MerahPutih.com - Kementerian Perindustrian tengah berkoordinasi dengan Danantara mengenai rencana pembentukan BUMN tekstil, termasuk kemungkinan pengambilalihan perusahaan yang sudah tidak berproduksi.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia mengkaji dua opsi investasi industri tekstil, yakni mengakuisisi perusahaan yang sudah ada atau membangun pabrik baru untuk memperluas lapangan kerja.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menjelaskan rencana tersebut seusai memberikan paparan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10).
Pilihannya kan pada dasarnya membangun perusahaan itu ada yang kita akuisisi, ada yang kita bangun dari nol, ya,
kata Dony.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Meroket ke 5.439! Aturan Saham HSC BEI dan Manuver Danantara Jadi Penyelamat
Opsi akuisisi dapat dilakukan terhadap perusahaan yang sudah ada, termasuk perusahaan yang menghadapi kesulitan usaha dan berpotensi mengurangi jumlah pekerja apabila menghentikan kegiatan produksinya.
Pengambilalihan perusahaan juga perlu disertai pembenahan model bisnis agar kegiatan operasional menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, pembangunan pabrik baru menjadi alternatif lain yang masih dikaji untuk memperkuat kapasitas produksi industri tekstil nasional.
Terkait kemungkinan pengambilalihan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Dony belum memastikan perusahaan tersebut akan diakuisisi karena proses evaluasi masih berlangsung.
Ya, kita sedang melakukan evaluasi. Ya mudah-mudahan nanti akan. Teman-teman akan lihat. Kan semua akan terbuka,
ujarnya.
Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama Danantara dalam menentukan investasi di sektor industri padat karya.
Karena itu Danantara serius akan masuk ke sektor ini,
katanya.
Selain tekstil, Danantara juga menyasar industri alas kaki dan elektronik yang dinilai berpotensi membuka banyak lapangan kerja serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
Pengembangan industri tekstil nantinya tidak hanya berfokus pada produksi barang jadi, tetapi juga mencakup penguatan kegiatan industri di sektor hulu dan antara.
"Nanti begitu kita mulai, kita akan masuk itu di tekstil itu tidak hanya di downstream-nya, tapi mulai dari upstream-nya, midstream-nya, sampai downstream-nya," katanya.
Pengembangan rantai industri secara menyeluruh diperlukan untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri sekaligus memanfaatkan pasar domestik yang menurutnya memiliki hampir 300 juta penduduk.
Jumlahnya berapa, tentu tergantung daripada kebutuhannya nanti dalam kita memulai membangun industri tekstil ini,
ungkapnya.