Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Dampak COVID-19 Terhadap Keamanan IoT

Ikhsan Aryo Digdo - Minggu, 21 Februari 2021

PANDEMI memunculkan gelombang baru penjahat siber. Mereka semakin termotivasi oleh peningkatan mendadak serangan siber karena sebagian besar tenaga kerja secara global kini beralih ke model operasi jarak jauh. Tidak hanya jumlah serangan yang meningkat, tetapi juga kecepatan dan skalanya.

Bagaimana bisnis dapat membangun pertahanan yang andal untuk melawan serangan siber di tengah pandemi? Jawabannya adalah dengan selalu mempraktikkan kewaspadaan ekstrim, menawarkan pelatihan keamanan tingkat lanjutan, dan menerapkan kerangka kerja keamanan terintegrasi nan kuat.

Baca juga:

Deteksi Dini COVID-19 Lewat Smartwatch

Pada saat yang sama, kamu tidak boleh melupakan ‘the big picture’. Ada ratusan vektor serangan potensial yang saat ini berisiko dan faktanya jaringan di rumah semakin memperumit situasi. Fortinet melaporkan Perangkat Internet of Things (IoT) menjadi pusat peningkatan serangan siber perusahaan baru-baru ini.

Sebagian besar perangkat pribadi rentan terhadap malware. (Foto: Istimewa)

Sejak awal pandemi hingga saat ini sebagian besar perusahaan telah memiliki cukup waktu di awal untuk menyelesaikan masalah apapun yang muncul ketika melakukan transisi ke remote work. Namun, bagi banyak bisnis, satu masalah terus berdampak.

Kekurangan laptop dan perangkat milik perusahaan memaksa banyak pekerja menggunakan komputer pribadi untuk mengakses jaringan perusahaan dan menyelesaikan pekerjaan. Sambil bekerja, tentu mereka melakukan perilaku online pada umumnya semisal menjelajahi media sosial, berbelanja, dan hiburan streaming.

Baca juga:

Menikmati Inovasi Teknologi Terbaru Selama PSBB

Masalahnya, sebagian besar perangkat pribadi ini tidak memiliki perlindungan endpoint dan keamanan desktop, sehingga rentan terhadap malware. Dari perspektif keamanan IoT, kelalaian ini berpotensi sangat merusak. Terutama karena penyerang dapat mencapai tujuan mereka bahkan tanpa akses langsung ke laptop atau perangkat pribadi lainnya.

Malware dapat disebarkan secara tidak langsung melalui router, tablet, game, dan sistem hiburan yang terhubung ke jaringan rumah. Begitu pula melalui perangkat IoT, seperti bel pintu pintar, kamera, dan termostat.

Butuh bukti? Lihat saja tiga pencarian teratas di Shodan, yang semuanya terkait dengan akses kamera jarak jauh. Sementara beberapa kamera jarak jauh sengaja dibuka ke Internet. Banyak lainnya masih tersambung ke Internet dengan kredensial default.

Perangkat IoT lebih rentan terhadap serangan. (Foto: Unsplash/Markus Spiske)

Dengan memanfaatkan target yang relatif mudah dijangkau ini, penyerang dapat dengan mudah memanfaatkan situasi dan mendapatkan akses ke sistem yang tidak pernah ditujukan untuk publik. Meskipun tindakan ini sendiri dapat mempengaruhi jaringan secara signifikan, ini mungkin hanya langkah pertama penyerang dalam upaya untuk mengeksploitasi suatu organisasi.

Meskipun perangkat IoT mungkin lebih rentan terhadap serangan, adopsi teknologi ini terus meningkat dengan mantap. Satu prediksi menyatakan bahwa pendapatan platform IoT akan mencapai US$66 miliar pada 2020.

Tahun ini, industri medis dan perawatan kesehatan bukanlah satu-satunya yang berinvestasi di IoT. Perangkat nir-sentuh dan tanpa kontak telah menjadi jauh lebih menarik bagi bisnis di industri mulai dari perhotelan hingga ritel. Contoh dari penawaran ini termasuk akses gedung nir-sentuh, perangkat tempat penjualan nir-sentuh, dan kamera suhu tubuh. (ikh)

Baca juga:

AICI Artificial Intellegence Buatan Indonesia

Baca Artikel Asli