MERAHPUTIH.COM — SELUSIN pria bergegas mengangkat peti mati keluar dari sebuah kamar jenazah di Turkiye Tenggara. Namun, peti itu tidaklah berat. Di dalamnya terbaring anak laki-laki berusia 10 tahun. Di belakang peti itu, sang ayah berjalan tertatih, disangga kerabat di kedua sisi tubuhnya.
“Oh, anakku, anakku sayang, ia gugur,” ratapnya.
Sang anak, yang kini terbaring kaku dalam peti jenazah, ialah satu dari delapan anak yang tewas ditembak pada Rabu (15/4) di Kota Kahramanmaras. Pelaku penembakan ialah sesama siswa berusia 14 tahun. Ia juga membunuh seorang guru. Kota yang secara tradisional terkenal dengan es krimnya ini kini memiliki reputasi baru yang mengerikan: menjadi lokasi penembakan massal pertama yang mematikan di sekolah di Turki.
Penembakan di Sekolah, Horor Baru bagi Warga
Serangan itu terjadi hanya sehari setelah seorang mantan siswa berjalan di lorong sekolah lain di wilayah yang sama, menembak secara acak. Ia melukai 16 orang, tetapi hanya menewaskan dirinya sendiri.
“Ada dua serangan dalam waktu yang sangat singkat, keduanya terjadi di kota dengan tingkat pendapatan lebih rendah. Hal seperti ini bisa menyebar,” kata Prof Asli Carkoglu, pakar psikologi remaja, dikutip BBC.
Ia khawatir penembakan mematikan ini bisa menjadi contoh bagi pikiran muda yang cukup frustrasi. Serangan ini merupakan tragedi, tetapi bukan kejutan bagi orang-orang seperti dirinya yang bekerja dengan remaja dan dewasa muda. “Sudah ada penusukan, pemukulan, dan percobaan bunuh diri dalam sistem sekolah. Senjata api mungkin belum ada sebelumnya, tetapi kekerasannya sudah ada,” ujarnya.
Baca juga:
Remaja Lepaskan Tembakan di Sekolah Turkiye, Melukai 16 Orang
Pemerintah Bertindak Cepat, Cegah Kekerasan Berulang
Saat pemakaman para korban, kerabat, tetangga, dan petugas darurat berkumpul kala peti-peti mati dibawa keluar satu per satu. Setiap peti dibalut bendera Turki. Seorang perempuan berteriak marah ke arah barisan polisi yang berjaga. “Terlambat, terlambat. Kalian tidak menyelamatkan anak-anak,” katanya menegur. Perempuan lain berteriak bahwa pelaku seharusnya digantung di alun-alun utama, tetapi ia sudah tewas, ditembak di lokasi kejadian.
Di hari itu, di luar masjid utama, seorang ibu menangis, membungkuk untuk membelai peti jenazah putrinya, Zeynep. Dari rumah keluarga, di dekat Sekolah Menengah Ayser Calik, ia mendengar suara tembakan yang merenggut nyawa anaknya yang berusia 10 tahun. Bukan hanya dirinya yang terkaget, tembakan itu mengguncang seluruh Turki.
Kerabat mengatakan Zeynep ialah anak yang cerdas dan sopan. “Ia menjadi malaikat dan terbang pergi. Satu-satunya harapan saya yakni adanya keamanan lebih di sekolah, agar ini tidak terjadi lagi. Rasa sakit ini menimpa kami. Saya tidak ingin hal ini menimpa orang lain,” kata Mahmut, pamannya dengan suara bergetar.
Seiring dengan berjalannya penyelidikan, lebih banyak detail tentang pelaku penembakan di Kota Kahramanmaras mulai terungkap. Otoritas menyebut pelaku merujuk di media sosial pada penembak asal Amerika, Elliot Rodgers, yang menewaskan enam mahasiswa di California pada 2014. Mereka juga mengatakan sebuah catatan di komputernya, bertanggal 11 April, menunjukkan akan ada serangan besar dalam waktu dekat.
Ia tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan senjata. Pelaku mengambil senjata milik ayahnya, seorang mantan polisi yang kini juga ditangkap. Menurut laporan media lokal, ayahnya telah memberikan keterangan kepada pihak berwenang, menggambarkan anaknya sebagai remaja cerdas, tapi bermasalah, yang menghabiskan banyak waktu bermain gim perang di komputer dan menjalani konsultasi dengan psikolog.
Penembakan massal di sekolah sudah menjadi horor trauma baru bagi Turki. Otoritas berusaha menenangkan publik dan mengendalikan narasi. Sekitar 150 orang telah ditahan terkait dengan unggahan media sosial tentang pembunuhan ini, dengan tuduhan menyebarkan informasi salah atau mengglorifikasi kejahatan dan pelaku kejahatan. Lebih dari 1.000 akun media sosial dan grup Telegram telah diblokir.
Tidak ada bukti adanya hubungan antardua serangan minggu ini. Polisi menyatakan temuan awal menunjukkan pelaku di Kahramanmaras bertindak sendirian dan tidak terkait dengan organisasi teroris mana pun.
Sementara itu, di gerbang sekolah yang kini terkunci dan dijaga polisi, para guru meletakkan bunga untuk mengenang anak-anak yang tewas di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.(*)
Baca juga:
Korban Tewas Penembakan Pelajar Turkiye 9 Orang, Ayah Pelaku Mantan Polisi