Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Dari Kelelawar Malam hingga Sarasvati, 5 Musisi Indonesia dengan Nuansa Horor

Ananda Dimas Prasetya - 2 jam, 21 menit lalu

MerahPutih.com - Horor dalam musik tidak selalu hadir melalui suara menyeramkan, dentuman keras, atau atmosfer gelap yang membuat pendengarnya merinding. Di tangan sejumlah musisi Indonesia, horor justru menjadi medium untuk merangkai cerita tentang mitos, makhluk gaib, ritual, hingga pengalaman mistis yang lekat dengan kehidupan masyarakat.

Tema horor juga membuka ruang eksplorasi bagi musisi untuk menggali sisi lain kehidupan manusia, mulai dari ketakutan terhadap sesuatu yang tak kasatmata hingga kepercayaan terhadap dunia di luar nalar. Kisah-kisah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam beragam pendekatan musikal, mulai dari punk dan black metal hingga folk atmosferik serta orkes Melayu.

Di Indonesia, sejumlah band dan musisi menjadikan unsur horor sebagai bagian dari identitas maupun warna musikal mereka. Berikut lima nama yang menarik disimak, terutama bagi pendengar yang ingin melihat bagaimana cerita mistis diolah menjadi karya musik dengan karakter berbeda.

1. Kelelawar Malam, Horor Lokal dalam Balutan Punk

Bagi Kelelawar Malam, horor bukan sekadar elemen tambahan, melainkan bagian penting dari identitas musikal mereka. Band asal Jakarta ini dikenal melalui pendekatan horror metal punk yang memadukan energi punk dengan riff gitar metal, sembari mengangkat berbagai kisah menyeramkan yang dekat dengan budaya populer Indonesia.

Sejumlah lagu mereka, seperti “Bangkit dari Kubur, Malam Jumat Kliwon, Ratu Kegelapan, dan Suzannakenstein, memperlihatkan ketertarikan terhadap dunia mistis, mayat hidup, serta karakter horor yang akrab bagi penikmat film horor Indonesia.

Salah satu cerita yang diangkat terlihat dalam Suzannakenstein, yang berkisah tentang seseorang yang berusaha menghidupkan kembali kekasihnya yang telah meninggal dunia.

Namun, horor dalam karya Kelelawar Malam tidak terbatas pada sosok hantu atau makhluk gaib. Dalam sejumlah lagu, perilaku manusia dan persoalan sosial juga menjadi sumber kengerian. Pendekatan ini memberi ruang interpretasi yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter liar dan gelap khas musik punk mereka.

Baca juga:

5 Podcast Horor Indonesia untuk Menemani Malam Halloween 2026

2. RABU, Membangun Kengerian Lewat Atmosfer dan Cerita

Musik horor tidak selalu membutuhkan distorsi gitar yang keras atau vokal yang menggelegar. RABU, proyek musik asal Yogyakarta yang digawangi Wednes Mandra dan Judha Herdanta, menghadirkan pendekatan berbeda melalui folk bernuansa misterius, permainan gitar yang saling bersahutan, serta lirik yang bersinggungan dengan ketakutan, kematian, cinta, dan mistisisme.

Salah satu rilisan penting mereka adalah album Renjana, yang dirilis pada 2014. Album ini memperkuat karakter RABU sebagai proyek musik yang membangun suasana ganjil dan mencekam melalui komposisi serta penyampaian cerita, alih-alih hanya mengandalkan gambaran horor secara eksplisit.

Nuansa tersebut juga tercermin dalam kemasan album Renjana yang menyerupai sesajen. Pilihan ini mempertegas keterkaitan antara musik, simbol, dan atmosfer mistis yang dibangun RABU.

Melalui pendekatan tersebut, RABU memperlihatkan bahwa kengerian dapat muncul dari kesunyian, pengulangan bunyi, hingga cerita yang menyisakan ruang bagi imajinasi pendengar.

3. Tahlilan, Ritual Mistis dalam Balutan Black Metal

Tahlilan merupakan band black metal asal Tangerang, Banten, yang telah terbentuk sejak 2008. Mereka mengusung konsep theatrical mysticism black metal dengan memadukan musik ekstrem dan kisah-kisah mistis dari Tanah Jawa, mulai dari ritual dan suasana kematian hingga kepercayaan pagan.

Konsep horor Tahlilan tidak hanya hadir melalui musik, tetapi juga diwujudkan dalam penampilan panggung. Sang vokalis, Aip Peqink, tampil mengenakan kostum pocong, sementara personel lainnya menggunakan jubah merah untuk membangun atmosfer yang menyerupai ritual pemakaman.

Pendekatan teatrikal tersebut membuat penampilan Tahlilan terasa seperti perwujudan kisah mistis yang selama ini hidup dalam imajinasi masyarakat.

Perpaduan musik black metal dan elemen visual yang lekat dengan ritual kematian menjadi ciri pendekatan mereka dalam mengangkat horor ke atas panggung.

Baca juga:

Berani Nonton Sendirian? 5 Film Horor Klasik Ini Punya Teror yang Berbeda

4. Sarasvati, Mengisahkan Makhluk Tak Kasatmata Lewat Musik

Nama Sarasvati lekat dengan karya-karya yang mengangkat cerita mistis dan pengalaman yang berkaitan dengan dunia tak kasatmata. Dipimpin oleh Risa Saraswati, proyek musik ini memadukan kisah horor dengan komposisi pop serta sentuhan musik tradisional Sunda untuk menghadirkan suasana melankolis sekaligus mencekam.

Identitas musikal tersebut mulai diperkenalkan melalui album Story of Peter pada 2010. Cerita yang berkaitan dengan pengalaman Risa dan sosok-sosok yang ia ceritakan menjadi inspirasi penulisan lirik, sehingga lagu-lagunya terasa seperti rangkaian kisah dengan karakter dan latar masing-masing.

Salah satu lagu yang menarik untuk disimak adalah Bilur. Lagu ini mengangkat kisah seorang kerabat Risa yang meninggal saat mengandung. Unsur tembang sinden turut memperkuat atmosfer misterius yang dibangun dalam komposisinya.

Perpaduan vokal, piano, dan elemen etnik menghadirkan pendekatan horor yang berbeda dari musik yang mengandalkan suara keras atau distorsi. Dalam karya Sarasvati, suasana melankolis dan kekuatan cerita menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman mendengarkan.

5. Babaloman, Kisah Klenik dalam Irama Orkes Melayu

Babaloman menawarkan pendekatan berbeda dalam mengolah tema horor. Jika sejumlah nama sebelumnya membangun suasana gelap melalui punk, folk, atau metal, kelompok musik asal Depok ini membawa cerita supranatural ke dalam balutan Orkes N’ Roll.

Babaloman memadukan corak orkes Melayu dengan lirik yang mengangkat fenomena klenik dan kisah-kisah supranatural di lingkungan masyarakat.

Ketertarikan mereka terhadap cerita mistis terlihat dari sejumlah judul lagu, seperti Pocong Keliling, Keranda Terbang, dan Kolor Ijo. Ketiganya dirilis pada 2021 dan merujuk pada figur maupun gambaran horor populer yang dikenal masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Babaloman membawa tema horor ke dalam warna musikal yang berbeda. Kisah-kisah mistis tidak hanya menjadi bahan untuk membangun suasana mencekam, tetapi juga diolah melalui irama orkes Melayu yang menjadi karakter musik mereka. (Far)

Baca Artikel Asli