Dituding Eksploitasi Anak Muda, Instagram Terseret Tuntutan Hukum
Rabu, 15 Juni 2022 -
META yang merupakan Induk perusahaan dari Facebook dan Instagram, dikabarkan tengah menghadapi tuntutan hukum. Mereka diduga sudah mengeksploitasi anak-anak muda demi keuntungan.
Tuntutan hukum itu diajukan oleh pengacara dari Beasley Allen Law Firm. Pada tuntutannya, dia menuduh Meta sudah menggunakan taktik psikologis tambahan. Ini dimaksudkan untuk membuat orang menggunakan platform mereka lebih sering, gagal melindungi pengguna muda dan berisiko.
Baca Juga:
"Terdakwa tahu bahwa produk dan layanan mereka berbahaya bagi anak-anak dan remaja yang masih kecil dan mudah terpengaruh. Tapi mereka sama sekali mengabaikan informasi itu," jelas pengacara Beasley Allen seperti yang dikutip dari laman New York Post.
Menurut Allen, Meta menerapkan algoritma canggih yang dirancang untuk mendorong akses yang sering ke platform dan paparan konten berbahaya yang berkepanjangan.
Tuntutan hukum yang diajukan di Colorado, Delaware, Florida, Georgia, Illinois, Missouri, Tennessee, dan Texas, mengklaim bahwa pengguna yang terlalu lama terpapar dengan Meta dan platform-nnya, menyebabkan banyak hal negatif.
Hal negatif itu seperti percobaan bunuh diri, melukai diri sendiri, kecemasan, depresi, gangguan makan, gangguan tidur, dan kondisi kesehatan mental lainnya.
Baca Juga:
Tuntutan yang dilayangkan Allen merujuk pada Sidang Senat 5 Oktober 2021 lalu, yang mencakup kesaksian dari pelapor Facebook, Frances Haugen. Dia menuduh Meta memprioritaskan keuntungan dibanding langkah dalam menghentikan kerugian publik.
"Penggunaan media sosial di kalangan anak muda harus dilihat sebagai kontributor utama krisis kesehatan mental yang kita hadapi di negara ini," kata Allen.
Menurutnya, aplikasi tersebut bisa dirancang untuk meminimalkan bahaya. Namun sebaliknya, keputusan dibuat mengarahkan remaja kecanduan secara agresif, demi keuntungan perusahaan.
"Sudah waktunya bagi perusahaan ini mengakui kekhawatiran yang berkembang seputar dampak media sosial pada kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat kita ini. Mengubah algoritma serta tujuan bisnis yang telah menyebabkan begitu banyak kerusakan," tambahnya.
Sementara itu, Instagram mengakui bahwa aplikasinya bisa berbahaya bagi anak muda, setelah The Wall Street Journal merilis dokumen internal tiga tahun lalu. Dalam dokumen itu merangkum temuan para penliti yang disadap oleh raksasa teknologi, untuk memeriksa dampak aplikasi pada kesehatan pengguna.
The Wall Street Journal mengungkapkan, bahwa studi menemukan 32 persen remaja perempuan merasa buruk tentang tubuh.
Karina Newton Kepala Kebijakan Publik Instagram, menjelaskan pada sebuah posting-an di blog pada September 2021, bahwa pihak Instagram mendukung penelitian, yang memperlihatkan komitmen perusahaan untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak muda. Juga menginformasikan seluruh pekerjaan yang dilakukan Instagram untuk membantu anak muda yang mengalami masalah tersebut.
"Kami bangga bahwa aplikasi kami bisa memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan, dapat membantu teman dan keluarga tetap terhubung dari seluruh penjuru dunia, dan dapat mendorong perubahan sosial. Tetapi kami juga tahu itu bisa menjadi tempat di mana orang memiliki pengalaman negatif, seperti yang disebut Journal hari ini," jelas Newton.
Selain itu, Newton juga menambahkan, bahwa pihak Instagram sudah melakukan upaya untuk memerangi masalah seperti bunuh diri, menyakiti diri, gangguan makan dan intimidasi pada pengguna.
Instagram pun sudah membuat fitur agar pengguna bisa melindungi diri mereka dari intimidasi, dengan memberikan opsi untuk menyembunyikan jumlah like pada unggahan mereka. (Ryn)
Baca Juga:
Facebook Rilis Sejumlah Fitur Baru untuk Messenger dan Instagram