MerahPutih.com - Gerakan pemusnahan ikan sapu-sapu kian marak dilakukan Pemerintah Kota Jakarta. Aktivis lingkungan Arief Komarudin aktif membagikan kegiatan perburuan ikan sapu-sapu di aliran Kali Ciliwung.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif berbahaya karena sifatnya yang omnivora. Populasi yang tidak terkendali dapat merusak ekosistem air tawar, mengurangi populasi ikan asli, hingga merusak tanggul sungai akibat lubang-lubang tempat bertelur. Dalam satu lubang, ikan ini bisa menyimpan ratusan telur.
Baca juga:
Fakta Unik Ikan Sapu-Sapu yang Jadi ‘Musuh’ Ekosistem Kali di Jakarta, Bisa Bertahan tanpa Air Loh
Penelitian menunjukkan beberapa jenis ikan sapu-sapu ditemukan di Indonesia, di antaranya Pterygoplichthys disjunctivus, Pterygoplichthys gibbiceps, Pterygoplichthys anisitsi, Pterygoplichthys multiradiatus, dan Pterygoplichthys pardalis.
Metode Pemusnahan
Jumlah ikan yang sangat banyak membuat pengendalian menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemusnahan dinilai sebagai langkah efektif untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem. Berikut beberapa metode yang dilakukan antara lain:
Pengeringan saluran atau sungai
Air dibendung dan dikuras, ikan dipanen lalu dimusnahkan. Fokus penangkapan pada ikan berukuran kecil (<30 cm) untuk menekan reproduksi.
Pemotongan
Ikan sapu-sapu mampu bertahan hingga 13 jam di daratan, bahkan dalam kondisi beku. Karena itu, pemusnahan dilakukan dengan memotong atau memisahkan bagian kepala agar benar-benar mati.
Pembakaran
Untuk menghindari bau bangkai, ikan yang telah dimusnahkan biasanya dibakar hingga habis.
Baca juga:
68.800 Ikan Sapu-Sapu Ditangkap dalam Sehari di Jakarta, Terbanyak di Jaksel
Dengan daya tahan hidup yang luar biasa, metode pemusnahan ini dianggap paling efektif untuk menekan populasi ikan sapu-sapu yang membludak.