya ketika saya dengan Parahyangan mulai merintis tanding ke luar negeri, mulai dilihat sama teman-teman se-Indonesia," katanya.
Belum lama ini juga, paduan suara Batavia Madrigal Singers yang ia konduktori, menjuarai European Grand Prix (EGP) for Choral Singing 2022 yang berlangsung di Grand Theatre Kota Tours, Prancis.
Baca juga:
Viral Paduan Suara Lantunkan Asmaul Husna di Masjid Istiqlal, Wagub DKI Minta Maaf
Menurut Avip, dengan mengikuti kompetisi paduan suara menjadi cara menempa diri dalam berproses untuk menjadi lebih baik ke depannya. Melalui pencapaian di EGP, ia berpendapat prestasi ini menunjukkan bahwa orang Indonesia juga mampu membawakan dan mengolah kembali karya-karya berstandar tinggi seperti musik klasik.
"Kita sudah mencantumkan nama Indonesia di situ (di ajang EGP), dan tidak banyak negara yang namanya sudah bisa di situ. Kalau lihat di web-nya EGP atau Wikipedia itu kelihatan bahwa Indonesia sudah dua (juara) di situ, dan saya kalau melihatnya jadi terharu," kata Avip.
Avip menjelaskan bahwa setiap paduan suara yang akan mengikuti kompetisi, wajib mendapatkan otorisasi dari komposer sebagai orang yang menciptakan karya.
"Jadi semua proses ini saling diuntungkan. Jangan hanya nyanyi-nyanyi dan paduan suaranya yang ngetop, tapi komposernya kasihan. Sekarang sudah tidak seperti itu, sekarang semua harus dihargai dengan sewajarnya," tutupnya. (and)
Baca juga: