Virus Nipah Kembali Menghantui, Alarm Kesehatan Asia Dinyalakan

ImanKImanK - Selasa, 27 Januari 2026
Virus Nipah Kembali Menghantui, Alarm Kesehatan Asia Dinyalakan

Ilustrasi virus Nipah. Foto Freepik

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPPutih.com - Virus Nipah kembali menjadi perhatian serius dunia setelah sejumlah kasus terkonfirmasi di India, tepatnya di negara bagian Bengal Barat.

Situasi ini memicu respons cepat dari negara-negara Asia lainnya, termasuk Thailand dan Nepal, yang mulai memperketat pengawasan kesehatan di bandara dan perbatasan.

Meski tergolong langka, Nipah dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan dengan tingkat kematian hingga 75 persen dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.

Kasus Nipah di India Picu Alarm Regional

Otoritas kesehatan India melaporkan lima kasus terkonfirmasi, sebagian besar melibatkan tenaga medis di sebuah rumah sakit swasta di wilayah Barasat, dekat Kolkata. Hampir 100 orang harus menjalani karantina, sementara ratusan lainnya masuk dalam proses pelacakan kontak.

Baca juga:

Virus Nipah yang Mengancam Asia dan Pencegahan Pandemi Selanjutnya

Dua perawat yang terinfeksi dilaporkan tertular saat merawat pasien dengan gejala gangguan pernapasan berat. Salah satu di antaranya berada dalam kondisi kritis. Temuan ini kembali menegaskan risiko penularan dari manusia ke manusia, terutama di lingkungan rumah sakit.

Kementerian Kesehatan India pun mengeluarkan peringatan nasional, meminta seluruh negara bagian meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Acute Encephalitis Syndrome (AES), yang kerap menjadi manifestasi klinis infeksi Nipah.

Thailand dan Nepal Perketat Skrining Bandara

Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Kesehatan Thailand mulai melakukan skrining penumpang udara dari India, khususnya yang datang dari Bengal Barat, di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang.

Pemerintah Thailand juga membagikan Health Beware Card, berisi peringatan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, sesak napas, mengantuk berlebihan, kebingungan, hingga kejang. Penumpang dengan riwayat kontak berisiko diminta segera mencari pertolongan medis.

Baca juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Penularan Virus Super Flu Dinilai Lebih Cepat dan Berbahaya dari COVID-19

Langkah serupa diambil Nepal, yang meningkatkan kewaspadaan nasional dan memperketat pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Tribhuvan serta titik-titik perbatasan utama dengan India.

Ilustrasi
Ilustrasi virus. (Foto: Pexels)

Apa Itu Virus Nipah?

Menurut World Health Organization (WHO), virus Nipah (NiV) termasuk dalam daftar priority pathogens karena potensi wabahnya yang tinggi.

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia, setelah terjadi wabah ensefalitis di kalangan peternak babi. Sejak itu, kasus Nipah muncul sporadis di India, Bangladesh, Filipina, dan beberapa negara Asia Selatan lainnya.

Reservoir alami Nipah adalah kelelawar buah (Pteropus). Penularan ke manusia dapat terjadi melalui:

  • Konsumsi buah atau makanan yang terkontaminasi air liur/urin kelelawar
  • Kontak dengan hewan terinfeksi (termasuk babi)
  • Penularan antarmanusia, terutama melalui cairan tubuh

Baca juga:

Dinkes DKI Jakarta Minta Warga Tak Panik Terkait Virus Super Flu, Tapi Tetap Waspada

Gejala Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi Nipah berkisar 4 hingga 21 hari, bahkan bisa lebih lama dalam kasus tertentu. Gejala awal sering menyerupai flu biasa, sehingga sulit terdeteksi sejak dini.

Gejala umum meliputi:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan kelelahan
  • Muntah dan sakit tenggorokan

Pada tahap lanjut, pasien bisa mengalami:

  • Gangguan pernapasan
  • Kebingungan dan penurunan kesadaran
  • Kejang hingga koma akibat radang otak (ensefalitis)

Beberapa penyintas dilaporkan mengalami gangguan neurologis jangka panjang, bahkan kekambuhan bertahun-tahun kemudian.

Baca juga:

Virus Mers Corona Mengancam lewat Hewan, Jemaah Haji Indonesia Dilarang Dekat-Dekat dan Minum Susu Unta

Mengapa Virus Nipah Sangat Berbahaya?

Selain tingkat kematian yang tinggi, Nipah berbahaya karena:

  • Tidak ada vaksin atau obat antivirus khusus
  • Gejala awal sering tidak spesifik
  • Risiko penularan di fasilitas kesehatan tinggi
  • Potensi mutasi dan wabah lintas negara

WHO menekankan bahwa keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penularan, khususnya bagi tenaga medis dan keluarga pasien.

Upaya Pencegahan yang Disarankan Ahli

Tanpa vaksin, pencegahan menjadi kunci utama. Otoritas kesehatan global merekomendasikan langkah berikut:

1. Hindari konsumsi buah mentah dari area terbuka
Buah yang tampak tergigit kelelawar sebaiknya dibuang.

2. Cuci dan kupas buah sebelum dikonsumsi
Langkah sederhana ini dapat mengurangi risiko kontaminasi.

3. Gunakan alat pelindung saat menangani hewan sakit
Terutama di daerah dengan populasi kelelawar tinggi.

4. Batasi kontak dengan pasien terinfeksi
Cuci tangan secara rutin dan gunakan perlindungan medis yang memadai.

#Apa Itu Virus Nipah #Virus Nipah #Virus #India #Bangladesh #Nepal
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
5.083 Orang Masih Hilang Akibat Banjir Bandang Nepal, Keluarga Upacara Pemakaman Simbolis
Para korban yang kehilangan semuanya dan sedang berupaya mencari tempat di Kathmandu juga tak dapat menemukan fasilitas publik yang layak untuk melakukan ritual.
Alwan Ridha Ramdani - 2 jam, 28 menit lalu
5.083 Orang Masih Hilang Akibat Banjir Bandang Nepal, Keluarga Upacara Pemakaman Simbolis
Dunia
Ancaman Kesehatan Sampai Risiko Banjir Susulan masih Membayangi Nepal
Selain korban jiwa, banjir bandang juga menyapu permukiman, jalan, lahan pertanian, serta berbagai infrastruktur yang berada di sepanjang jalur alirannya.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Ancaman Kesehatan Sampai Risiko Banjir Susulan masih Membayangi Nepal
Indonesia
Lebih dari 110 Orang Diselamatkan Sepekan setelah Banjir Bandang Nepal
Banjir bandang tercatat menewaskan lebih dari 1.000 orang, sedangkan lebih dari 3.900 orang masih dinyatakan hilang.
Dwi Astarini - Rabu, 02 September 2026
  Lebih dari 110 Orang Diselamatkan Sepekan setelah Banjir Bandang Nepal
Indonesia
3.000 Orang Dinyatakan Hilang Dalam Banjir Bandang di Nepal, Korban Tewas Ditemukan di Perbatasan India
Jenazah ditemukan hingga mencapai wilayah perbatasan dengan India. Sejumlah besar warga negara asing masih termasuk di antara mereka yang belum diketahui keberadaannya.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 30 Agustus 2026
3.000 Orang Dinyatakan Hilang Dalam Banjir Bandang di Nepal, Korban Tewas Ditemukan di Perbatasan India
Dunia
2.000 Orang Dilaporkan Hilang dalam Banjir Bandang Nepal, Banyak Merupakan Wisatawan
Polisi mengatakan warga negara asing yang hilang berasal dari 36 negara.
Dwi Astarini - Jumat, 28 Agustus 2026
  2.000 Orang Dilaporkan Hilang dalam Banjir Bandang Nepal, Banyak Merupakan Wisatawan
Dunia
Korban Banjir Bandang Nepal Mencapai 469 Orang, Danau Baru Ancam Banjir Susulan
Tim penyelamat masih menemukan jenazah di antara timbunan puing dan lumpur.
Dwi Astarini - Jumat, 28 Agustus 2026
 Korban Banjir Bandang Nepal Mencapai 469 Orang, Danau Baru Ancam Banjir Susulan
Indonesia
Korban Tewas Banjir Bandang di Nepal 298 Orang, 10 Ribu Orang Kehilangan Rumah
Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Kamis, yang menggambarkan situasi tersebut sebagai "katastropik".
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 28 Agustus 2026
Korban Tewas Banjir Bandang di Nepal 298 Orang, 10 Ribu Orang Kehilangan Rumah
Dunia
4.000 Personel Militer Dikerahkan Cari Korban Banjir Bandang di Nepal, 100 Warga China Masih Hilang
Kedutaan Besar China di Nepal saat ini sedang melakukan verifikasi lebih lanjut dengan pemerintah Nepal.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 28 Agustus 2026
4.000 Personel Militer Dikerahkan Cari Korban Banjir Bandang di Nepal, 100 Warga China Masih Hilang
Dunia
Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal
Sebagian besar bagian ujung gletser runtuh dan memicu peristiwa tersebut.
Dwi Astarini - Kamis, 27 Agustus 2026
   Ahli Iklim Sebut Gletser yang Runtuh Picu Banjir Bandang Mematikan di Nepal
Indonesia
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Jumlah orang yang hilang setelah bencana longsor lumpur di dekat perlintasan perbatasan Gyirong (Jilong) antara China dan Nepal bertambah menjadi 558 orang
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 27 Agustus 2026
Ratusan Orang Hilang Termasuk 250 WNA Dalam Bencana Longsor di Nepal
Bagikan