Merahputih.com - Pertandingan final Liga Champions 2026 pada Sabtu (30/5) akan mempertemukan dua raksasa Eropa, Arsenal dan Paris Saint-Germain (PSG).
Untuk memenangkan trofi paling bergengsi ini, skuad asuhan Mikel Arteta harus mengalahkan juara bertahan yang memiliki catatan luar biasa.
Berdasarkan data, Arsenal menduduki peringkat pertama dalam Opta Power Rankings dan menjadi ancaman nyata bagi ambisi PSG mempertahankan gelar juara. Pertandingan penentu ini diprediksi menjadi laga hidup mati yang menguras taktik dan fisik kedua tim.
Baca juga:
Analis Opta juga menyebut, Arsenal tidak bisa hanya mengandalkan pertahanan kokoh yang berbuah 11 kemenangan dengan skor 1-0 musim ini.
Declan Rice dan kawan-kawan harus berani keluar menyerang karena lini depan PSG yang diisi Ousmane Dembélé, Désiré Doué, dan Khvicha Kvaratskhelia hampir mustahil untuk diredam sepanjang 90 menit penuh.
Sisi Kanan Achraf Hakimi Menjadi Titik Lemah Juara Bertahan
Meskipun PSG berstatus sebagai tim yang menakutkan dengan produktivitas mencapai 2,24 gol per pertandingan, lini pertahanan Les Parisiens menyimpan celah besar.
Achraf Hakimi sering kali meninggalkan posisi saat membantu serangan, sehingga menyisakan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan.
Statistik mencatat bahwa hanya PSV dan Chelsea yang membiarkan lawan menciptakan peluang lebih banyak dari sisi kanan pertahanan dibandingkan PSG sebesat 37,3 persen.

Kondisi tersebut menjadi peluang emas bagi sektor sayap kiri Arsenal. Mikel Arteta kini menghadapi pilihan strategis antara menurunkan Leandro Trossard yang tampil konsisten di beberapa laga terakhir, atau memasang Gabriel Martinelli yang memiliki kecepatan tinggi untuk mengeksploitasi ruang kosong di belakang Hakimi.
Gol Luis Díaz bagi Bayern Munchen di babak semifinal menjadi bukti nyata betapa rapuhnya area yang ditinggalkan oleh bek asal Maroko tersebut.
Blunder Build-Up dan Ancaman Bola Mati Siap Menghukum PSG
Selain kelemahan di sektor sayap, raksasa Prancis juga sering melakukan kesalahan fatal saat membangun serangan dari lini belakang.
PSG tercatat melakukan 26 kesalahan yang berujung pada tembakan lawan di Liga Champions musim ini, serta menelan enam gol akibat blunder fatal.
Gaya permainan Arsenal yang menerapkan high pressing, seperti saat memaksa Manchester City melakukan kesalahan lewat aksi Kai Havertz bulan lalu, bisa menjadi kunci utama untuk merebut penguasaan bola di area berbahaya.
Baca juga:
Final Liga Champions: Arsenal Mencoba Seperti Liverpool, Manchester United, dan Manchester City
Skema bola mati juga menjadi senjata andalan yang siap dioptimalkan oleh Arsenal. Di kompetisi domestik, PSG menderita 20,7 persen gol dari situasi set-piece.
Mengingat Arsenal merupakan salah satu tim terbaik di dunia dalam memanfaatkan bola mati, tendangan sudut dan keahlian bola udara para pemain Meriam London berpotensi besar menjadi pembeda dalam pertandingan final ini.