MERAHPUTIH.COM — WHO bergerak cepat menangani wabah hantavirus yang merebak di atas MV Hondius. Evakuasi penumpang kapal pesiar itu resmi rampung pada Senin malam. Sebanyak 87 penumpang dan 35 awak kapal dievakuasi dari kapal ke daratan di Tenerife oleh petugas.
Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kasus yang dikonfirmasi maupun yang masih diduga sejauh ini hanya ditemukan di antara penumpang atau awak kapal pesiar tersebut.
“Saat ini, belum ada tanda bahwa kita sedang melihat awal dari wabah yang lebih besar. Namun, tentu situasi bisa berubah. Mengingat masa inkubasi virus yang panjang, mungkin saja kita akan melihat lebih banyak kasus dalam beberapa minggu mendatang,” kata Ghebreyesus.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Argentina mengatakan pada Selasa (12/5) bahwa tim ahli ilmiah akan dikirim dalam beberapa hari mendatang untuk menyelidiki asal-usul wabah tersebut.
Baca juga:
WHO Sebut Total 11 Kasus Hantavirus Dilaporkan dari MV Hondius
Pasangan asal Belanda yang diidentifikasi WHO sebagai penumpang pertama kapal pesiar yang terinfeksi hantavirus diketahui menghabiskan beberapa bulan di Argentina dan negara-negara tetangga di Amerika Selatan sebelum naik ke kapal pesiar. Suami dan istri tersebut kemudian meninggal dunia.
Pejabat Argentina mengatakan pasangan itu mengikuti tur pengamatan burung yang mencakup kunjungan ke tempat pembuangan sampah, lokasi mereka mungkin terpapar hewan pengerat pembawa infeksi.
Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan timnya akan menyelidiki tempat pembuangan sampah tersebut dan lokasi lain yang dikunjungi pasangan itu, tempat tikus pembawa virus diketahui ditemukan. Namun, pejabat lokal di provinsi tempat kapal pesiar berangkat membantah teori bahwa wabah berasal dari sana.
Hantavirus biasanya menyebar melalui kotoran hewan pengerat dan tidak mudah menular antarmanusia. Namun, virus strain Andes yang terdeteksi dalam wabah kapal pesiar ini mungkin dapat menular antarmanusia dalam kasus langka.
Gejala, yang dapat mencakup demam, menggigil, dan nyeri otot, biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan.
Ghebreyesus menyarankan agar penumpang yang kembali menjalani karantina selama 42 hari, baik di rumah maupun fasilitas lain. Ia menambahkan WHO tidak dapat memaksa penerapan pedoman tersebut, dan tiap negara mungkin menangani pemantauan penumpang tanpa gejala dengan cara berbeda.(dwi)
Baca juga: