MERAHPUTIH.COM — KONTROVERSI Kim Soo-hyun menemukan titik terang baru. Operator kanal YouTube Hover Lab, atau yang dikenal dengan nama Garo Sero Institute, Kim Se-ui resmi ditahan pada Rabu (27/5). Se-ui dituduh menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyebarkan rumor jahat tentang Soo-hyun.
Kasus kontroversial ini menjadi sorotan nasional sejak 2025, ketika kanal Hover Lab merilis rekaman audio mendiang aktris Kim Sae-ron yang diduga membicarakan hubungannya dengan Soo-hyun. Rekaman itu memicu gelombang kecaman publik yang besar dan memaksa sang aktor menghentikan aktivitasnya selama lebih dari satu tahun.
Namun dalam perkembangan terkini, polisi menyimpulkan audio tersebut dibuat menggunakan teknologi suara berbasis AI. Pengungkapan itu diikuti surat perintah penangkapan diajukan terhadap YouTuber kontroversial Se-ui. Di lain sisi, pihak Soo-hyun telah menyiapkan nilai gugatan ganti rugi yang diajukan diperkirakan akan meningkat dari 12 miliar won (Rp 142 miliar) menjadi 30 miliar won (sekitar Rp 355 miliar).
Kuasa hukum Soo-hyun, Ko Sang-rok, menggambarkan insiden ini sebagai kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mereka tidak hanya memanipulasi persepsi publik dengan menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi dan memutarbalikkan narasi, tetapi juga memalsukan bukti-bukti inti seperti pesan KakaoTalk dan rekaman suara.
Ko Sang-rok, pengacara Kim Soo-hyun
Baca juga:
Polisi Ungkap Pesan Suara Kim Soo-hyun Manipulasi AI, Tangkap Kim Se-ui sebagai Tersangka
Rekayasa AI Berujung Kerugian
Kasus ini menyebabkan kerugian finansial dan profesional yang sangat besar bagi Soo-hyun. Berbagai kontrak iklan, jadwal kegiatan di luar negeri, dan proyek kontennya praktis terhenti. Salah satu dampak paling signifikan yakni terganggunya jadwal perilisan drama Disney+, Knock-Off, yang memiliki anggaran produksi sebesar 60 miliar won (sekira Rp 710 miliar).
“Queen of Tears merupakan kesuksesan global yang luar biasa. Namun, setelah Kim Se-ui mengangkat tuduhan palsu tersebut, semuanya benar-benar berhenti,” ujar Sang-rok.
Pada tahun lalu, pihak Soo-hyun mengajukan gugatan ganti rugi sebesar Rp 142 miliar. “Namun, berdasarkan data kerugian aktual yang telah kami serahkan kepada pihak penyidik, saat ini kami memperkirakan total kerugian mencapai sekitar Rp 355 miliar,” imbuhnya.
Baca juga:
Pihak Kim Soo-hyun Rencanakan Gugatan Rp 340 Miliar, Sebut Kehidupan Aktor ‘Hancur’
Kejahatan yang Terintegrasi dengan Teknologi
Para pakar industri memandang kasus ini sebagai titik balik yang sangat simbolis. Jika sebelumnya para YouTuber penyebar fitnah atau yang dikenal di Korea sebagai cyber wreckers hanya mengandalkan penyuntingan selektif atau spekulasi provokatif, kasus Soo-hyun menunjukkan bentuk kejahatan yang terintegrasi dengan teknologi. Pelaku memanfaatkan deepfake dan manipulasi suara berbasis AI sebagai senjata.
Kasus ini menunjukkan daya rusak yang luar biasa ketika teknologi AI dipadukan dengan narasi yang terdengar masuk akal.
Kritikus budaya Jung Duk-hyun
Seperti dilansir The Korea Times, meskipun kebenaran akhirnya terungkap, Duk-hyun mengaku hal itu hanya mungkin karena yang menjadi korban ialah aktor sekelas Soo-hyun. “Ia memiliki sumber daya untuk melacak dan membuktikan kebenaran. Orang biasa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu mungkin sudah benar-benar hancur,” tegasnya.
Jung juga memperingatkan bahwa insentif finansial yang diperoleh para pembuat konten semacam itu dari monetisasi video membuat kejahatan serupa sangat mungkin terulang di masa depan. Namun, ia menolak gagasan untuk membatasi teknologi AI secara menyeluruh. “Produksi video saat ini juga bergantung pada teknologi seperti de-aging (membuat seseorang tampak lebih muda secara digital) sehingga kita tidak bisa melarang teknologinya secara total,” jelasnya.
Di lain sisi, Duk-hyun meminta regulasi harus berfokus pada pemberian hukuman berat terhadap penyalahgunaan teknologi tersebut dan membuat batasan hukumnya benar-benar jelas.
Baca juga:
Jalan Kembali ke Dunia Hiburan belum Jelas
Hasil penyelidikan polisi memang tampak telah membersihkan nama Soo-hyun, tapi sejumlah pengamat menilai sang aktor masih menghadapi tantangan untuk sepenuhnya memulihkan citranya di mata publik.
Baru-baru ini, muncul kembali perdebatan dengan keluarga mendiang aktris Sulli, yang pernah beradu akting dengan Soo-hyun dalam film Real pada 2017. Isu mengenai dugaan pemaksaan selama proses syuting membuat Soo-hyun tetap berada di bawah sorotan publik. Meskipun demikian, bintang Queen of Tears itu diperkirakan akan kembali beraktivitas di industri hiburan.
Kritikus budaya Ha Jae-keun memprediksi secara hati-hati bahwa sang aktor akan segera melanjutkan kariernya. “Sentimen publik terhadap Kim Soo-hyun berbalik setelah polisi mengumumkan hasil penyelidikannya. Dengan meningkatnya dukungan publik, mulai muncul pandangan bahwa ia mungkin akan segera merilis drama yang selama ini tertunda,” katanya.
Sayangnya, kembalinya Soo-hyun ke industri hiburan tak akan terjadi dalam waktu dekat. Drama terakhir yang ia bintangi, Knock-Off, belum dipastikan tayang. Disney+ masih mempertahankan sikap hati-hati mereka dalam hal ini.
“Saat ini tidak ada perubahan yang dapat kami sampaikan,” ujar salah seorang perwakilan Disney+ mengenai jadwal tayang drama tersebut.
Knock-Off mengisahkan seorang pria yang kehidupannya berubah total akibat krisis keuangan Asia pada 1997 dan kemudian membangun kerajaan bisnis di pasar barang palsu global. Saat proyek ini diumumkan, drama tersebut menarik perhatian karena memiliki anggaran produksi sebesar 60 miliar won (sekitar Rp 710 miliar) serta dibintangi Soo-hyun sebagai pemeran utama.
Namun, acara konferensi pers dan rencana penayangan serial tersebut dibatalkan setelah sang aktor terseret kontroversi pribadi pada awal 2025, yang melibatkan mendiang aktris Kim Sae-ron.(dwi)
Baca juga:
Kasus Kim Soo-hyun Mulai Menemukan Titik Balik, Disney+ Masih Ogah Tayangkan ‘Knock-Off’