MerahPutih, Nasional-Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Widya Purnama tutup usia, Selasa, (18/8) pada pukul 05:10 WIB di RS Mount Elizabeth, Singapura. Widya meninggal dalam usia 61 tahun akibat sakit yang dideritanya.
Widya dilahirkan di Pare-pare, Sulawesi Selatan pada 26 Juli 1954. Pria yang selalu ramah kepada wartawan ini meniti kariernya di PT Indosat dari bawah sebagai karyawan biasa. Kemudian Widya dipercaya menduduki posisi manajer di Indosat di Medan.
Setelah dari Medan, Widya ditarik ke Jakarta untuk menjabat Manager Divisi Pengembangan Strategis Indosat dan Direktur Utama PT Electronic Data Interchange (EDI) Indonesia.
Berkat kegigihannya, suami Sri Hetty Indiyah ini bisa sampai ke puncak tangga karier di Indosat. Sebelumnya, Widya tak pernah bermimpi bakal menduduki posisi direktur utama karena berkali-kali kandas saat fit and proper test. Ia mulai menduduki jabatan sebagai Dirut Indosat kurun 2002 hingga 2004.
Sesaat setelah dilantik, ia bertekad akan transparan kepada siapapun dan tidak mau diintervensi. Setelah menjadi Dirut, penampilannya pun tak banyak berubah. Ia tetap akrab dengan semua karyawan. Ia memang berjanji janji akan berlaku adil dan membuat keteladanan bagi karyawannya.
Lulusan teknik elektro Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya ini bertekad menjadikan Indosat sebagai lembaga yang bersih dari berbagai intrik. Maka untuk itu, sebagai pemimpin, ia tidak segan-segan bertindak tegas kepada karyawan yang mencoba-coba berbuat merugikan perusahaan.
Bagi ayah dari Batara Indra, Batara Wisnu (almarhum), Annisa Purnama, dan Auliana Purnama ini bekerja itu adalah ibadah. Prinsip inilah yang menuntunnya untuk selalu berupaya berbuat yang terbaik bagi perusahaan, bangsa dan negara.
Peraih gelar Master Manajemen di Institut Teknologi Bandung ini memiliki obsesi mengorbitkan Indosat menjadi penyedia solusi telekomunikasi yang bersifat menyeluruh (Full Network and Service Provider/FNSP) berkelas dunia. Untuk itu, Widya telah dilakukan restrukturisasi bisnis Indosat, dari semula mengandalkan jasa SLI menjadi penyelenggara bisnis mobile communications, fixed communications, MIDI (Multimedia, Datacom and Internet), serta backbone network services.
Sejak Mei 2002 perusahaan publik ini bersama enam anak perusahaan, masing-masing Satelindo, Indosat Multimedia Mobile (IM3), Lintas Arta, Indosat Mega Media (IM2), Sisindosat, Indosatcom meluncurkan brand Indosat Group dan mengumumkan pendekatan bisnis yang lebih berorientasi pada kebutuhan pelanggan, yakni melalui sinergi sumber daya dan layanan serta konsolidasi.
Pada 2004, Widya ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Dalam 100 hari kepemimpinannya, Widya berjanji mewujudkan perbaikan di tubuh Pertamina jika tidak berhasil, ia akan mengundurkan diri. Ia juga berjanji akan melawan mafia minyak dan menjaga agar Pertamina tidak "diobok-obok" lagi oleh oknum tertentu serta akan menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas nomor satu di kawasan Asia Tenggara, mengalahkan Petronas, Malaysia.
Namun, belum keinginannya tercapai, pada Rabu 8 Maret 2006 dia pun digantikan oleh Ari H Soemarno, yang sebelumnya menjabat direktur pemasaran dan niaga. Karena dianggap sering berbeda kebijakan dengan Menneg BUMN. (rfd)
Baca Juga:
Mantan Dirut Pertamina Widya Purnama Wafat
Diam-Diam Pertamina Kembali Naikkan Harga BBM
Pertamina Minta BI Tinjau Aturan Wajib Pakai Rupiah