MerahPutih.com - Ramai di media sosial yang memperlihatkan kondisi Sungai Ciliwung di Jalan Matraman Dalam, Jakarta Pusat, yang mengalami pendangkalan. Dalam rekaman tersebut, aliran sungai terlihat menyempit dengan permukaan air yang dangkal dan dipenuhi endapan.
Di sisi lain, bantaran sungai terlihat dipenuhi tumpukan lumpur dan material sampah yang mengendap. Bahkan, sebagian badan sungai telah ditumbuhi rerumputan akibat dangkalnya sungai.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung buka suara terkait pendangkalan Sungai Ciliwung di Jalan Matraman Dalam, Jakarta Pusat yang viral di media sosial (medsos).
Menurut Pramono, masifnya sorotan publik justru membantu pemerintah mempercepat penanganan di lapangan.
Baca juga:
Normalisasi Sungai Ciliwung Dilanjutkan, Pemprov DKI Siapkan Anggaran Rp 232 Miliar
"Memang saya harus akui, semakin diviralkan menurut saya makin baik, sehingga kita segera menangani itu karena tidak semua daerah itu bisa dijangkau," kata Pramono di gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin (13/4).
Dari kondisi itu, politikus PDI Perjuangan ini mengakui, kondisi sungai di sejumlah titik memang belum sepenuhnya tertangani karena luasnya cakupan wilayah.
"Dari segi luas cakupan, jangkauan memang cukup luas. Kemarin konsentrasi untuk Ciliwung ini kan sebenarnya normalisasi Sungai Ciliwung yang segmen Cawang. Alhamdulillah pembebasan tanahnya relatif sudah selesai," ucapnya.
Pramono menjelaskan salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah pertemuan aliran Sungai Ciliwung dan Krukut.
Di lokasi tersebut, sedimentasi menyebabkan aliran air terhambat sehingga memperlambat aliran menuju laut.
Sebagai langkah lanjutan, Pemprov DKI telah menyetujui pengerukan dalam skala besar untuk mengatasi pendangkalan tersebut. Volume pengerukan yang disiapkan mencapai ratusan ribu meter kubik.
"Dengan demikian saya sudah menyetujui kurang lebih 178.000 kubik yang mudah-mudahan akan diselesaikan dalam satu tahun ini dikeruk, supaya air dari Pluit maupun dari Ciliwung bisa turun ke laut," ucapnya. (Asp).

