Teguh Karya Kritik Film Indonesia Tak Berangkat Dari Realitas!
Teguh Karya duduk di halaman markas Teater Populer, Kebon Pala, Jakarta Pusat. (Ali Said, Tempo)
TEGUH Karya jatuh hati pada film-film karya Usmar Ismail. Bukan karena sang sutradara merupakan gurunya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), tetapi hasil kerja sinematografi sang guru sangat realis dan mengangkat realitas.
“Saya berniat kalau bikin film ingin ungkapkan realitas,” ungkap Teguh Karya, dimuat Kompas, 24 Oktober 1993.
Teguh merasa film-film di tahun 1970-an sangat prematur dan jauh dari cerita realita hidup sehari-hari. Film-film itu pun, lanjut Teguh Karya, menjadi prematur dan elementer sehingga tak pernah ada keutuhan sebuah pribadi.
Dia sengit ketika melihat film-film Hollywood tak berangkat dari realitas. “Film-film Hollywood saya enggak begitu suka, karena banyak gagasannya membohongi saya. Saya enggak percaya ada orang rambutnya tak pernah kena angin, misalnya,” kata Teguh.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Teguh tergelitik untuk membuat film-film dengan kecermatan menangkap realitas. “Saya punya idealisme yang tetap, tapi kaki tetap saya pijakan pada realitas serta bertahan jangan sampai terseret arus,” ungkap Teguh Karya pada Nano Riantiarno, Teguh Karya & Teater Populer; 1968-1993.
Dari seluruh film, seperti film ngepop pada Cinta Pertama atau Badai Pasti Berlalu, maupun film idealis seperti Ibunda, Secangkir Kopi Pahit, maupun Doea Tanda Mata, Teguh senantiasa berusaha mengangkat realitas hidup dan membuat tokoh-tokoh begitu dekat dengan permasalahan keseharian orang banyak.
Dia menggali realitas itu dengan cara mengenali lingkungan sekitar. “saya mencoba mengenali lingkungan saya dengan baik, mencoba menggali dan menemukan realitas sebanyak-banyaknya,” ungkapnya.
Teguh mengkritisi kemunduran produksi film Indonesia pada tahun 1990-an, baik segi kuantitas dan kualitas, karena tidak mampu mendekatkan persoalan hidup masyarakat.
“Kalau film Indonesia dekat dengan masyarakatnya, tidak akan kita mengalami kemelorotan seperti sekarang,” kata Teguh. “Kini kita tak dekat dengan persoalan masyarakat. Mereka (sineas) bukan tak tak tahu atau tak mau dekat, melainkan karena tak yakin bahwa film yang dekat dengan masyarakat akan menjadi milik masyarakat”. (*)
Simak artikel terkait Teguh Karya:
SEJARAH HARI INI: Sineas Kawakan Teguh Karya Lahir
Diskusi "Setelah Teguh Karya", Peringati 80 Tahun Lahirnya Sutradara Teguh Karya
Bagikan
Yudi Anugrah Nugroho
Berita Terkait
Film '100 Juta Pertama' Segera Tayang, Angkat FOMO dan Krisis Finansial Anak Muda
Mawar Eva de Jongh dan Deva Mahenra Beradu Emosi di Series 'Luka, Makan, Cinta'
Netflix Rilis Film Coming of Age 'Surat untuk Masa Mudaku', Tayang 29 Januari 2026
Film 'Aku Sebelum Aku' Siap Tayang di Netflix, Kolaborasi Gina S Noer dan Ringgo Agus Rahman
Sinopsis Night Shift for Cuties, Debut Sutrada Monica Vanesa Tedja di Proyek Netflix
Intip Sederet Aktor Kawakan yang Turut Memeriahkan Film Terbaru Joko Anwar 'Ghost in Cell'
Joko Anwar Hadirkan Trailer Film 'Ghost in Cell', Satir Penjara Berbalut Horor-Komedi
Deretan Film Horor Lokal Siap Teror Bioskop Akhir Januari 2026, Catat Jadwalnya!
Film 'Sadali' Tampilkan Dilema Cinta Jarak Jauh, Adinia Wirasti Comeback ke Layar Lebar
Monster Pabrik Rambut Tayang Perdana di Berlin Film Festival, Intip Sinopsisnya