Album 'Awal Masa' Jadi Ruang Paling Personal Raissa Faranda lewat Proyek GUNGS
Rabu, 04 Februari 2026 -
MerahPutih.com - GUNGS merupakan proyek solo milik Raissa Faranda, musisi yang sebelumnya dikenal aktif sebagai gitaris dan vokalis di berbagai proyek musik. Namanya lekat dengan band rock all-female ZIRAH, Noon Radar, serta keterlibatannya dalam kolaborasi bersama The Jansen dan unit post-metal Morgensoll.
Melalui nama GUNGS—yang diambil dari suku kata terakhir nama sang ayah, Agung Nugroho—Raissa memulai babak baru sebagai solois dengan merilis album debut bertajuk Awal Masa. Album ini menjadi ruang personal bagi Raissa untuk mengekspresikan kegelisahan terdalamnya, baik secara emosional maupun eksistensial.
Secara konseptual, Awal Masa lahir dari ketakutan Raissa terhadap oblivion, kondisi ketika kenangan perlahan memudar dan kehilangan makna.
Ia memaknai oblivion sebagai kecemasan bahwa emosi-emosi yang pernah begitu kuat—cinta, luka, amarah, hingga pengorbanan—pada akhirnya berhenti membekas dan tak lagi memengaruhi kehidupan. Justru kemungkinan itulah yang paling ia takuti.
“Aku takut dengan kemampuan untuk melupakan, memaafkan, dan melewati hal-hal sampai semuanya tidak lagi terasa mengganggu,” ungkap Raissa.
Baca juga:
Gledeg Rilis Album Kedua 'Buat Semua Umur', Hardcore Punk untuk Segala Usia
Zeke and The Popo Rilis 'Ghost Circuit', Penanda Album Baru Setelah 10 Tahun Lebih
Secara psikologis, ketakutan tersebut berkelindan dengan trauma keterikatan yang dialaminya sejak kecil. Kehilangan sosok ayah, perceraian orang tua, serta hubungan-hubungan dewasa yang rapuh membentuk dorongan untuk mempertahankan pengalaman emosional agar tidak lenyap tanpa arti. Di titik inilah, pemilihan nama GUNGS menjadi sangat personal dan simbolis.
Album Awal Masa dibuka dengan Jangan Berlalu, sebuah pembuka singkat yang merangkum kegelisahan utama album ini. Bagi Raissa, mengingat adalah bukti bahwa dirinya pernah mencintai dengan sepenuh hati.
Energi album kemudian diarahkan oleh IYAA, lagu yang ia sebut sebagai 'senjata utama' sekaligus penentu atmosfer bagi trek-trek selanjutnya.
Lalu di lagu Sesuka Hatimu mengulas kekecewaan dalam relasi pertemanan yang tak seimbang, tentang batas tipis antara berharap dan belajar melepaskan. Emosi kemudian bergeser ke wilayah reflektif lewat Di Oktober, yang mempertanyakan apakah kebencian memang diperlukan untuk memahami perasaan.
Salah satu puncak emosional album hadir lewat Hancur Gugur, lagu dengan durasi terpanjang yang mengangkat tema persahabatan, ekspektasi, dan runtuhnya kemungkinan. Lagu ini bahkan dibayangkan Raissa sebagai karya yang kelak dapat bergema di panggung besar.
Melalui Entah Sama, Raissa mencoba memandang luka dari dua sudut dalam kisah hubungan terlarang, menyadari bahwa rasa sakit dan kebingungan tidak pernah dimiliki satu pihak saja.
Kemudian ada Damai Mimpi, lagu tertua dalam album ini, ditulis sejak masa awal perjalanan bermusiknya. Lirik “jiwa kecilku haus akan dirimu” merefleksikan dampak perceraian orang tua yang membekas hingga kini.
Baca juga:
Single 'Nol' Jadi Cara Monkey To Millionaire Lepas Energi Kolektif
Perasaan yang dipendam dan tak terucap kemudian diluapkan dalam Memilih Diam. Album ini ditutup dengan Gila (Jalani Saja), sebuah lagu sederhana yang direkam menggunakan ponsel di kamar Raissa.
Nomor penutup ini merangkum keseluruhan perjalanan Awal Masa, dengan lirik “dan ku jalani saja” sebagai penanda kesiapan untuk melangkah ke depan meski tanpa jawaban yang sepenuhnya tuntas.
Seiring berakhirnya album, ketakutan akan oblivion perlahan mereda. Jarak dari sosok yang pernah begitu menentukan hidupnya tak menghapus jejak, melainkan menyisakan percikan yang membentuk keyakinan baru.
Awal Masa bergerak dari rasa takut akan kehilangan menuju kesadaran bahwa manusia dibentuk oleh seluruh pengalaman masa lalu—dan karenanya, tak pernah benar-benar hilang. (Far)