Sekolah dari Rumah? Simak Cerita Mahasiswa yang Menjalani Sistem Kuliah Online

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 16 Maret 2020
Sekolah dari Rumah? Simak Cerita Mahasiswa yang Menjalani Sistem Kuliah Online

Mengubah metode kelas tatap muka menjadi virtual karena pandemi Corona (Foto: xinhuanet)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BEBERAPA minggu kebelakang, kamu semua pasti sudah mendengar tentang bagaimana wabah COVID-19 merubah dunia. Hanya berselang beberapa minggu dari penyebaran pertama di Tiongkok, hampir seluruh negara di dunia 'collapse' karena pandemi yang satu ini.

Beberapa waktu lalu Indonesia juga sudah resmi menjadi negara yang warganya terinfeksi virus Corona. Berbagai upaya pencegahan dilakukan, pemerintah sudah mulai meminta masyarakat agar menghindari tempat ramai dan meminimalisasi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Hal ini termasuk institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas.

Baca juga:

Sekolah Diliburkan Karena Corona? Ini Deretan Situs Belajar Online yang Bisa Kamu Akses

Lantas bagaimana tanggapan para mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia yang diminta untuk tidak melakukan kegiatan belajar mengajar di kampus? Untuk itu, Merah Putih melakukan wawancara pada tiga mahasiswa dari tiga universitas yang berbeda. Mendengar tanggapan mereka terkait berita kuliah tanpa tatap muka ini, berikut selengkapnya:

Tiga kampus di bilangan Tangerang Selatan sudah mengeluarkan pemberitahuan resmi terkait kuliah online

Sekolah dari Rumah? Simak Cerita Mahasiswa yang Menjalani Sistem Kuliah Online
Beberapa sekolah dan universitas mengganti metode pembelajaran menjadi online (facultyfocus)

Apa ya rasanya ketika kegiatan perkuliahan sehari-hari yang tadinya dialami oleh para mahasiswa/i di kelas diubah menjadi online? Ini yang dialami para pelajar di beberapa universitas di Indonesia. Ketiga kampus di Tangerang Selatan baru saja mengumumkan peraturan terbarunya demi mencegah kontak sosial dengan orang lain. Tiga perwakilan dari masing-masing kampus memberitahukan pendapatnya.

Mereka adalah Michellina, mahasiswi tingkat akhir Universitas Bina Nusantara Alam Sutra jurusan Food Technology. Kemudian ada Samario yang merupakan mahasiswa Teknik Mesin dari Universitas Atma Jaya, BSD City yang masih duduk di semester 4, dan Angelika Saraswati Monterie mahasiswi semester 2 dari Universitas Multimedia Nusantara jurusan Jurnalistik.

Ada satu persamaan dari ketiga mahasiswa ini yaitu universitas tempat mereka belajar baru saja mengumumkan untuk mengubah sistem perkuliahan yang tadinya tatap muka menjadi tatap lewat layar digital. Semua pemberitahuan tersebut disebarkan secara digital lewat grup-grup jurusan dan e-mail resmi dari pihak kampus.

"Iya awalnya saya tahu kampus akan melakukan kuliah online pada tanggal 13 Maret 2020 yang lalu sembari penyebaran info bahwa UTS dijadikan take home," ujar Angelika. Samario juga mengatakan bahwa para mahasiswa dan mahasiswi Atma Jaya mendapatkan surat elektronik dari rektorat, yang menyatakan bahwa kuliah akan diubah menjadi online class. Namun, hal tersebut tetap tergantung dosen apakah ingin tetap membuat kelas tatap muka atau tidak.

Berbeda dengan dua mahasiswa di atas, peraturan dari Bina Nusantara terkait kelas daring ini sebenarnya hanya sebagai penambahan saja, karena sebelumnya pelajar di universitas ini memang sudah menjalankan program GSLC (Guided Self Learning Class). Michellina mengatakan, "biasanya diberlakukan 5 kali kelas online di antara 13 pertemuan tatap muka. Jadi kelas online memang sudah ada sejak sebelum korona mencuat, tapi jadinya kelas (online) ini diperbanyak."

Baca juga:

Mengenal 'Herd Immunity' yang Kabarnya Bisa Menghentikan Virus Corona

Akibat dari penerapan sistem kuliah online

Sekolah dari Rumah? Simak Cerita Mahasiswa yang Menjalani Sistem Kuliah Online
Kuliah online bisa membuat tugas mahasiswa menjadi lebih banyak (Pixabay/Tumisu)

"Karena saya sedang melakukan penelitian di lab dan bukan kelas biasa, saya merasa biasa-biasa aja, namun jika saya mahasiswa yang masih mengikuti kelas, hal ini merugikan karena kelas online akan memakan waktu yang lebih banyak, tugas juga jadi banyak," keluh Michellina.

Kebetulan Michellina saat ini pun sudah tidak ada kelas reguler karena ia sedang mengerjakan skripsi yang berupa penelitian di laboratorium. Jadi, mau tidak mau dia tetap harus datang ke kampus untuk mengerjakan penelitian.

Sementara itu, kedua mahasiswa lain Samario dan Angelika malah merasa sedikit senang ketika peraturan ini muncul karena tidak perlu ke kampus. Lagi pula bagi mereka berdua, yang masih duduk di semester 4 dan semester 2, kuliah online ini bukan sesuatu yang terlalu mengganggu, namun mereka tetap menyadari konsekuensinya, yakni tugas yang diberikan menjadi lebih banyak.

Kekhawatiran mereka pun hanya sampai pada taraf takut tidak bisa mendapatkan pengajaran yang lebih efektif karena tidak semua materi bisa tersampaikan hanya lewat digital saja. Namun, ketiganya sepakat bahwa keputusan yang diambil oleh universitasnya ini adalah langkah yang tepat dalam melawan penyebaran virus Corona.

Meski demikian, ketika ditanya bagaimana pendapat mereka dengan fasilitas kampus yang sudah dibayarkan namun akhirnya jadi tidak terpakai karena 'liburan' ini, ketiganya merasa cukup keberatan. Padahal mereka sudah membayar kewajiban mereka untuk mendapatkan fasilitas terbaik yang ada di kampus, namun karena adanya wabah pandemi Corona akhirnya mereka memakluminya karena tujuannya juga untuk kebaikan bersama.

Efektivitas perubahan metode belajar

Sekolah dari Rumah? Simak Cerita Mahasiswa yang Menjalani Sistem Kuliah Online
Kuliah online efektif atau tidak tergantung kepada masing-masing mahasiswa (Pixabay/Tumisu)

Bagi Michellina sendiri sebenarnya peraturan ini tidak terlalu signifikan. Ia mengaku tidak terlalu takut dengan virus Corona ketika harus tetap datang ke kampus karena ketika masuk laboratorium pun ia harus dalam keadaan yang steril. "Karena mainnya di lab bahan kimia, kita juga banyak pakei pelindung seperti masker, sarung tangan, dan jas lab. Fokus sama penelitian masing-masing jadi tidak banyak kontak dengan yang lain," terangnya.
Ia justru lebih yakin tidak terkena virus karena ia meneliti dengan HCL dan asam kimia lainnya yang jika terkena tubuh saja akan begitu sakit, jadi kemungkinan ada virus juga jadi lebih kecil.

Untuk Angelika sendiri, ia menjelaskan bahwa, "efektif atau tidaknya kuliah online ini tergantung mata kuliah dan tugasnya, karena tidak semua materi kuliah dapat diserap matang-matang secara online."

Sementara Samario mengatakan bahwa kemajuan pembelajaran dengan metode daring ini tergantung dari mahasiswa itu sendiri. Ia malah menambahkan bahwa tidak ada jaminan perkuliahan online ini akan sangat efektif meminimalisasi penyebaran Corona. Pasalnya kalau mahasiswa tidak berkuliah ke kampus namun malah berpergian, kemungkinan terinfeksi COVID-19 jadi lebih tinggi.

Walau ketiganya memiliki pengalaman yang berbeda terkait kuliah online, ketiga mahasiswa ini setuju bahwa solusi yang paling tepat harus datang dari pemerintah. Mereka berharap pemerintah akan lebih cepat tanggap dalam kasus COVID-19 ini agar kegiatan perkuliahan tidak menjadi terhambat.

Selain itu, mereka berharap kepada pihak kampus masing-masing agar bisa mempersiapkan semua fasilitas yang memadai. Tentunya, agar kuliah online ini juga bisa dibuat seefektif mungkin dan tidak menganggu kegiatan belajar mengajar. Pastinya Michellina, Samario, dan Angelika juga berpesan agar para mahasiswa tetap tenang dan tidak panik menghadapi masalah ini. (Sam)

Baca juga:

Pandemi Corona, Takut Boleh Panik Jangan

#Virus Corona #Penyakit Corona #Virus #Penyebaran Virus #Mahasiswa #Kuliah #Universitas
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital yang memiliki latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.

Berita Terkait

Indonesia
Ogah Program MBG Dikorupsi, Wapres Gibran Rakabuming Ajak Mahasiswa Jadi Mata-Mata Pemerintah
Pembenahan menyeluruh lini distribusi logistik diharapkan mampu menutup celah manipulasi laporan keuangan tingkat bawah.
Angga Yudha Pratama - Kamis, 18 Juni 2026
Ogah Program MBG Dikorupsi, Wapres Gibran Rakabuming Ajak Mahasiswa Jadi Mata-Mata Pemerintah
Berita Foto
Pengamanan Kawasan Bundaran Hotel Indonesia Kawal Aksi Unjuk Rasa BEM UI
Sejumlah personel kepolisian berjaga di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jum'at (12/6/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 12 Juni 2026
Pengamanan Kawasan Bundaran Hotel Indonesia Kawal Aksi Unjuk Rasa BEM UI
Indonesia
Mahasiswa UI Tetap Bergerak ke Bundaran HI Meski Tertahan Aparat, Bawa 5 Tuntutan untuk Pemerintah
Massa mahasiswa UI tertahan aparat di Jalan Jenderal Sudirman saat menuju Bundaran HI. Mahasiswa tetap long march dan membawa lima tuntutan kepada pemerintah.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 12 Juni 2026
Mahasiswa UI Tetap Bergerak ke Bundaran HI Meski Tertahan Aparat, Bawa 5 Tuntutan untuk Pemerintah
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Beredar informasi yang menyebut Hantavirus adalah virus bohongan yang diambil dari bahasa Israel. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 22 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Hantavirus Adalah Rekayasa dan Bohongan
Indonesia
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Timwas DPR meminta jemaah untuk menjaga kebersihan, menggunakan masker di tempat umum, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 17 Mei 2026
Tim Pengawas Haji Ingatkan Pemerintah Pantau Kesehatan Jemaah Terkait Hantavrus
Indonesia
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Meskipun Indonesia sedang gencar membangun infrastruktur seperti jalan tol dan gedung pencakar langit, risiko ancaman virus yang dibawa oleh tikus (rodensia) ini justru semakin tinggi
Angga Yudha Pratama - Jumat, 15 Mei 2026
Ancaman Virus Hanta Mengintai Wilayah Urban, DPR RI Desak Penguatan Edukasi
Lifestyle
Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada
Kementerian Kesehatan memperketat kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus. Masyarakat pun diimbau untuk mendeteksi dini.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Waspada
Indonesia
Bandara Soetta Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Penumpang dari 4 Negara Diawasi
Bandara Internasional Soekarno-Hatta kini menyiapkan langkah untuk mengantisipasi hantavirus. Ada empat negara yang dilakukan pengawasan.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
Bandara Soetta Antisipasi Penyebaran Hantavirus, Penumpang dari 4 Negara Diawasi
Indonesia
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
BRIN mengimbau masyarakat untuk memahami penularan hantavirus. Virus ini berasal dari hewan pengerat atau tikus liar.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
Indonesia
Hantavirus Menyebar, Penumpang dari AS Bakal Diawasi Kekarantinaan Kesehatan Soetta
Di Bandara Soetta memiliki jalur khusus evaluasi untuk penyakit menular. Nantinya jika terdapat penyakit menular yang teridentifikasi pihaknya akan melakukan penanganan lebih lanjut.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 12 Mei 2026
Hantavirus Menyebar, Penumpang dari AS Bakal Diawasi Kekarantinaan Kesehatan Soetta
Bagikan