MerahPutih.com - Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani menilai isu penghilangan aktivis reformasi yang dituduhkan kepada ketua umumnya, Prabowo Subianto merupakan isu lama yang kembali dihembuskan menjelang Pilpres.
"Itu sesuatu yang lama. Bukan baru. Setiap Pilpres selalu muncul," kata Muzani di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/7).
Menurut Muzani, Gerindra sudah memperkirakan isu penculikan akan muncul menjelang kontestasi demokrasi lima tahunan untuk mendiskreditkan Prabowo. "Saya ngga mau tanggapi karena itu hal biasa," imbuh dia.
Sebelumnya, sebanyak 34 dokumen rahasia Amerika Serikat mengungkap rentetan laporan pada masa prareformasi.
Dokumen-dokumen yang dirilis ke publik oleh lembaga Arsip Keamanan Nasional (NSA) ini mengemukakan berbagai jenis laporan pada periode Agustus 1997 sampai Mei 1999.
Arsip tertanggal 7 Mei 1998 mengungkap catatan staf Kedutaan Besar AS di Jakarta mengenai nasib para aktivis yang tiba-tiba menghilang.
Catatan itu memuat para aktivis yang menghilang boleh jadi ditahan di fasilitas Kopassus di jalan lama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor
Hasil percakapan seorang staf politik Kedutaan Besar AS di Jakarta dengan seorang pemimpin organisasi mahasiswa memunculkan nama Prabowo Subianto.
Narasumber itu mengaku mendapat informasi dari Kopassus bahwa penghilangan paksa dilakukan Grup 4 Kopassus. Informasi itu juga menyebutkan terjadi konflik di antara divisi Kopassus bahwa Grup 4 masih dikendalikan Prabowo.
"Penghilangan itu diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto," sebut dokumen tersebut. (Pon)